Universitas Warmadewa Dorong Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemetaan Aktor Desa Sumerta Kelod dalam Pengelolaan Sampah Organik
Banner Bawah

Universitas Warmadewa Dorong Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemetaan Aktor Desa Sumerta Kelod dalam Pengelolaan Sampah Organik

Admin 2 - atnews

2026-08-12
Bagikan :
Dokumentasi dari - Universitas Warmadewa Dorong Penguatan Kapasitas Kelembagaan dan Pemetaan Aktor Desa Sumerta Kelod dalam Pengelolaan Sampah Organik
Program FISIP Universitas Warmadewa Menggelar PKM (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Upaya pengelolaan sampah berbasis sumber terus didorong di tingkat desa sebagai bagian dari penguatan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.

Program Studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Warmadewa melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Sumerta Kelod, Denpasar, dengan mengangkat tema “Penguatan Kebijakan dan Tata Kelola Desa Sumerta Kelod dalam Pengelolaan Sampah Organik melalui Teba Meguna.”

Kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat pemahaman sekaligus kapasitas kelembagaan desa dalam mendorong pengelolaan sampah organik dari sumbernya.
 
Kegiatan yang dilaksanakan pada 12 Juli 2026 tersebut diikuti oleh sekitar 50 peserta, yang berasal dari berbagai unsur masyarakat dan kelembagaan Desa Sumerta Kelod. Peserta terdiri atas perangkat desa, unsur PKK, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN). 

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi penting karena pengelolaan sampah tidak dapat dipandang sebagai tugas satu institusi semata, melainkan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, kelembagaan desa, dan kelompok-kelompok sosial yang berada di dalamnya.
 
Kegiatan dibuka dengan rangkaian acara resmi yang diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dari unsur Program Studi Ilmu Pemerintahan dan Pemerintah Desa Sumerta Kelod.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh dua narasumber yang membawa perspektif berbeda namun saling melengkapi, yakni perspektif teknologi dan praktik pengelolaan sampah serta perspektif kebijakan dan tata kelola pemerintahan desa.
 
Materi pertama disampaikan oleh Ir. Gede Sutapa, M.P., yang memberikan pemahaman mengenai inovasi teknologi pengelolaan sampah berbasis sumber. Ia menjelaskan bahwa penyelesaian persoalan sampah perlu dimulai dari tempat sampah tersebut dihasilkan, terutama melalui pemilahan dan pengolahan sampah organik.

Pendekatan ini memungkinkan sampah yang masih memiliki nilai guna untuk tidak langsung berakhir pada sistem pengangkutan dan pembuangan, tetapi terlebih dahulu diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
 
Dalam pemaparannya, Gede Sutapa juga memperkenalkan praktik baik pengelolaan sampah yang dilakukan melalui TPS 3R Universitas Warmadewa. Praktik tersebut memberikan gambaran konkret mengenai bagaimana pengelolaan sampah dapat dilakukan melalui tahapan pemilahan, penguraian, pengolahan, dan pemanfaatan kembali material organik.

Contoh tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi masyarakat Desa Sumerta Kelod dalam melihat bahwa pengelolaan sampah berbasis sumber bukan semata-mata konsep normatif, melainkan dapat diterapkan melalui teknologi dan mekanisme yang relatif sederhana sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
 
Perspektif teknis tersebut kemudian dilengkapi dengan materi kedua yang disampaikan oleh I Putu Hadi Pradnyana, S.IP., M.Si. Materi diarahkan pada aspek penguatan kebijakan dan tata kelola desa dalam pengelolaan sampah organik.

Menurutnya, keberhasilan Teba Meguna tidak hanya ditentukan oleh kemampuan masyarakat dalam mengolah sampah, tetapi juga oleh sejauh mana pemerintah desa mampu membangun sistem kelembagaan yang mendukung penerapannya secara konsisten dan berkelanjutan.
 
Dalam konteks tersebut, penguatan tata kelola Teba Meguna dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, antara lain memperjelas peran Pemerintah Desa, melakukan pemetaan aktor, membangun koordinasi dengan Desa Adat dan unsur masyarakat, serta menyusun mekanisme kebijakan dan pengawasan di tingkat lokal.

