Denpasar (Atnews) - Peningkatan produksi pangan, khususnya beras harus senantiasa ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras di Bali baik bagi penduduk lokal dan juga wisatawan (domestik dan mancanegara) dan mengantisipasi dinamika alih fungsi lahan sawah di Bali.
Demikian di sampaikan oleh Gede Sedana yang didampingi oleh Prof. Ir. A.A. Putu Agung Suryawan Wiranatha, M.Sc., Ph.D. selaku Tim Pokja Percepatan Kedaulatan Pangan pada acara Sosialisasi dan Diskusi tentang Dinamika LTT dan Pentingnya Pelaksanaan Pertanian Modern –Advance Agriculture System (PM-AAS) di Provinsi Bali yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) Provinsi Bali pada Selasa, 18 Agustus 2026 di Kantor Distanpangan Bali.
Sosialisasi kegiatan tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali, Dr. drh. I Made Rai Yasa, M.P. dan dihadiri oleh Balai Wilayah Sungai Bali-Penida; Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah III; Badan Pusat Statistik Provinsi Bali; Kelompok Substansi Pengelolaan Penyuluhan Pertanian Provinsi Bali
Tim Kerja Pengeloaan Administrasi Penyuluh dan Kinerja Penyuluhan Pertanian Kabupaten/Kota se-Bali; Koordinator BPP Kecamatan se-Bali; Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali; Pimpinan PT Pupuk Indonesia (Persero) wilayah Bali
Pimpinan Perum BULOG Kantor Wilayah Bali; Dinas Pertanian Kabupaten/Kota se-Bali; Komando Resor Militer (Danrem) 163/Wira Satya Bali; Komandan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Danyonif TP) 928/Brata Sena Yudha; dan Kepala Komando Distrik Militer se-Bali.
Dalam paparannya, Rai Yasa menyampaikan bahwa kondisi yang dihadapi di bali adalah luas lahan sawah atau Lahan Baku Sawah (LBS) yang semakin menurun, sosial-ekonomi petani di Bali (seperti menurunnya generasi muda untuk bertani), ketersediaan pangan (beras) di Bali dalam lima tahun terakhir, kesuburan tanah yang terdegradasi, produktivitas padi yang relatif stagnan dari tahun ke tahun (sekitar 6 ton/ha), dan ancaman El Nino.
Sementara itu, pemerintah memerlukan adanya peningkatan produksi untuk mewujudkan swasembada pangan dan bahkan kedaulatan pangan dan kesejahteraan petani.
Menurutnya, sangat diperlukan adanya peningkatan Luas Tambah Tanam (LTT) dan Indeks Pertanaman (melebihi 2,5), dan produktivitas lahan dan tanaman padi (produktivitas menjadi 10 ton/ha).
Oleh karena itu, penerapan PM-AAS menjadi pilihan yang harus segera dilakukan dikembangkan secara masif di Bali.
Penerapan sistem ini memperkenalkan teknologi yang lebih presisi dan dimulai dari penggunaan benih unggul yang tahan terhadap perubahan iklim, teknik penanaman langsung yang menggunakan seeder, penggunaan pupuk yang lebih tepat, dan pengendalian hama dan penyakit.
Dalam uji coba yang dilakukan dan hasil panen di Kabupaten Jembrana, telah berhasil meuakinkan para petani bahwa produktivitas tanaman padi dengan aplikasi PM-AAS mencapai 10,904 ton/ha berdasarkan pada hasil ubinan yang dilakukan bersama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) Bali, ungkap Rai Yasa.
Capaian ini menjadi bukti bahwa penerapan PM-AAS telah memberikan perbedaan produktivitas secara signifikan, sehingga diharapkan Dinas Pertanian se-Bali bersama-sama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) saling bersinergi untuk pengembangan yang lebih luas.
Diharapkan pemerintah Provinsi Bali memberikan dukungan yang semakin tinggi untuk pengembangan PM-AAS dalam upaya peningkatan produktivitas dan menjamin ketersediaan pangan (beras) dan mewujudkan kedaulatan pangan (beras) Bali disamping produk-produk pangan lainnya.
Gede Sedana yang juga selaku Rektor Dwijendra University mengharapkan adanya sinergitas dan kolaborasi yang semakin kuat antara sektor pendukung program ini, seperti BWS-Bali Penida dalam memberikan dukungan untuk penyediaan air irigasi, melalui perbaikan jaringan irigasi, penyediaan mesin pompa untuk jaringan irigasi air tanah terutama pada kawasan yang mengalami gangguan irigasi.
PT. Pupuk Indonesia diharapkan memberikan kelancaran dalam penyediaan pupuk baik pupuk organik maupun anorganik yang dibutuhkan dalam program PM-AAS, serta bahkan dapat membangun kerjasama dengan kelompok-kelompok masyarakat untuk penyediaan pupuk organik, seperti TPS3R.
Institusi BMKG pun diminta untuk memberikan informasi tentang cuaca dan curah hujan guna mendukung program ini mengingat adanya ancaman El Nino sehingga dapat diantisipasi melalui mitigasi dan adaptasi, imbuhnya.(Z/002)