Indonesia-India: Dua Mesin Pertumbuhan Asia Menulis Masa Depan
Banner Bawah

Indonesia-India: Dua Mesin Pertumbuhan Asia Menulis Masa Depan

Admin 2 - atnews

2026-08-10
Bagikan :
Dokumentasi dari - Indonesia-India: Dua Mesin Pertumbuhan Asia Menulis Masa Depan
Trisno Nugroho (ist/atnews)
"Dari Kedekatan Peradaban Menuju Kemitraan Ekonomi yang produktif, inklusif, dan Berkelanjutan"

Oleh Trisno Nugroho

Agustus selalu memiliki makna istimewa bagi Indonesia dan India. Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan, sedangkan India menandai 79 tahun kemerdekaannya.

Dua negara demokrasi besar di Asia ini tidak hanya mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga sedang menulis babak baru: menjadikan kemerdekaan sebagai kemampuan untuk menciptakan kemakmuran, menguasai teknologi, memperkuat kemandirian ekonomi, dan memberi harapan kepada generasi berikutnya.

Hubungan Indonesia dan India jauh lebih tua daripada hubungan diplomatik modern. Jejaknya hidup dalam bahasa, sastra, seni, agama, arsitektur, perdagangan maritim, hingga kisah Ramayana dan Mahabharata yang tumbuh dalam ekspresi budaya Nusantara.

Kedekatan peradaban itu kini memperoleh makna baru. Di tengah pergeseran pusat pertumbuhan dunia ke Asia, Indonesia dan India memiliki kesempatan untuk mengubah kedekatan sejarah menjadi kekuatan ekonomi masa depan.

Pesan Baru dari Peta Pertumbuhan G20
Sebuah laporan Business Today India yang terbit pada 8 Agustus 2026 memberi konteks yang menarik.

Mengolah data IMF World Economic Outlook dan Bank Dunia, laporan berjudul "India tops G20 growth rankings since 2014, outpaces China: IMF data" menempatkan India sebagai negara dengan pertumbuhan majemuk tertinggi di antara ekonomi G20 selama 2014-2026. 

Dalam ukuran produk domestik bruto nominal berdenominasi dolar AS, India mencatat compound annual growth rate (CAGR) 6,1%, sedikit di atas China 5,9% dan Amerika Serikat 5,3%.

Indonesia juga berada pada posisi terhormat: peringkat keenam dengan CAGR 4,7%, setelah Arab Saudi dan Turkiye. 

Artinya, di tengah pandemi, inflasi tinggi, gangguan rantai pasok, serta ketegangan geopolitik, India dan Indonesia sama-sama termasuk enam ekonomi G20 dengan ekspansi nominal dolar AS tercepat dalam periode tersebut.

Angka ini perlu dibaca secara tepat. CAGR PDB nominal dalam dolar AS bukanlah laju pertumbuhan ekonomi riil tahunan; nilainya juga dipengaruhi inflasi dan pergerakan nilai tukar.

Namun, indikator tersebut tetap menyampaikan pesan penting: bobot ekonomi India dan Indonesia dalam perekonomian dunia terus membesar. India bahkan telah lebih dari menggandakan ukuran ekonominya dan mendekati US$4,15 triliun menurut perbandingan yang dikutip Business Today.

Dua Kekuatan yang Saling Melengkapi
India menawarkan skala pasar, kekuatan teknologi informasi, farmasi, industri digital, sumber daya manusia, dan ekosistem inovasi.

Indonesia menawarkan posisi strategis di ASEAN, kekayaan sumber daya, basis industri yang berkembang, bonus demografi, ekonomi digital yang dinamis, serta potensi besar pada energi hijau dan ekonomi maritim.

Dengan jumlah penduduk gabungan sekitar 1,75 miliar jiwa—lebih dari seperlima penduduk dunia—kemitraan kedua negara memiliki pasar dan daya pengaruh yang luar biasa.

Indonesia sendiri menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan 5,03% pada 2024. Tantangan berikutnya bukan hanya menjaga pertumbuhan, melainkan menaikkan kualitasnya: produktivitas yang lebih tinggi, pekerjaan yang lebih baik, ekspor bernilai tambah, investasi yang memperkuat industri nasional, serta pemerataan hasil pembangunan.

