Oleh Krisna Andika
Umat Islam di Indonesia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1448 H pada Senin, 25 Agustus 2026. Peringatan hari kelahiran Rasulullah ini menjadi momentum untuk meneladani akhlak, kepemimpinan, dan semangat persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di Bali, peringatan Maulid diisi dengan doa bersama, pengajian, dan kegiatan sosial. Nilai-nilai yang diajarkan Nabi Muhammad 14 abad lalu dinilai masih sangat relevan di tengah tantangan bangsa saat ini.
“Maulid mengingatkan kita bahwa membangun negara harus dimulai dari membangun akhlak. Jujur, adil, peduli sesama, dan mengutamakan musyawarah. Itulah fondasi bangsa yang kuat,” ujar salah satu tokoh agama di Denpasar.
Pesan Kebangsaan dari MPB dan Angkatan 45
Ketua Umum Monumen Perjuangan Bangsal - MPB, dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, SpA(K) bersama Pengurus DHD Angkatan 45 Provinsi Bali, Cabang se-Kabupaten/Kota se-Bali, dan Gugus Kebangsaan Provinsi Bali menyampaikan ucapan selamat.
“Atas nama Monumen Perjuangan Bangsal, DHD Angkatan 45 Provinsi Bali dan seluruh Cabang se-Bali, serta Gugus Kebangsaan Provinsi Bali, kami mengucapkan Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.
Semoga semangat keteladanan Rasulullah dalam kejujuran, kepedulian sosial, dan cinta tanah air dapat kita amalkan. Mari kita jadikan peringatan ini sebagai penguat persatuan, penggerak kepedulian kepada sesama, dan peneguh nilai-nilai kebangsaan untuk Indonesia yang damai dan berkeadilan,” tegas dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Senin 25/8/2026.
Bagi Angkatan 45, semangat perjuangan kemerdekaan memiliki kesamaan dengan ajaran Nabi: berkorban untuk rakyat, membela kebenaran, dan menjaga keutuhan NKRI.
Relevansi Maulid di Era Modern
Sejarawan mencatat Nabi Muhammad tidak hanya pemimpin umat, tetapi juga negarawan. Piagam Madinah yang disusunnya menjadi contoh awal konstitusi yang menjamin toleransi, keadilan, dan hidup berdampingan.
Nilai itu sejalan dengan Pancasila. Di saat bangsa menghadapi bencana, perbedaan, dan dinamika sosial, teladan Nabi menjadi pengingat agar mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan golongan.
Peringatan Maulid 2026 diharapkan tidak berhenti pada seremoni. Tetapi menjadi gerakan nyata: peduli fakir miskin, menjaga toleransi, dan menguatkan persatuan.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga akhlaknya. Mari kita amalkan ajaran Nabi dalam tindakan nyata untuk Indonesia," tutup dr. Bagus.
*) Krisna Andika, Mahasiswa S2 Kajian Budaya Universitas Udayana