Oleh IK Budiasa
Karena Dharma-Nya, sifat alaminya, atau dalam filsafat Stoik disebut “Arete”-Nya, Tuhan mencipta. Dharma api adalah membakar. Dharma air adalah membasah. Demikianlah Dharma Tuhan mencipta.
Dalam kitab Padma Purana, disebutkan ada 8,4 juta jenis kehidupan, dari yang paling sederhana sampai yang lebih sempurna, yaitu kita, manusia. Jadi kita sudah melalui jutaan kelahiran untuk tiba pada kesadaran kita saat ini.
Seperti tersirat dalam dasa awatara, yang pertama adalah Matsya, mahluk di air, kemudian Kurma, mahluk dua dunia (darat dan air), Waraha (binatang hutan), Narasimha (setengah hewan - setengah manusia), Vamana (manusia belum sempurna), Parasurama (mulai bewujud manusia sempurna), Rama (manusia bijak dengan lingkungan raksasa dan kera), Shri Krisna (manusia tercerahkan dengan lingkungan manusia), dan seterusnya. Artinya, kita semua bergerak dari kesadaran primitif menuju kesadaran yang lebih sempurna.
Karena ini adalah perjalanan kesadaran, mari nikmati dengan riang gembira. Mari belajar melihat semua mahluk yang sedang melakukan perjalanan yang sama di tangga kesadaran masing - masing dengan penuh cinta. Itulah mungkin yang dimaksud Prof Sutantra: “produk agama dalah Tri Kaya Parisudha” (pikiran, perkataan dan perbuatan yang suci).
Dengan menjadi Hindu, semoga kita menjadi mahluk merdeka. Karena Tuhan, Hyang Widhi, Gusti, Hyang Murbeng Jagat, tidak memberi kita privilege tetapi juga tidak menuntut ketundukan total sembari meniadakan yang lain. Ia menerima setiap orang sesuai usaha dan jalannya masing-masing.
Ada yang mencapai Dia melalui jalan kerja (karma marga), ada yang menuju Dia melalui jalan cinta (bhakti marga), ada yang menggapai Dia melalui pengetahuan (jnana marga), dan ada yang mencari dia melalui disiplin spiritual (raja marga). “Jalan manapun yang engkau tempuh, akan sampai kepadaKu”, sabdaNya.
Dengan keyakinan seperti itu, kita tidak menghakimi jalan orang lain. Seorang pekerja seni mencapai Tuhan melalui musik dan tarian yang diciptakannya dengan penuh dedikasi. Seorang rsi mencapai Tuhan melalui samadhi. Bahkan Shabari mencapai Tuhan melalui perasaan cinta yang tak bertepi.
Melalui kesadaran Dharma, kita memiliki aneka rupa ekspresi ritual sesuai budaya dan tradisi yang semuanya dibenarkan tergantung dari kualitas jnana dan bhakti masing-masing. Dengan berpegang pada Dharma, kita bisa memiliki keduanya: agama dan budaya/tradisi.
Agama adalah ajaran suci yang memberi kita pemahaman dan menuntun kita menuju Dia Yang Maha Suci, budaya dan tradisi adalah ekspresi cinta atau bhakti kepada Dia sesuai warisan leluhur kita. Kita bisa memiliki keduanya bahkan saling memperkuat.
Dengan agama kita memiliki kebenaran dan kasih universal. Dengan tradisi kita memujaNya melalui budaya peninggalan leluhur yang bersifat lokal. Indahnya, di Hindu keduanya akur dan saling menyuburkan.
Selamat kembali ke rumah Dharma, jiwa-jiwa suci. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, lebih welas asih, lebih bahagia dan lebih merdeka.
Kepada puluhan Dharmika yang menemukan jalan Dharma melalui proses perjalanan spiritual bukan karena pernikahan atau pacaran izinkan saya menunduk hormat. Njenengan adalah jiwa-jiwa yang luar biasa.
Dari Pura Kenjeran - Surabaya 19-20 September 2026 Program Pembinaan Dharmika Se-Jawa Timur Kerjasama PHDI Pusat dan PHDI Provinsi Jawa Timur
*) IK Budiasa, Sekum PHDI