Oleh Krisna Andika
Semangat Juang 1945 kembali digaungkan di ruang kelas. LVRI Pusat resmi menutup rangkaian Sosialisasi Jiwa Semangat Nilai-Nilai 45 / JSN 45 untuk guru SMA/SMK se-Bali di Kuta, Jumat (5/9/2025).
Kegiatan ini menjadi penegas bahwa estafet nilai kebangsaan tidak boleh putus di meja guru. Dari sinilah, menurut para sesepuh, benih cinta tanah air disemai kepada generasi penerus.
“Cinta tanah air tanpa ilmu, sia-sia. Ilmu tanpa cinta tanah air, berbahaya,” tegas Wakil Ketua II LVRI Pusat, Masekal Madya Resmi Wiro saat memberikan sambutan penutupan.
Menurutnya, guru hari ini memikul dua peran sekaligus. Pertama sebagai penjaga semangat Merah Putih. Kedua sebagai penebar ilmu yang mencerdaskan. Dua hal itu, lanjutnya, adalah "Dwi Warna" yang tidak boleh dipisahkan jika ingin melahirkan Purwa Cendikia, yakni generasi pelopor yang bijaksana.
Puputan Margarana, Teladan JSN 45
Pada kesempatan itu Ketua DPD LVRI Provinsi Bali, I Gusti Bagus Saputra, SH juga memberikan pesan. Ia mengingatkan bahwa Peristiwa Puputan Margarana adalah contoh nyata penerapan JSN 45.
“Puputan Margarana adalah bukti nyata jiwa semangat nilai-nilai 45. Para pejuang memilih gugur demi kehormatan bangsa daripada menyerah. Nilai itulah yang harus kita wariskan kepada anak didik kita hari ini melalui sikap jujur, disiplin, dan rela berkorban,” ujarnya.
Sosialisasi JSN 45 digelar selama 6 hari dan menyasar guru dari seluruh kabupaten/kota di Bali. Materinya tidak hanya sejarah perjuangan, tetapi juga cara menanamkan nilai-nilai 1945 dalam pembelajaran sehari-hari agar relevan dengan tantangan zaman.
Dukungan penuh datang dari Ketua DHD Angkatan '45 Bali, Bagus Ngurah Rai, yang didampingi Wakil Ketua DHD 45 Bali, Dr. Drs. Putra Wijaya, M.Si.
“Kami titipkan tugas besar ini kepada Bapak Ibu guru. Anak-anak kita butuh teladan. Butuh cerita dari para pejuang yang dibungkus dengan cara mengajar yang cerdas,” ujar Bagus Ngurah Rai.
Dr. Putra Wijaya menambahkan, JSN 45 adalah ikhtiar agar nilai juang tidak hanya jadi hafalan tanggal dan nama pahlawan. “Harus jadi sikap. Jujur di kelas, disiplin, kerja keras. Itu juga bentuk membela negara,” katanya.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan tanda penghargaan dan sertifikat kepada para peserta. Bagi para guru, menjadi pendidik hari ini berarti melanjutkan barisan perjuangan dengan cara berbeda: melalui papan tulis, bukan senjata.
Dengan berakhirnya sosialisasi JSN 45 LVRI Bali, berharap lahir guru-guru yang menjadi "Purwa Cendikia" di sekolahnya masing-masing. Guru yang berani memulai, berilmu, dan hatinya tetap Merah Putih.
*) Krisna Andika, Sekretaris GNPP Provinsi Bali