Tabanan (Atnews) – Bali dinilai perlu belajar banyak dari tata kelola pariwisata di Provinsi Lam Dong, Vietnam, khususnya dalam penegakan regulasi industri serta pengembangan inovasi daya tarik wisata berbasis potensi lokal.
Hal tersebut disampaikan oleh Pelaku Pariwisata sekaligus Manajer Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Jhon K. Purna, seusai memenuhi undangan pemerintah Provinsi Lam Dong, Vietnam, sekitar dua minggu lalu.
Kunjungan tersebut awalnya bertujuan untuk berbagi pengalaman mengenai pengelolaan perusahaan pariwisata di Bali melalui forum diskusi di tingkat pemerintahan setempat. Namun, interaksi tersebut justru memberikan gambaran jelas mengenai keunggulan tata kelola pariwisata Vietnam.
"Memang dari meeting itu seharusnya kita lebih banyak belajar dari mereka. Pertama karena infrastrukturnya luar biasa, dan kedua regulasinya sangat tegas. Semua aspek pariwisata di sana diatur sampai detail dan hampir tidak ada pelanggaran," ujar Jhon K. Purna.
Jhon menyoroti perbedaan signifikan terkait penegakan aturan antara Bali dan Vietnam. Di Bali, fenomena sopir maupun pemandu wisata (guide) yang membuka agen perjalanan (travel agent) sendiri tanpa lisensi resmi kian marak.
Sebaliknya, pemandu wisata di Vietnam disiplin bekerja di bawah naungan agen perjalanan berizin. Kedisiplinan ini didukung oleh kemudahan birokrasi investasi dari pemerintah setempat.
"Membuat izin PT di Vietnam tidak perlu waktu lama, hanya sekitar seminggu sampai dua minggu sudah selesai, ditambah garansi hampir bebas pajak selama satu tahun," ungkapnya.
Selain regulasi dan perizinan, Jhon menekankan pentingnya Jatiluwih dan destinasi di Bali mempelajari strategi pembuatan keunikan (uniqueness) di setiap objek wisata.
Di Provinsi Lam Dong, setiap daerah memiliki ciri khas yang kuat melalui produk kuliner serta kerajinan tangan khusus yang tidak ditemukan di wilayah lain.
Model pengembangan yang paling relevan untuk diterapkan di Jatiluwih adalah penggabungan konsep pertanian terpadu (integrated farming). Jhon menceritakan pengalamannya saat diundang makan malam di salah satu restoran di Lam Dong yang memadukan perkebunan kopi, alpukat, dan durian dalam satu kawasan.
Sebelum makan, para tamu diajak mengikuti tur memetik kopi, menikmati olahan kopi lokal, lalu mengeksplorasi perkebunan alpukat dan durian.
"Ini menjadi objek wisata baru dan tren baru di sana. Konsep mengombinasikan perkebunan kopi, alpukat, dan durian dalam satu area seperti ini sangat potensial kita contoh untuk mematangkan konsep farming yang ada di Jatiluwih," pungkasnya. (SUK/002)