Sekjen Toto Lantik Gung Adit Pimpin GPEI Bali 2026–2031, Jadikan Pusat Perdagangan, Sekaligus Lepas Ekspor Salak ke Tiongkok
Sekjen Toto Lantik Gung Adit Pimpin GPEI Bali 2026–2031, Jadikan Pusat Perdagangan, Sekaligus Lepas Ekspor Salak ke Tiongkok
Admin -
atnews
2026-08-06
Bagikan :
Ketua Umum DPD GPEI Bali A.A. Ngurah Aditya (ist/Atnews)
Badung (Atnews) - Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro melantik AA Ngurah Aditya Pradnyana Sunu dikenal Gung Adit secara resmi memimpin Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Bali periode 2026–2031.
Hal itu dilaksanakan ketika acara Pengukuhan dan Pelantikan DPD GPEI Bali Masa Bakti 2026–2031 di The Keranjang Bali, Badung, Kamis (6/8).
Pada kesempatan itu, ada pula Penandatanganan Letter of Intent dan Memorandum of Understanding (MoU) antara DPD GPEI Bali dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Provinsi Bali, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Provinsi Bali, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Bali.
Turut hadir Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri, Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag Ari Satria, Gubernur Bali I Wayan Koster, Ketum KADIN Bali Made Ariandi, Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Denpasar Zhang Zhisheng, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, Ketua HIPMI Bali Agung Bagus Pratiksa Linggih dikenal Ajus Linggih yang juga Ketua Komisi II DPRD Bali .
Kepemimpinan Gung Adit didampingi Sekretaris AA Gede Wedhatama P dan Bendahara I Wayan Gede Ari Danangga.
GPEI hadir sebagai organisasi nirlaba yang berdiri sejak tahun 1961 dan menghimpun pelaku industri serta eksportir dari berbagai sektor.
Melalui aktivitasnya, GPEI berkomitmen mendorong peningkatan devisa sekaligus membangun kekuatan pelaku usaha agar menjadi eksportir yang tangguh dan kompetitif di pasar global.
Sebagai mitra strategis pemerintah, GPEI berperan aktif memperkuat ekosistem ekspor nasional yang berkelanjutan, termasuk membina UMKM agar memiliki kompetensi di pasar internasional.
Organisasi ini menjadi motor penggerak kemajuan ekspor dengan fokus pada produk unggulan bernilai tambah tinggi, seperti hasil agro, industri kreatif, maritim, dan sektor padat karya.
Dengan visi GPEI "Mendorong UMKM Menjadi Eksportir Nasional Serta Menjadikan Kegiatan Ekspor Sebagai Tonggak Perekonomian Nasional".
Ketua GPEI Bali Gung Adit mengharapkan Bali menjadi pusat perdagangan internasional melalui konsep trade tourism, selain sebagai destinasi pariwisata internasional.
Disamping adanya wacana Bali dijadikan pusat keuangan dunia atau Internasional Financial Centre (IFC). Pusat perdagangan itu akan melengkapinya, termasuk mendorong peningkatan ekspor dan memperluas akses pasar global bagi produk Bali maupun produk Indonesia.
Untuk itu, pihaknya juga segera berencana akan mengadakan trade expo internasional.
Mengingat peluang besar Bali, pulau ini menjadi destinasi yang dikenal dunia dengan kunjungan sekitar 7 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2025 serta memiliki konektivitas penerbangan internasional terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta.
Maka dari itu, peluang tersebut menjadikan Bali sebagai etalase Indonesia bagi pasar global. "Bali adalah pintu internasional untuk mengenalkan produk-produk Indonesia. Wisatawan datang ke Bali, melihat produk kita, membeli, bahkan membawanya ke negaranya. Potensi ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat perdagangan," ujarnya.
Meskipun, kondisi perdagangan global masih diwarnai ketidakpastian sehingga kolaborasi menjadi faktor penting untuk menjaga daya saing ekspor Bali di tengah ketegangan geopolitik perang Isarel/AS dengan Iran sehingga Selat Hormuz.
Gung Adit mengakui Bali tidak memiliki sumber daya alam seperti tambang, perkebunan sawit maupun kawasan industri besar sebagaimana sejumlah daerah lain.
Sebagai langkah awal, GPEI Bali juga melepas ekspor perdana salak gula pasir ke Tiongkok sebesar 3,5 ton. Produk tersebut diharapkan menjadi pembuka pasar baru bagi komoditas hortikultura Bali.
