Refleksi Raina Buda Kliwon Pahang, ‘Merebut’ Kembali Serangan, Setia Menjaga Kesucian Bali
Refleksi Raina Buda Kliwon Pahang, ‘Merebut’ Kembali Serangan, Setia Menjaga Kesucian Bali
Admin 2 -
atnews
2026-07-22
Bagikan :
Jro Gde Sudibya (ist/atnews)
Oleh Jro Gde Sudibya
Hari ini, Rabu, 22 Juli 2026, raina Buda Kliwon Pahang, Sasih Karo, Icaka 1948, raina 35 hari pasca Raina Galungan, raina "penutup" yasa kerthi raina Galungan, yang disebut raina Buda Kliriwon Pegatwakan, memasuki lembaran baru kehidupan pasca raina Galungan.
Waktu untuk "ngelebar" Penjor, sebagai simbolik Gunung Agung, Gunung Giri Toh Langkir sebagai sumber utama kesejahteraan.
Rangkaian upakara yang sarat makna, khas dan unik dari tradisi masyarakat Bali yang menggambarkan spirit hidup yang melekat dalam makna upakara itu sendiri.
Spirit yang telah menjadi tradisi, yang menggambarkan sistem nilai kehidupan tentang banyak hal, bagaimana alam Bali mesti dirawat, kesuburan sawah dijaga, kesucian Bali mesti dirawat, dijaga dan dilestarikan, hubungan "paras-paros" antar warga yang mesti dipupuk dalam menjaga integrasi budaya dalam "deru campur debunya" perubahan deras kehidupan.
Tantangan dalam merawat kesucian Bali kini dan dalam perspektif jangka panjang, dalam konteks ke kinian, menyebut beberapa, pertama, "merebut kembali" Pulau Serangan, Pulau kecil di kaki Pulau Bali yang dalam perspektif keyakinan Bali disimbolikkan dengan BUNGA PADMA Berkelopak 8, yang mengekspresikan kekuatan Tuhan Ciwa di 8 penjuru angin Pulau Bali.
Pulau Serangan berada di Barat Daya (Nreti) Pulau Bali, dengan Puncaknya Bukit Luur Uluwatu, pemujaan Tuhan Rudra, dengan pengurip 3.
Setiap 100 tahun, penggantian 2 rah windhu, berlangsung upakara besar di Pura Besakih, Eka Dasa Rudra, pemujaan 11 Tuhan Rudra, kekuatan Tuhan Tertinggi, diyakini sebagai kekuatan Tuhan Tertinggi sebagai penghancur Alam Raya dan juga sebaliknya pemberi kesejahteraan lahir batin yang paling utama.
Dalam perspektif Bali sebagai Padma Bhuwana, "derita" bagi Pulau Serangan, mencnderai sistem ekologi spiritualitas Bali secara keseluruhan.
Pulau Serangan mesti diselamatkan. Kedua, spirit Bali sebagai Padma Bhuwana, mesti ditemukan kembali dalam tekanan perubahan dalam masyarakat dengan tanda-tanda masyarakat dengan "penyakit" material sekuleristik, dalam program dan langkah nyata bersama, sucikan kembali Alam Bali berbasis spirit kejujuran dan kesetiaan untuk mengabdi, hentikan tanah Bali sekadar komoditas ekonomi yang dengan mudah ditransaksikan dalam jual beli, upaya keras bersama untuk menemukan kembali Harumnya Tanah Bali.
Ketiga, hentikan dan kemudian waspadai apa yang disebut oleh para filosof sebagai "on call disaster", secara sederhananya, "mengundang" investasi yang pada akhirnya merusak: Alam, Budaya, dan Meminggirkan Manusia Bali, rangkaian "peristiwa" yang secara bertahap, pelan dan pasti, akan memudarkan dan kemudian menghancurkan peradaban Bali.
*) Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kebudayaan dan kecenderungan masa depan.