Target pertumbuhan menuju 8% harus dibaca sebagai panggilan untuk mempercepat reformasi, bukan semata-mata mengejar angka.

Sementara itu, lintasan India menunjukkan bahwa skala penduduk dapat menjadi kekuatan apabila ditopang investasi infrastruktur, digitalisasi layanan publik, industrialisasi, pendidikan, dan inovasi. 

Indonesia tidak perlu menyalin India, tetapi dapat memetik pelajaran: pertumbuhan tinggi memerlukan kesinambungan kebijakan, keberanian membangun kapasitas domestik, dan kemampuan menghubungkan jutaan pelaku usaha kecil dengan pasar serta teknologi.

Dari Target Perdagangan Menuju Rantai Nilai Bersama

Kemitraan ekonomi Indonesia-India tidak boleh berhenti pada jual-beli komoditas. Target perdagangan bilateral US$50 miliar memang penting, tetapi ukuran keberhasilan yang lebih bermakna adalah seberapa besar kerja sama tersebut menciptakan nilai tambah, transfer pengetahuan, lapangan kerja berkualitas, dan ketahanan ekonomi di kedua negara.

Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke India pada 23-26 Januari 2025 memperkuat Kemitraan Strategis Komprehensif kedua negara.

Forum CEO Indonesia-India dan pertemuan antarpemerintah membuka ruang kerja sama pada kesehatan dan farmasi, ekonomi digital, manufaktur, infrastruktur, energi, konektivitas, pangan, serta pertahanan.

Momentum tersebut memperoleh penguatan penting melalui kunjungan balasan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada 6-8 Juli 2026. 

Kunjungan kenegaraan itu menegaskan bahwa hubungan Indonesia-India telah bergerak dari kedekatan historis menuju kemitraan yang lebih terstruktur dan berorientasi hasil.

Presiden Prabowo dan PM Modi kembali menyelaraskan visi Indonesia Emas 2045 dengan Viksit Bharat 2047, sekaligus mendorong kerja sama perdagangan dan investasi, ekonomi digital, transaksi mata uang lokal dan pembayaran lintas batas, mineral kritis, energi terbarukan, kesehatan, pendidikan, konektivitas maritim, serta penguatan rantai pasok.

Rangkaian kunjungan timbal balik kedua pemimpin menunjukkan kesinambungan diplomasi dan komitmen politik pada tingkat tertinggi.

Langkah berikutnya harus lebih konkret: membangun rantai nilai bersama. 

Perusahaan India dapat memperluas produksi farmasi, teknologi kesehatan, kendaraan listrik, pusat data, dan layanan digital di Indonesia.

Pelaku usaha Indonesia dapat memperbesar akses ke pasar India untuk produk makanan, perkebunan berkelanjutan, furnitur, ekonomi kreatif, pariwisata, dan produk halal.

Kolaborasi tidak boleh hanya dinikmati perusahaan besar; UMKM, perusahaan rintisan, perguruan tinggi, serta talenta muda harus menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Bali sebagai Jembatan Peradaban dan Ekonomi Kreatif

Bali memiliki posisi khas dalam hubungan kedua bangsa. Kedekatan budaya membuat masyarakat India tidak memandang Bali sekadar destinasi wisata, melainkan ruang perjumpaan peradaban.

Modal emosional ini dapat dikembangkan menjadi kerja sama pariwisata berkualitas, penerbangan langsung, wedding dan wellness tourism, film, kuliner, yoga, ekonomi kreatif, pendidikan, hingga pertemuan bisnis internasional.

Namun, peningkatan kunjungan harus dikelola dengan prinsip berkualitas dan berkelanjutan. Keberhasilan tidak cukup diukur dari jumlah wisatawan, tetapi juga lama tinggal, belanja lokal, penghormatan terhadap budaya, penggunaan produk UMKM, pemerataan manfaat, serta kontribusi terhadap pemulihan lingkungan. 

