Oleh Gede Sedana
Pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan di Provinsi Bali yang mencapai 6,35 persen (y-on-y) pada Triwulan II 2026 merupakan capaian yang sangat positif bagi perekonomian daerah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat bahwa angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi total Provinsi Bali yang berada di kisaran 5,78 persen.
Kontribusi dan posisi sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar kedua, dimana Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan memberikan kontribusi sebesar 12,85 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali. Posisinya berada tepat di bawah sektor akomodasi dan makan-minum (21,91 persen).
Meski sektor pariwisata (penyediaan akomodasi dan makan-minum) menyumbang porsi terbesar, pertumbuhannya melambat ke angka 3,68 persen. Pertumbuhan sektor pertanian sebesar 6,35 persen menjadi salah satu motor penggerak utama yang menjaga ketahanan ekonomi daerah.
Kenaikan signifikan pada sektor pertanian didorong oleh peningkatan performa di berbagai lini, seperti subsektor Tanaman Pangan dan Padi. Produksi padi di Bali tumbuh secara signifikan yang dengan kenaikan sebesar 5,12 persen.
Kondisi ini didukung oleh perbaikan teknologi budidaya pertanian, kondisi cuaca yang kondusif serta optimalisasi jaringan irigasi tradisional (subak).
Sementara itu, komoditas hortikultura juga mengalami peningkatan permintaan produk lokal seperti buah-buahan, sayuran, dan tanaman hiasbaik untuk kebutuhan domestik, industri kuliner, maupun rantai pasok pariwisata.
Pada subsector peternakan, terjadi kenaikan produksi daging dan hasil ternak (sapi dan ayam) serta telur seiring dengan stabilnya pasokan pakan dan tingginya konsumsi lokal.
Pada subsektor perikanan, mengalami kenaikan produksi tangkapan laut dan perikanan budidaya dan didukung oleh teknologi budidaya perikanan darat/pesisir, hilirisasi dan kondisi cuaca perairan yang kondusif serta optimalisasi penyerapan pasar domestik.
Kondisi pertumbuhan di atas memberikan implikasi strategis bagi perekonomian Bali, seperti pemerataan dan diversifikasi ekonomi. Capaian ini memperlihatkan pemulihan struktur ekonomi Bali yang lebih seimbang. Ketergantungan berlebih pada sektor pariwisata dapat diminimalkan ketika sektor riil berbasis pedesaan tumbuh kuat.
Selain itu, sektor pertanian menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar di kawasan pedesaan, sehingga pertumbuhan 6,35 persen ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan kesejahteraan masyarakat bawah. Ini berarti bahwa telah terjadi penguatan ekonomi berbasis desa.
Yang tidak kalah pentingnya adalah tingginya produksi lokal membantu menekan laju inflasi bahan makanan (volatile foods) di wilayah Bali dan memastikan rantai pasok kebutuhan pokok tetap aman. Atau dengan kata lain, ketahanan pangan lokal masih sangat kuat untuk menuju kedaulatan pangan lokal.
Pemerataan dan diversifikasi ekonomi dalam konteks pertumbuhan sektor pertanian Bali menunjukkan transformasi fundamental pada struktur perekonomian daerah. Secara historis, Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata (akomodasi dan makan-minum).
Ketika sektor pertanian tumbuh kuatseperti capaian 6,35 persenmenujukkan diversifikasi ekonomi yang mampu membangun bantalan resiliensi (economic buffer), yaitu mengurangi kerentanan sektor tunggal (monoculture economy) dimana ketika pertanian tumbuh tinggi, struktur ekonomi tidak lagi bertumpu pada satu kaki saja.
Industri pariwisata terbukti sangat sensitif terhadap gejolak eksternal (seperti pandemi, bencana alam, atau krisis global). Selain itu pertumbuhan pertanian juga mampu menciptakan keseimbangan antar-sektor.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa sektor riil non-pariwisata mampu berkembang mandiri dan tidak lagi sekadar menjadi pendukung pasif, melainkan penopang utama PDRB Bali saat pertumbuhan pariwisata mengalami kontraksi atau penyesuaian.
Pemerataan dan diversifikasi yang seimbang tidak memisahkan pertanian dari pariwisata, melainkan memperkuat keterkaitan antar-sektor. Integrasi hulu-hilir terlihat dari sektor pertanian lokal bertindak sebagai penyedia bahan baku (supply side) untuk kebutuhan hotel, restoran, dan katering (agrotourism dan eco-tourism); dan mewujudkan kemandirian ekonomi daerah, dimana nilai tambah hasil pertanian berputar di dalam daerah sendiri (mencegah leakage effect atau kebocoran ekonomi akibat impor bahan pangan dari luar wilayah/luar negeri).
*) Gede Sedana Rektor, Dwijendra University Ketua Perhepi Bali