Penglipuran dan Jalan Baru Desa Wisata Bali: Dari Lestari Menuju Regeneratif
Banner Bawah

Penglipuran dan Jalan Baru Desa Wisata Bali: Dari Lestari Menuju Regeneratif

Admin 2 - atnews

2026-08-12
Bagikan :
Dokumentasi dari - Penglipuran dan Jalan Baru Desa Wisata Bali: Dari Lestari Menuju Regeneratif
Trisno Nugroho (ist/atnews)
Oleh Trisno Nugroho
 
Desa Wisata Penglipuran bukan hanya destinasi wisata. Ia adalah wajah Bali yang tertata, bersih, berbudaya, dan membanggakan. Banyak wisatawan datang untuk menikmati suasana desa adat, angkul-angkul yang rapi, jalan utama yang bebas kendaraan, hutan bambu, rumah tradisional, kuliner lokal, serta keramahan masyarakatnya. Penglipuran telah menjadi contoh bahwa desa adat dapat berjalan berdampingan dengan pariwisata.
 
Namun, keberhasilan selalu membawa tantangan baru. Ketika sebuah desa wisata semakin terkenal, jumlah kunjungan meningkat, ruang desa semakin padat, sampah bertambah, rumput terinjak, hutan bambu membutuhkan penataan, dan masyarakat mulai merasakan tekanan baru.

Inilah titik penting yang perlu dipahami: desa wisata yang berhasil tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi harus terus diperbarui.
 
Di sinilah pendekatan pariwisata regeneratif menjadi penting. Selama ini, kita sering mendengar istilah pariwisata berkelanjutan. Intinya adalah bagaimana pariwisata tidak merusak lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat. Tetapi pariwisata regeneratif bergerak lebih jauh.

Ia tidak hanya bertanya, “Bagaimana agar pariwisata tidak merusak?” tetapi bertanya, “Bagaimana agar pariwisata membuat desa menjadi lebih baik?” Dengan kata lain, pariwisata regeneratif bukan sekadar menjaga, tetapi juga memulihkan, menguatkan, dan menumbuhkan kembali kualitas destinasi.

Bagi Penglipuran, maknanya jelas. Pariwisata tidak boleh hanya menghasilkan tiket, kunjungan, dan foto indah. Pariwisata harus ikut menjaga hutan bambu, memperkuat adat, merawat rumah tradisional, menghidupkan UMKM, mendidik wisatawan, dan memastikan masyarakat tetap menjadi pemilik utama arah pembangunan desanya.
 
Dari penelitian yang saya lakukan, ada pelajaran penting. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat sangat menentukan keterlibatan mereka dalam pengembangan desa wisata. Masyarakat yang hanya “tahu” belum tentu akan terlibat secara aktif.

Tetapi masyarakat yang “memahami” makna pariwisata, manfaatnya, risikonya, dan tanggung jawabnya, akan lebih terdorong untuk ikut menjaga dan mengembangkan desa. Inilah salah satu kunci masa depan desa wisata: masyarakat tidak cukup hanya diberi informasi, tetapi perlu diajak memahami.

Desa wisata bukan hanya urusan pengelola, pemerintah, atau pelaku usaha. Desa wisata adalah ruang hidup masyarakat. Karena itu, masyarakat harus menjadi pelaku utama, bukan sekadar penonton.
 
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keterlibatan masyarakat memberi dampak positif terhadap ekonomi lokal, pemberdayaan komunitas, edukasi pengunjung, dan dampak sosial.

Artinya, ketika masyarakat terlibat, pariwisata dapat memperkuat kehidupan desa. UMKM bergerak, kerajinan tumbuh, generasi muda punya ruang, wisatawan mendapat cerita, dan masyarakat merasa memiliki.
 
Namun ada satu catatan penting: keterlibatan masyarakat belum otomatis berdampak kuat pada pemulihan lingkungan. Ini bukan berarti masyarakat tidak peduli lingkungan.

Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan membutuhkan sistem yang lebih jelas, terukur, dan berkelanjutan. 

Pengelolaan sampah, hutan bambu, daya dukung kunjungan, air, ruang terbuka, dan jalur wisata harus ditangani bukan hanya dengan semangat, tetapi dengan program, indikator, dan tata kelola yang kuat.
 
Karena itu saya merumuskan Model REGENESIS, yang dalam bahasa sederhana dapat dipahami sebagai Model 6M.

Pertama, Memulihkan. Pariwisata harus ikut memulihkan lingkungan, sosial, dan budaya. Jika ada area yang rusak karena tekanan kunjungan, harus dipulihkan. Jika ada nilai budaya yang mulai melemah, harus diperkuat kembali.

Kedua, Menjaga daya dukung tempat. Setiap desa punya batas. Jalan desa, hutan bambu, air, sampah, parkir, rumah penduduk, dan ruang adat tidak boleh dipaksa menerima beban berlebihan. Pariwisata yang baik harus tahu batas.

Ketiga, Memberi manfaat lebih besar. Pariwisata harus memberi manfaat positif yang lebih besar daripada beban yang ditimbulkan. Pendapatan wisata harus kembali kepada masyarakat, budaya, lingkungan, dan perbaikan desa.