Pemetaan aktor menjadi penting karena persoalan sampah melibatkan berbagai pihak dengan kepentingan dan kapasitas yang berbeda. Pemerintah desa tidak dapat bekerja sendiri, melainkan perlu membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan perangkat desa, masyarakat, PKK, BPD, Desa Adat, kelompok pemuda, mahasiswa KKN, hingga pihak-pihak lain yang relevan.
 
Penguatan kebijakan juga diarahkan agar Teba Meguna tidak berhenti sebagai sebuah program atau praktik individual di rumah tangga, tetapi berkembang menjadi bagian dari tata kelola pengelolaan sampah desa.

Dalam kerangka tersebut, pemerintah desa memiliki posisi strategis sebagai fasilitator, koordinator, sekaligus penggerak partisipasi masyarakat. Kebijakan desa dapat diarahkan untuk memperkuat edukasi, penyediaan sarana, pendampingan, monitoring, serta mekanisme kolaborasi dalam pengelolaan sampah organik berbasis sumber.
 
Untuk mengukur perubahan pemahaman peserta, tim PKM juga melaksanakan pre-test dan post-test. Sebelum kegiatan dimulai, peserta diminta mengerjakan pre-test untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mengenai pengelolaan sampah organik, Teba Meguna, serta aspek kebijakan dan tata kelola. Setelah seluruh materi dan sesi diskusi selesai, peserta kembali diberikan post-test dengan instrumen evaluasi yang setara.
 
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan skor pemahaman peserta. Rata-rata skor pre-test mencapai 81,82 dari skala 100, sementara rata-rata skor post-test meningkat menjadi 98,09. Dengan demikian, terdapat peningkatan sebesar 16,27 poin setelah peserta mengikuti rangkaian sosialisasi dan diskusi. 

Hasil tersebut memberikan indikasi bahwa penyampaian materi oleh kedua narasumber, yang menggabungkan pendekatan teknis dan kelembagaan, berhasil memperkuat pemahaman peserta mengenai pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber dan penguatan tata kelolanya di tingkat desa.
 
Kegiatan juga menjadi ruang dialog antara tim akademisi dan unsur-unsur masyarakat Desa Sumerta Kelod untuk mendiskusikan tantangan implementasi Teba Meguna dalam konteks lokal.

Persoalan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan teknologi, tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat, kepadatan permukiman, keberadaan penduduk dengan latar belakang yang beragam, kapasitas kelembagaan, serta konsistensi pengawasan.

Karena itu, pendekatan tata kelola menjadi penting untuk memastikan inovasi pengelolaan sampah dapat diterima, diterapkan, dan dipertahankan dalam jangka panjang.
 
Melalui kegiatan ini, Program Studi Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Warmadewa menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan praktis masyarakat.

Pengelolaan sampah organik melalui Teba Meguna tidak hanya diposisikan sebagai persoalan teknis lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan pemerintahan dan tata kelola publik.

Ke depan, penguatan kebijakan desa, pemetaan aktor, pengembangan kelembagaan, serta penyusunan roadmap implementasi diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya Desa Sumerta Kelod membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih partisipatif, efektif, dan berkelanjutan (Z/002) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Mendes PDTT Pastikan Gaji PLD 2019 Meningkat

Terpopuler

Gelar Gerakan Langit Biru di Gianyar, Tutik Kusuma Wardhani Imbau Kader Demokrat Makin Dekat dengan Rakyat

Gelar Gerakan Langit Biru di Gianyar, Tutik Kusuma Wardhani Imbau Kader Demokrat Makin Dekat dengan Rakyat

Asbes dan Kanker

Asbes dan Kanker

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

India Bangun Bandara Internasional Baru, PM Modi Jadikan Visakhapatnam Pusat Ekonomi dan Teknologi

India Bangun Bandara Internasional Baru, PM Modi Jadikan Visakhapatnam Pusat Ekonomi dan Teknologi

Presiden Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara, Dirancang Melayani Pesawat Berbadan Lebar: Boeing 777 - Airbus A380

Presiden Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara, Dirancang Melayani Pesawat Berbadan Lebar: Boeing 777 - Airbus A380

100 Tahun Rarud Batur, Tiga Buku Ungkap Jejak Sejarah dan Ketangguhan Peradaban Batur

100 Tahun Rarud Batur, Tiga Buku Ungkap Jejak Sejarah dan Ketangguhan Peradaban Batur