Perjuangan Panjang Menembus Puncak Akademik: Prof. Sri Rwa Jayantini Ungkap Resep Ketekunan hingga Visi Indonesia Emas 2045
Perjuangan Panjang Menembus Puncak Akademik: Prof. Sri Rwa Jayantini Ungkap Resep Ketekunan hingga Visi Indonesia Emas 2045
Admin 2 -
atnews
2026-08-26
Bagikan :
Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, S.S., M.Hum (ist/atnews)
Denpasar (Atnews ) - Menjadi seorang guru besar bukanlah perjalanan yang instan, melainkan hasil dari ketekunan dan kesabaran yang dibangun bertahun-tahun. Semangat inilah yang dipegang teguh oleh Guru Besar Fakultas Bahasa Asing Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Prof. Dr. I Gusti Agung Sri Rwa Jayantini, S.S., M.Hum.
Perempuan kelahiran Denpasar, 15 Januari 1977, yang kini menjabat sebagai Wakil Rektor III Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama Unmas Denpasar tersebut membagikan rekam jejaknya dalam meniti karier akademik.
Setelah menyelesaikan S1 Sastra Inggris (2000), S2 Linguistik (2010), dan studi S3 Linguistik (Penerjemahan) di Universitas Udayana pada 2017, Ia menyadari bahwa tantangan akademik yang sesungguhnya baru saja dimulai melalui pengabdian Tri Dharma Perguruan Tinggi.
"Bagi saya, dua kata yang paling tepat untuk menggambarkan perjalanan ini adalah ketekunan dan kesabaran. Perjalanan akademik bukan tentang siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang mampu terus berjalan dan tidak mudah menyerah. Profesor bukan sekadar gelar, tetapi hasil dari proses panjang yang dibangun sedikit demi sedikit," ujar Prof. Sri Rwa Jayantini.
Sebelum memantapkan diri sebagai akademisi, sosok yang aktif di berbagai organisasi seperti Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI), Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI), hingga menjabat Wakil Sekretaris HISKI Komisariat Bali ini sempat menempa jiwa kepemimpinannya di dunia retail sebagai supervisor. Namun, darah pendidik yang mengalir dari kedua orang tuanya membawa alumni Udayana ini kembali ke dunia pendidikan.
"Jiwa pendidik saya warisi dari orang tua. Dari merekalah saya belajar bahwa menjadi pendidik bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga berbagi, membimbing, dan memberi manfaat. Menjadi dosen membuat saya tidak pernah merasa selesai belajar, baik dari buku, penelitian, mahasiswa, maupun masyarakat," ungkapnya.
Menghadapi pergeseran minat anak muda yang kini lebih cenderung memilih pendidikan vokasional, akademisi terindeks Scopus dan SINTA ini menilai hal tersebut sebagai dinamika positif. Namun, ia menekankan agar pendidikan akademik dan vokasi tidak dipertentangkan. Menurutnya, perguruan tinggi idealnya mampu melahirkan lulusan yang tidak hanya tahu teori, tetapi juga kompeten secara praktik dan memiliki daya tawar yang layak di dunia kerja.
Kesiapan SDM ini juga menjadi fondasi penting dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. Prof. Sri Rwa Jayantini menegaskan bahwa peran dosen sangat vital untuk membentuk generasi yang seimbang antara hard skill dan soft skill, serta memiliki integritas tinggi.
"Daya saing bangsa tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang pintar, tetapi oleh mereka yang mau terus belajar, bekerja keras, memegang prinsip, dan tidak mudah menyerah. Di situlah peran dosen, ikut menyalakan semangat dan menyiapkan generasi yang kelak bukan hanya menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045, tetapi juga ikut mewujudkannya," tegasnya. (SUK/002)