Keempat, Menguatkan budaya dan masyarakat. Desa wisata tidak boleh kehilangan jiwanya. Adat, ritual, arsitektur, bahasa, kuliner, seni, dan nilai Tri Hita Karana harus semakin kuat, bukan hanya menjadi tontonan.

Kelima, Menyatukan para pihak. Desa adat, pengelola, pemerintah, pelaku usaha, wisatawan, akademisi, dan komunitas harus bekerja bersama. Pariwisata regeneratif tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri.

Keenam, Membangun sistem yang belajar. Desa wisata harus terus mengevaluasi diri.

Berapa sampah yang dihasilkan? Bagaimana persepsi masyarakat? Apakah wisatawan memahami nilai desa? Apakah manfaat ekonomi merata? Apakah lingkungan membaik? Tanpa data dan evaluasi, desa wisata akan sulit berkembang sehat.
 
Penglipuran sebenarnya sudah memiliki banyak modal menuju arah ini. Ada penguatan pengelolaan sampah melalui TPS3R, penataan hutan bambu, edukasi pengunjung melalui relief sejarah, dukungan perawatan bangunan adat seperti angkul-angkul, dapur adat, dan bale saka enem, penguatan usaha desa, serta digitalisasi pembayaran.

Semua ini adalah langkah baik. Tantangannya adalah menjadikannya lebih terintegrasi, terukur, dan berkelanjutan.
 
Pelajaran dari Penglipuran penting bagi desa wisata lain di Bali dan Indonesia. Setiap desa tentu tidak harus meniru Penglipuran. Desa pesisir punya tantangan berbeda.

Desa pegunungan berbeda. Desa budaya berbeda. Desa pertanian berbeda. Desa di kawasan heritage kota juga berbeda. Tetapi prinsipnya sama: pariwisata harus membuat tempat menjadi lebih baik.
 
Di desa pesisir, pariwisata regeneratif dapat berarti membersihkan pantai, memulihkan terumbu karang, memperkuat nelayan, dan mengurangi sampah laut. Di desa pertanian, berarti menjaga sawah, air, benih lokal, dan kesejahteraan petani.

Di desa budaya, berarti memperkuat adat, ritual, arsitektur, dan generasi muda. Di kawasan kota tua, berarti menghidupkan kembali bangunan bersejarah, ruang publik, UMKM, dan komunitas lokal.
 
Bali saat ini membutuhkan lompatan seperti ini. Bali tidak cukup hanya mengejar jumlah wisatawan. Bali harus mengejar kualitas manfaat. Pariwisata harus menjadi kekuatan yang menjaga alam, menguatkan budaya, menyejahterakan masyarakat, dan mendidik wisatawan agar lebih menghormati tempat yang mereka kunjungi.

Penglipuran memberi pesan penting: desa wisata yang terkenal tidak boleh berhenti pada ketenaran. Ia harus terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga keseimbangan antara tamu dan tuan rumah, antara ekonomi dan budaya, antara kunjungan dan daya dukung, antara popularitas dan ketenangan hidup masyarakat.
 
Masa depan desa wisata bukan hanya tentang bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan. Masa depan desa wisata adalah bagaimana memastikan pariwisata membuat desa tetap hidup, masyarakat tetap bermartabat, budaya tetap kuat, dan alam tetap pulih.

Penglipuran telah membuka jalan. Kini saatnya desa wisata lain melangkah lebih jauh: dari sekadar lestari menuju regeneratif.
 
Karena pariwisata terbaik bukan hanya yang membuat wisatawan datang, tetapi yang membuat tempat, masyarakat, budaya, dan alam menjadi lebih baik setelah wisatawan pergi. 

*)  Trisno Nugroho – Pengurus PHRI Doktor Pariwisata Universitas Udayana

Baca Artikel Menarik Lainnya : Sejumlah Prebekel Jatim Dalami Smartdesa Duda Timur

Terpopuler

Gelar Gerakan Langit Biru di Gianyar, Tutik Kusuma Wardhani Imbau Kader Demokrat Makin Dekat dengan Rakyat

Gelar Gerakan Langit Biru di Gianyar, Tutik Kusuma Wardhani Imbau Kader Demokrat Makin Dekat dengan Rakyat

Asbes dan Kanker

Asbes dan Kanker

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

India Bangun Bandara Internasional Baru, PM Modi Jadikan Visakhapatnam Pusat Ekonomi dan Teknologi

India Bangun Bandara Internasional Baru, PM Modi Jadikan Visakhapatnam Pusat Ekonomi dan Teknologi

Presiden Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara, Dirancang Melayani Pesawat Berbadan Lebar: Boeing 777 - Airbus A380

Presiden Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara, Dirancang Melayani Pesawat Berbadan Lebar: Boeing 777 - Airbus A380

100 Tahun Rarud Batur, Tiga Buku Ungkap Jejak Sejarah dan Ketangguhan Peradaban Batur

100 Tahun Rarud Batur, Tiga Buku Ungkap Jejak Sejarah dan Ketangguhan Peradaban Batur