Prof. Bakta Jagokan Argentina Juara Piala Dunia 2026 Sebut Mental Juara dan Aksi Magis Messi Jadi Pembeda
Banner Bawah

Prof. Bakta Jagokan Argentina Juara Piala Dunia 2026 Sebut Mental Juara dan Aksi Magis Messi Jadi Pembeda

Admin 2 - atnews

2026-07-18
Bagikan :
Dokumentasi dari - Prof. Bakta Jagokan Argentina Juara Piala Dunia 2026 Sebut Mental Juara dan Aksi Magis Messi Jadi Pembeda
Rektor UNBI Prof.Dr.dr.I Made Bakta Sp.PD-KHOM (ist/atnews)
Denpasar (Atnews) - Empat Tim Nasional (Timnas) peringkat teratas FIFA menembus Babak Semifinal Piala Dunia 2026.

FIFA mencatat babak semifinal Piala Dunia FIFA 2026 mencetak sejarah baru, karena untuk pertama kalinya diikuti oleh empat Timnas teratas yang menempati peringkat 1 hingga 4 dalam Ranking FIFA. 

Berikut adalah daftar tim semifinalis Piala Dunia 2026 beserta posisi Peringkat Dunia FIFA (pembaruan resmi per 11 Juli 2026):

1. Argentina - Peringkat 1 FIFA (1.877,27 poin)
2. Spanyol - Peringkat 2 FIFA (1.874,71 poin)
3. Perancis - Peringkat 3 FIFA (1.870,70 poin)
4. Inggris - Peringkat 4 FIFA (1.828,02 poin). 

Pertarungan demikian ketat hingga akhirnya Argentina dan Spanyol lolos Babak Final Piala Dunia. 

Laga krusial dijuluki "Final Ideal" ini diselenggarakan di Stadion MetLife, New Jersey,  Minggu, 19 Juli 2026 atau Senin, 20 Juli 2026 pukul 03.00 WITA. 

Laga final ini juga dianggap banyak pihak sebagai perwujudan dari ajang FINALISSIMA 2026 bersejarah, saat duel jawara Copa America 2024 (Argentina) melawan juara Euro 2024 (Spanyol). 

 Sedianya, laga krusial dijadwalkan berlangsung  di Qatar, pada 27 Maret 2026, namun terpaksa dibatalkan, karena situasi geopolitik di Timur Tengah. 

Laga pamungkas ini menjadi salah satu partai final paling dinantikan dalam sejarah sepak bola modern, karena mempertemukan kekuatan terbaik dari dua benua berbeda.

Rektor UNBI Prof.Dr.dr.I Made Bakta Sp.PD-KHOM., menjagokan Argentina kontra Spanyol sebagai juara Piala Dunia 2026.

Lebih lanjut, Prof. Bakta menyebutkan dua Timnas Negara memiliki prinsip gaya bermain dan filosofi permainan agak berbeda, lantaran Argentina punya Lionel Messi dan Spanyol ada Yamal, tapi karakter dari sepakbola berbeda. 

"Saya lihat bahwa Argentina yang juara Piala Dunia 2026.Saya berharap permainan final itu akan berkualitas yang tinggi dan secara pribadi saya berharap Messi yang menang," kata Prof. Bakta yang juga mantan Rektor Universitas Udayana (Unud). 

Menurutnya, laga krusial menjadi ajang perdana pertarungan Lionel Messi dan Lamine Yamal. Bahkan, tipe permainan Spanyol sudah sangat dipahami Sang Mega Bintang Lionel Messi.

Mengingat, Lionel Messi mengabdi selama 17 musim profesional (2004-2021) di FC Barcelona, Spanyol dan mengubah peta kekuatan sepak bola dunia secara permanen.

Tak hanya itu, Lionel Messi adalah pencetak gol terbanyak, pemilik penampilan terbanyak dan pemain paling berprestasi dalam sejarah FC Barcelona. 

Dalam usia 13 tahun, Messi bergabung dengan akademi La Masia, setelah dibantu klub dalam pengobatan defisiensi hormon pertumbuhan. 

Menariknya, Final Piala Dunia 2026 merupakan duel simbolis antara Sang Raja Legendaris Lionel Messi dan Pangeran Baru Barcelona, Lamine Yamal.

"Kita ingin Messi mendapatkan acungan jempol bagi kita semua karena Messi memang luar biasa. kalau kita lihat komentar ahli sepakbola," kata Prof. Bakta. 

Perbandingan kedua pemain berkelas dunia di Barcelona sering dibahas, karena memiliki latar belakang  serupa, yaitu sama-sama produk akademi La Masia, berkaki kidal dan beroperasi di sektor sayap kanan. 

Meski demikian, Lionel Messi adalah legenda terbesar sepanjang masa (GOAT) FC Barcelona, sementara Lamine Yamal adalah talenta muda paling cemerlang yang digadang-gadang sebagai penerus Messi. 

