Oleh Krisna Andika
Nama Adalah Janji. Dan Janji Itu Harus Dijaga Angkatan 45
Di tengah riuh peringatan kemerdekaan, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita renungkan: Dari mana asal nama “Indonesia”?
Dan mengapa hari ini kita juga kembali menyebut “Nusantara”?
Tim Redaksi API 45 menelusuri jejak itu ke Perpustakaan Monumen Perjuangan Bangsal - MPB, Denpasar. Dari tumpukan naskah, kitab, dan arsip sejarah, terbentang perjalanan panjang sebuah nama. Nama yang hari ini kita bela dengan darah dan keringat.
Nusantara: Cita-cita Persatuan Sejak Majapahit
Kata “Nusantara” pertama kali kita temukan tertulis dalam Kitab Negarakertagama, karya Mpu Prapanca, 1365 M.
Dalam Pupuh 13-14 diceritakan wilayah kekuasaan Majapahit yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.
“Nusa” berarti pulau. “Antara” berarti luar.
Bagi Gajah Mada, Nusantara bukan sekadar peta. Itu sumpah. Sumpah Palapa: tidak akan menikmati palapa sebelum menyatukan Nusantara.
Menurut catatan Perpus MPB, saat itu Nusantara masih bermakna “wilayah taklukkan”. Tapi jiwanya sudah satu: persatuan.
“Gajah Mada sudah bermimpi 700 tahun lalu. Kita hari ini tinggal melanjutkan,” ujar pengelola Perpus MPB kepada Tim API 45.
Indonesia: Nama Perlawanan Para Pemuda
Masuk abad 19, penjajah Belanda menyebut kita Nederlandsch-Indië, Hindia Belanda. Nama itu dingin, administratif, tanpa ruh.
Tahun 1850, dua ilmuwan Inggris, George Earl dan James Logan, menulis kata “Indunesia” di jurnal etnologi. Artinya: kepulauan India.
Tahun 1884, Adolf Bastian dari Jerman mempopulerkan “Indonesien”.
Tapi yang membuat kata itu hidup adalah para pemuda.
Tahun 1922, Perhimpunan Indonesia* di Belanda sengaja mengganti “Indische Vereeniging” menjadi “Indonesia”. Mereka menolak nama pemberian penjajah.
Puncaknya 28 Oktober 1928. Tiga butir Sumpah Pemuda. Poin ketiga: “Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”.
Di sinilah “Indonesia” bertransformasi. Dari istilah geografis, menjadi identitas politik dan kebangsaan.
17 Agustus 1945: Nama Itu Menjadi Negara
Ketika Bung Karno dan Bung Hatta membacakan Proklamasi, mereka tidak menyebut “Hindia”. Mereka menyebut “Bangsa Indonesia”.
Sejak itu, Negara Kesatuan Republik Indonesia lahir. Nama itu disahkan dengan darah para pejuang, termasuk Angkatan 45. Generasi yang tidak sempat sekolah tinggi, tapi sekolahnya adalah medan perang.
Nusantara Kembali: 2022
Lingkaran sejarah berputar. Tahun 2022, pemerintah menetapkan Nusantara sebagai nama Ibu Kota Negara baru di Kalimantan Timur.
Bukan untuk mengganti “Indonesia”. Tapi untuk mengingatkan.
Mengingatkan pada cita-cita awal: menyatukan seluruh pulau, membangun pusat pemerintahan yang bukan lagi Jawa-sentris.
Kini kita punya dua kata kunci:
Indonesia = Nama negara, hasil perjuangan 1945
Nusantara= Visi peradaban, warisan 1365
Catatan Untuk Angkatan 45 dan Generasi Berikutnya
Bagi DHD Angkatan 45 Provinsi Bali, sejarah nama ini bukan pelajaran di buku. Ini amanah.
Dulu para pendahulu berjuang agar kata “Indonesia” diakui dunia.
Hari ini tugas kita memastikan kata itu tetap bermakna: adil, berdaulat, bersatu.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi generasi baru Indonesia, agar mereka tahu dari mana asal nama yang mereka sandang. Agar tidak lupa bahwa kemerdekaan ini mahal harganya.
"Indonesia bukan sekadar nama di peta. Indonesia adalah rumah. Dan rumah harus kita jaga bersama."
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarah namanya sendiri."
Linmas Nama Bangsa
- 1365: Kata “Nusantara” muncul di Negarakertagama, era Majapahit
- 1850 : Istilah “Indunesia” pertama kali di Jurnal Ilmu Pengetahuan Inggris
- 1928 : Sumpah Pemuda mengukuhkan “Bahasa Indonesia”
-1945: “Indonesia” menjadi nama Negara Kesatuan Republik Indonesia
- 2022 : “Nusantara” ditetapkan sebagai Nama Ibu Kota Negara
*) Krisna Andika Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Udayana