Oleh Krisna Andika
Silaturahmi di Monumen Bangsal juga Mengenang Peristiwa 16 Agustus 1945, "Rengasdengklok-nya Bali"
Merah Putih kembali dibentangkan. Kali ini sepanjang 50 hingga 300 meter oleh ribuan warga di berbagai penjuru Bali.
Sejak 2015, Gugus Kebangsaan Provinsi Bali tercatat sudah menggelar pembentangan dan pengarakan bendera di lebih dari 500 titik. Uniknya, lokasi bukan hanya sekolah dan lapangan.
"Bendera raksasa ini pernah kami bentang di puncak gunung, bibir pantai, tepi danau, pinggir sungai, sampai halaman tempat ibadah," ujar Koordinator Gugus Kebangsaan Provinsi Bali yang juga Ketua DPD Angkatan ’45 Provinsi Bali.
Hal itu disampaikannya saat acara silaturahmi di Monumen Perjuangan Bangsal, Gianyar, Rabu (27/8/2026).
Lintas Generasi dan Organisasi
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh. Antara lain Ketua DHC Angkatan ’45 Gianyar IGN Dharmawangsa, Koordinator IKAMENWA Seroja Timor Timur Provinsi Bali Kusumawati Sunantra, Pengurus PERIP Bali, dan Ketua Korps Menwa Indonesia Bali Krisna Gunarta.
Pesertanya juga beragam. Mulai dari anak TK, pelajar, mahasiswa, pemuda, hingga para lansia ikut memegang ujung kain Merah Putih.
"Ini pendidikan kebangsaan yang hidup. Cinta Tanah Air tidak mengenal usia dan tempat," tegasnya.
Ingat Sejarah: 16 Agustus 1945 di Rumah Loteng Bangsal
Dalam kesempatan itu, para peserta juga diajak mengingat sejarah. Tepatnya Peristiwa 16 Agustus 1945 di Rumah Loteng Bangsal.
Rumah itu menjadi lokasi puncak pertemuan rahasia gerakan bawah tanah kemerdekaan RI di Bali. Peristiwa ini tercatat sebagai peristiwa ke-7 dari 49 peristiwa perjuangan di Bali periode 1942-1949 dalam buku Bali Berjuang.
"Ibarat Rengasdengklok di Jawa, Bangsal adalah saksi bisu keberanian arek-arek Bali. Banyak tokoh dan peristiwa besar yang nyaris terlupakan. Melalui pembentangan bendera ini, kita merawat ingatan itu," ujarnya.
Diketahui, jauh sebelum 2015, tradisi serupa sudah dirintis Menwa Ugrasena dengan mengarak bendera dari kampus ke kampus dan monumen ke monumen pada periode 1964-2014.
Merawat Sejarah, Menjaga Persatuan
Bagi Gugus Kebangsaan, pembentangan bendera bukan sekadar seremoni. Di gunung ia simbol kedaulatan. Di pantai dan danau pengingat laut sebagai urat nadi Nusantara. Di sungai ajakan menjaga alam. Di tempat ibadah penegasan bahwa kebangsaan dan spiritualitas berjalan beriringan.
"Menjaga bendera berarti menjaga sejarah. Menjaga sejarah berarti menjaga Indonesia," tutupnya.
*) Krisna Andika, Sekretaris GNPP Provinsi Bali