"Meski berumur 39 tahun fisik menurun, tapi Messi bisa mengubah gaya permainan bola tidak dari fisik, tapi otak. Messi melihat semua itu dengan fisik diminimalkan, tapi taktik Messi unggul dan menjadi idola bukan hanya kesebelasan Argentina, tapi bagi kita semua bahwa bermain bola itu adalah seni bagaimana gaya bermain Messi serta ketahanan mental. Jadi, secara keseluruhan Argentina Tim bermental juara, " kata Prof. Bakta. 

Perbandingan Statistik di Barcelona

Selama berseragam Blaugrana, Lionel Messi menghabiskan 17 musim profesional di tim utama Barcelona (2004-2021), mencetak rekor yang hampir mustahil dikejar.

Disisi lain, Lamine Yamal yang baru berusia 19 tahun baru saja menyelesaikan musim 2025/2026 yang luar biasa sebagai top skor klub La Liga Spanyol. 

Secara keseluruhan, pencapaian Messi di Barcelona berada di level historis yang tak tertandingi, sementara Yamal baru saja memulai dinasti barunya.

Lionel Messi berkarier total di Barcelona menghasilkan  672 gol dan 303 assist dalam 778 penampilan. 

Dominasi Messi di Spanyol dan Eropa bersama FC Barcelona membuahkan total 35 trofi utama, termasuk 10 gelar La Liga, 7 Juara Copa del Rey dan 4 Liga Champions (2006, 2009, 2011, 2015), 8 Supercopa de España, 3 Piala Super Eropa serta 3 Piala Dunia Antarklub. 

Dari performa luar biasanya tersebut, Messi memenangkan 6 dari 8 penghargaan Ballon d'Or miliknya khusus saat masih aktif mengenakan seragam Barcelona (2009, 2010, 2011, 2012, 2015, 2019).

Kebersamaan legendaris ini harus berakhir secara mendadak pada Agustus 2021. Meski Messi bersedia memotong gajinya demi bertahan, tapi Barcelona tidak mampu mendaftarkan kontrak barunya akibat krisis finansial klub yang mendalam dan regulasi pembatasan gaji ketat dari pihak La Liga.

Kemudian, Messi hengkang ke PSG sambil berlinang air mata dalam konferensi pers perpisahan sang maestro dengan publik Camp Nou. 

Sementara itu, Lamine Yamal hingga Musim 2025/2026 menjadi tulang punggung tim dan sukses mencetak 24 gol serta 17 assist di semua kompetisi pada musim terakhirnya. Yamal juga telah membantu Barcelona memenangkan 3 gelar La Liga, termasuk musim 2024/2025 dan 2025/2026.

Hubungan Ikonik: Foto Masa Kecil  Viral 

Meski demikian, hubungan kedua pemain ini memiliki kisah yang sangat unik. Pada tahun 2007, Messi yang saat itu baru berusia 20 tahun melakukan sesi foto amal bersama UNICEF.

Bayi yang digendong dan dimandikan oleh Messi dalam bak mandi tersebut adalah Lamine Yamal yang baru berusia 6 bulan.  Kini, foto ini viral di seluruh dunia dan sering dianggap sebagai momen magis, saat Sang GOAT "memberkati" penerusnya.

Bentrokan "Guru vs Murid" di Level Internasional Piala Dunia 2026

Tak hanya di lapangan, duel Argentina kontra Spanyol juga menghadirkan persaingan menarik di kursi pelatih. 

Pelatih Argentina 
Lionel Scaloni dan Pelatih Spanyol  Luis de la Fuente adalah dua pelatih jenius dibalik kesuksesan timnas masing-masing, yang secara luar biasa dipertemukan di babak Final Piala Dunia 2026. 

Pertemuan ini menjadi sangat emosional, karena De la Fuente merupakan mantan guru taktis Lionel Scaloni, ketika Scaloni mengambil kursus kepelatihan dibawah naungan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF). 

Duel ini menjadi panggung adu strategi antara "Sang Murid" yang berstatus Juara Bertahan Dunia melawan "Sang Guru" yang membawa Spanyol tampil perkasa di Piala Dunia 2026.

Pertandingan final Piala Dunia 2026 memicu respek luar biasa dari kedua belah pihak. Lionel Scaloni secara terbuka memuji De la Fuente sebagai salah satu mentor terbaiknya dan menyatakan kekaguman atas cara Spanyol bermain dibawah arahannya. 

Sementara itu, De la Fuente menyatakan kebahagiaannya bisa menghadapi sahabat sekaligus mantan muridnya di puncak kompetisi sepak bola tertinggi di bumi.

Keberhasilan Argentina (Scaloni) dan Spanyol (De la Fuente) menembus babak Final Piala Dunia 2026 menciptakan panggung adu strategi yang sangat emosional.

