Denpasar (Atnews) - Banjir bandang terdahsyat di Nepal terjadi pada tanggal 26 Agustus 2026 telah menjadi perhatian dunia.
Bencana tersebut dipicu oleh runtuhnya gletser di Gunung Langtang Lirung pada ketinggian sekitar 5.200 meter di dekat perbatasan Nepal-Tibet (China).
Retakan gletser tersebut menyebabkan longsoran es, batu, lumpur, dan puing-puing raksasa yang menyapu kawasan permukiman di sepanjang aliran Sungai Trishuli.
Selain bencana terbaru di tahun 2026, Nepal juga pernah mengalami peristiwa banjir mematikan.
Banjir besar akibat curah hujan ekstrem tertinggi sejak tahun 1970 melanda Lembah Kathmandu dan menewaskan ratusan orang pada pada tanggal 27–28 September 2024.
Termasuk Banjir meluas yang merendam 35 distrik di Nepal dan berdampak pada jutaan warga pada Tahun 2017.
Untuk itu, Tokoh vokal Independen dan Pemerhati Kehidupan Dr. Wayan Sayoga mengatakan, banjir bandang dan longsor yang berdampak pada jalur turis serta ziarah.
"Pagi itu para turis yang datang dari berbagai negara sudah berkumpul untuk melanjutkan perjalanan. Semua sudah pada selesai makan pagi. Tanpa ada sedikitpun pertanda alam banjir bandang dengan kecepatan tinggi disertai dengan beragam material berat, tiba tiba menghantam area turis dan beberapa pemukiman warga," kata Sayoga di Denpasar, Sabtu (5/9).
Gelombang banjir berupa lumpur pekat yang sangat hebat tersebut tidak membutuhkan waktu lama untuk menghancurkan jembatan, pemukiman dan fasilitas pariwisata. Ribuan korban jiwa melayang dan banyak lagi yang belum ditemukan.
Hal yang sangat mencengangkan adalah waktu yang dibutuhkan untuk meluluh lantakkan wilayah tersebut sangat cepat. Hanya dalam 30 detik, lalu rata. Hanya satu dua bangunan yang masih terlihat. Selebihnya, sejauh mata memandang semuanya rata tanah.
Adakah tragedi menggemparkan dan memilukan sebesar ini semata - mata karena fenomena alam?
Global warming sudah puluhan tahun menghantam bumi, akan tetapi belum pernah mengirim banjir sedemikian mematikan seperti yang terjadi kali ini.
Sesungguhnya sudah sekian lama para ahli mengingatkan betapa berbahayanya pembangunan yang begitu masif yang berlangsung di seputar lereng pegunungan Himalaya.
Pembangunan jalan, hotel restauran, hingga Hydro Power yang harus mengebor sekian titik lereng yang dapat mengancam ekosistem di wilayah sekitar.
Namun peringatan para ahli berlalu begitu saja tanpa ada respon dari pemerintah setempat.
Tragedi lingkungan dan kemanusiaan dengan beragam level sudah pernah terjadi di belahan negara lain. Namun peristiwa serupa tetap berulang dan berulang kembali yang menyisakan trauma begitu berat.
"Meski demikian, kenyataannya adalah bahwa keserakahan manusia tidak kunjung surut. Keangkuhan dan keserakahan telah menguasai sehingga kepekaan dan kesadaran manusia menjadi tumpul. Sering kali sebetulnya alam sudah membisiki telinga kita, namun kita tidak mampu mendengarkan," ungkapnya.
Pembangunan yang tidak cerdas dan tidak sesuai kebutuhan akan menghasilkan bencana dan penderitaan.
Kondisi lingkungan di Bali tidak kalah memprihatinkan. Dimana mana asal punya uang orang bisa melakukan apa saja. Membangun segala macam hal dengan tidak cerdas dan tidak sesuai dengan kebutuhan Bali.
Sebagaimana banjir bandang besar yang melanda Bali pada 10 September 2025 dipicu oleh curah hujan ekstrem mencapai 390 mm/hari akibat dinamika atmosfer dan bibit siklon tropis, serta diperparah oleh pasang laut maksimum di perairan Benoa.
Laut, hutan, sawah, lembah, bukit, pantai dan lain sebagainya mendapat perlakuan yang sulit dinalar. Bukit - bukit dikeruk untuk kepentingan proyek khusus yang sampai sekarang mangkrak. Bahkan ada bukit - bukit yang harus dibelah demi melancarkan usaha usaha yang mendatangkan cuan dengan cepat.
"Suatu saat jika terjadi tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai lebih dari lima meter saja maka air laut tanpa ampun akan ambyar menerjang setiap perkampungan, pemukiman dan fasilitas lainnya. Semoga saja mimpi buruk tersebut tidak terjadi," imbuhnya.
Selain itu, penambangan galian C bodong di sejumlah daerah di Bali, khususnya Karangasem tidak ditertibkan oleh aparat dan pemerintah setempat.
Tragedi Nepal sepatutnya memberikan hikmah dan pemahaman baru bagi semua, sehingga dimanapun kita berada hendaknya memperlakukan alam dengan semangat saling menjaga dan merawat tentunya.
"Betapapun hebatnya manusia, dia tidak bisa hidup tanpa dukungan alam. Harus disadari alam senantiasa memberi dan memberikan segala yang kita butuhkan. Meski demikian kita tidak pantas memperlakukan alam secara ugal - ugalan," ungkapnya.
Diperlukan mulat sarira. Akan tetapi hal yang jauh lebih penting adalah jangan mengulangi lagi perbuatan semena - mena pada alam. "Seiring itu mari perbaiki kualitas lingkungan agar bumi menjadi tempat yang indah, damai dan membahagiakan untuk kita huni bersama. Rahayu," pungkasnya. (GAB/002)