Ia juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah terhadap penguatan ekspor di Bali.
Menurutnya, kehadiran Wakil Menteri Perdagangan bersama jajaran pemerintah dalam Pengukuhan dan Pelantikan DPD GPEI Bali menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendorong peningkatan perdagangan melalui ekspor.
Sementara itu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali I Made Ariandi menilai nilai ekspor Bali sesungguhnya jauh lebih besar dibandingkan data resmi yang tercatat saat ini. Banyak komoditas asal Bali dikirim melalui pelabuhan di luar daerah sehingga nilai ekspornya tercatat sebagai ekspor provinsi lain.
"Ekspor Bali sebenarnya besar. Yang menjadi persoalan, pencatatannya banyak dilakukan di luar Bali. Karena itu kami berharap ada sistem pencatatan yang lebih baik agar kontribusi ekspor Bali tercermin secara nyata," ujarnya.
Ariandi juga berharap pemerintah mempercepat proses karantina dan kepabeanan bagi komoditas segar sehingga peluang ekspor produk pertanian Bali dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Gubernur Bali Wayan Koster menyatakan Bali pada praktiknya telah menjadi hub ekspor karena berbagai komoditas dari sejumlah daerah di Indonesia dikirim melalui Pulau Dewata sebelum dipasarkan ke luar negeri.
Menurutnya, branding Bali yang telah dikenal dunia menjadi kekuatan besar untuk meningkatkan daya saing berbagai produk Indonesia di pasar global.
"Branding Bali sudah dikenal dunia. Itu menjadi kekuatan yang harus dimanfaatkan untuk memperkuat ekspor," ujar Gubernur Koster.
Ia menyebut berbagai komoditas seperti salak, manggis, kopi, garam, arak hingga produk pertanian lainnya telah memiliki nilai lebih karena menggunakan identitas Bali.
Ke depan, Gubernur Koster berharap ekspor Bali tidak lagi didominasi produk mentah, melainkan semakin banyak produk olahan yang memiliki nilai tambah sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat. "Kalau bisa jangan hanya mengekspor bahan mentah. Produk olahan harus diperbanyak supaya nilai ekonominya meningkat," tegasnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Bali juga tengah menyiapkan kawasan Pusat Kebudayaan Bali yang salah satu fungsinya akan mendukung aktivitas perdagangan dan ekspor. Kawasan tersebut diharapkan menjadi simpul baru yang memperkuat posisi Bali sebagai hub ekspor sekaligus pusat perdagangan internasional Indonesia.
Wamendag Roro memberikan sambutan utama pada Pengukuhan dan Pelantikan DPD GPEI Bali 2026-2031.
Dalam kesempatan tersebut, Wamendag Roro menekankan pentingnya peran GPEI sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan daya saing ekspor nasional, memperluas jejaring bisnis, serta melahirkan eksportir-eksportir baru yang mampu membawa produk Indonesia makin mendunia.
Menurut Wamendag Roro, ekspor merupakan salah satu motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di tengah dinamika perdagangan global yang terus berkembang, Kemendag terus memperkuat daya saing produk nasional melalui tiga prioritas utama, yaitu menjaga pasar dalam negeri, memperluas akses pasar ekspor, serta mencetak lebih banyak eksportir baru, khususnya dari kalangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pada kesempatan yang sama, Wamendag Roro mengapresiasi kolaborasi yang terjalin melalui Pengukuhan dan Pelantikan DPD GPEI Bali 2026--2031 hingga penandatanganan nota kesepahaman antara GPEI Bali dengan berbagai mitra strategis. Sinergi tersebut merupakan langkah penting untuk memperkuat ekosistem ekspor, meningkatkan daya saing pelaku usaha, dan mendorong pertumbuhan ekspor yang berkelanjutan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia meningkat dari USD 231,71 miliar menjadi USD 282,91 miliar pada 2021-2025 dengan tren pertumbuhan rata-rata sebesar 3,12 persen per tahun. Peningkatan ini menunjukkan bahwa produk Indonesia makin dipercaya oleh pasar internasional, baik dari sisi kualitas, keberlanjutan, maupun daya saing.
Momentum positif tersebut terus berlanjut pada 2026. Selama periode Januari-Juni 2026, nilai ekspor Indonesia telah mencapai USD 140,81 miliar. Nilai tersebut meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Dari nilai tersebut, ekspor nonmigas memberikan kontribusi terbesar, yaitu mencapai USD 134,58 miliar. (GAB/ART/001)