Lionel Scaloni menghadapi mantan mentor kepelatihannya sendiri, Luis de la Fuente. Di lapangan, Scaloni mengandalkan sistem yang membebaskan magis Messi, sementara De la Fuente mengandalkan agresivitas vertikal yang dimotori oleh Yamal.

Lionel Messi dan Lamine Yamal merepresentasikan dua era emas FC Barcelona yang dijembatani oleh hubungan takdir, taktik pelatih yang tepat, dan rivalitas internasional yang legendaris.

Secara puitis, kisah Messi dan Yamal berawal dari momen magis tahun 2007 saat Messi memandikan bayi Lamine Yamal dalam sesi foto amal, dan kini mencapai puncaknya ketika kedua sang bintang berdiri sebagai rival utama di partai paling bergengsi di dunia sepak bola, yakni Final Piala Dunia 2026. 

Head to Head 

Secara rekor pertemuan langsung (head-to-head) di lapangan, Lionel Messi dan Lamine Yamal belum pernah bertanding satu sama lain dalam pertandingan resmi sepanjang karier mereka.

 Meski demikian, takdir mempertemukan mereka untuk pertama kalinya dalam duel bersejarah pada babak Final Piala Dunia 2026.

Lionel Messi (Argentina) berusia 39 tahun, mencetak 8 gol dan 4 assist. Ia menjadi kreator utama remontada Argentina di semifinal dengan mencetak dua assist krusial saat menumbangkan Inggris 2-1.

Sedangkan, Lamine Yamal (Spanyol) berusia 19 tahun mencetak 1 gol dan menjadi motor serangan sayap kanan yang sangat ditakuti. Ia memimpin lini serang Spanyol melaju ke final setelah mengandaskan Prancis 2-0 di semifinal.

Timnas Argentina kontra Spanyol di panggung Piala Dunia pernah bertemu 1 kali, yaitu pada fase grup Piala Dunia Inggris 1966, saat Argentina menang dengan skor 2-1.

Prediksi Skor 

Menurut Supercomputer 
menempatkan La Furia Roja sebagai favorit tipis, namun mentalitas juara bertahan milik Albiceleste sudah teruji diprediksi mampu memaksa laga berjalan ketat.

Spanyol diprediksi mendominasi penguasaan bola dan mencetak gol lebih dulu lewat skema sayap dinamis. Namun, Argentina yang dikenal sebagai "raja comeback" diprediksi menyamakan kedudukan hingga aksi magis Lionel Messi sebagai pembeda di menit-menit akhir babak normal yang berpotensi membalikkan kondisi unggul atas Spanyol. 

Para pengamat bola memprediksi Argentina menang tipis 3-2 atas Spanyol dan berhak mengangkat trofi Piala Dunia 2026. 

Kemenangan Argentina diprediksi  mirip saat Albiceleste menjuarai Piala Dunia 1986 di Meksiko, Benua Amerika dengan skor 3-2 atas Jerman waktu itu.

Prof. Bakta juga menambahkan, Argentina merupakan tim bermental juara. Meski ketinggalan gol dari Inggris di babak Semifinal Piala Dunia 2026, tapi dalam 5-10 menit terakhir bisa mencetak 2 gol untuk membalikkan keunggulan Argentina atas lawannya. 

"Coba bayangkan dalam 10 menit terakhir bisa mencetak 2 gol ke gawang Inggris dan itu mendekati injury time hebatnya itu disana. Misalnya nanti Spanyol unggul duluan 1-0, kalau dia lengah bisa dikejar lagi kayak lawan Inggris kemarin.

Itu seninya kelas atas. Bagaimana kita punya impian PSSI akan seperti itu dan kapan itu entahlah," kata Prof. Bakta dengan penuh harapan. (WIG/002)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Mandirikan Ekonomi Daerah, Bangkitkan Semua Inovasi

Terpopuler

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

Presiden Prabowo Luncurkan Biodiesel B50, Indonesia Pangkas 44 Juta Ton Emisi CO₂ dan Jadi Sorotan Dunia

Presiden Prabowo Luncurkan Biodiesel B50, Indonesia Pangkas 44 Juta Ton Emisi CO₂ dan Jadi Sorotan Dunia

Rawan Perlintasan Ilegal, Sinergi Imigrasi dan ITB Inisiasi 'Pagar Digital'Patroli Drone untuk Pengawasan Perbatasan

Rawan Perlintasan Ilegal, Sinergi Imigrasi dan ITB Inisiasi 'Pagar Digital'Patroli Drone untuk Pengawasan Perbatasan

Indonesia Emas 2045: Wapres Gibran Dorong Peningkatkan Kapasitas Generasi Muda Hindu di GHBC 2026

Indonesia Emas 2045: Wapres Gibran Dorong Peningkatkan Kapasitas Generasi Muda Hindu di GHBC 2026