Dengan cara itu, Bali dapat menjadi pintu masuk hubungan antarmasyarakat sekaligus laboratorium kemitraan Indonesia-India yang lebih manusiawi.

Lima Agenda ke Depan

Pertama, kedua negara perlu mengubah target perdagangan menjadi peta jalan investasi dan rantai nilai bersama yang memiliki proyek, penanggung jawab, jadwal, serta indikator manfaat lokal.

Kedua, kerja sama digital harus diarahkan pada interoperabilitas pembayaran, keamanan siber, kecerdasan buatan, peningkatan keterampilan, dan perluasan akses UMKM—bukan sekadar memperbesar pasar bagi platform.

Ketiga, kolaborasi pangan, energi bersih, farmasi, dan teknologi kesehatan perlu ditempatkan sebagai agenda ketahanan bersama. Dunia yang tidak pasti membutuhkan mitra yang saling memperkuat kapasitas produksi dan pasokan.

Keempat, konektivitas laut dan udara perlu diperluas agar arus barang, wisatawan, mahasiswa, dan investasi menjadi lebih efisien. Kedekatan sejarah memerlukan jembatan logistik modern. Kelima, kemitraan harus berorientasi pada manusia.

Program pertukaran mahasiswa, pelatihan vokasi, riset bersama, dan kolaborasi antarkota maupun antardaerah akan membuat hubungan bilateral berakar kuat, melampaui pergantian pemerintahan dan siklus ekonomi.

Kemerdekaan untuk Menciptakan Masa Depan

Kebangkitan India dalam peringkat pertumbuhan G20 dan posisi Indonesia di enam besar bukan alasan untuk berpuas diri. Keduanya adalah undangan untuk bekerja lebih keras.

Tantangan kemiskinan, ketimpangan, kualitas pendidikan, produktivitas, lapangan kerja, dan lingkungan masih nyata. Pertumbuhan baru layak dirayakan apabila meningkatkan martabat manusia dan memperluas kesempatan.

Indonesia dan India adalah dua peradaban tua dengan energi muda. Keduanya memiliki demokrasi yang hidup, masyarakat yang majemuk, pasar yang besar, serta keyakinan bahwa kemajuan tidak harus menghapus identitas budaya.

Jika kekuatan itu dipadukan, hubungan kedua negara dapat berkembang dari persahabatan historis menjadi kemitraan strategis yang ikut membentuk abad Asia.

Pada akhirnya, makna kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan, melainkan bebas untuk menentukan masa depan. Indonesia Emas 2045 dan Viksit Bharat 2047 tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.

Keduanya dapat bertemu dalam satu cita-cita: Asia yang tumbuh lebih kuat, lebih adil, lebih hijau, dan lebih memberi harapan bagi dunia.

*) Trisno Nugroho - Pengurus PHRI Bali 


Baca Artikel Menarik Lainnya : Koster Inginkan Data  Statistik Akurat 

Terpopuler

Gelar Gerakan Langit Biru di Gianyar, Tutik Kusuma Wardhani Imbau Kader Demokrat Makin Dekat dengan Rakyat

Gelar Gerakan Langit Biru di Gianyar, Tutik Kusuma Wardhani Imbau Kader Demokrat Makin Dekat dengan Rakyat

Asbes dan Kanker

Asbes dan Kanker

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Bali Dwipa 

India Bangun Bandara Internasional Baru, PM Modi Jadikan Visakhapatnam Pusat Ekonomi dan Teknologi

India Bangun Bandara Internasional Baru, PM Modi Jadikan Visakhapatnam Pusat Ekonomi dan Teknologi

Presiden Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara, Dirancang Melayani Pesawat Berbadan Lebar: Boeing 777 - Airbus A380

Presiden Percepat Pembangunan Bandara Bali Utara, Dirancang Melayani Pesawat Berbadan Lebar: Boeing 777 - Airbus A380

100 Tahun Rarud Batur, Tiga Buku Ungkap Jejak Sejarah dan Ketangguhan Peradaban Batur

100 Tahun Rarud Batur, Tiga Buku Ungkap Jejak Sejarah dan Ketangguhan Peradaban Batur