Denpasar (Atnews) - Jro Gde Sudibya salah satu teman diskusi Prof. I Gusti Ngurah Bagus bersama Acharya Yoga Nanda (alm.), dan Drs. Kt. Ngastawa SH, dalam rentang waktu lebih dari 25 tahun.
Prof. I Gusti Ngurah Bagus tidak hanya dikenang sebagai antropolog dan budayawan Bali, tetapi juga sebagai sosok yang meletakkan fondasi kajian kebudayaan Bali di tingkat internasional.
Prof. Bagus dikenal sebagai "The Father of Balinese Studies", sebutan yang diberikan oleh sejarawan Universitas Leiden, Prof. Henk Schulte Nordholt.
Menurut Sudibya, dalam perspektif pemikiran Prof. Ngurah Bagus Bali kini sedang ditimpa krisis kebudayaan yang pangkal penyebabnya krisis kepemimpinan dalam lingkup luas dengan daya rusak budaya yang dashyat.
Dalam krisis kebudayaan yang berlangsung, pemikiran dialektika tidak lahir, thesa, antithesa dan sintesa. "Yang sangat berbahaya kegagalan tidak diakui dan bahkan dianggap kesuksesan, termasuk melalui pencitraan dengan dana besar," kata Jro Gde Sudibya yang juga Alumni FE UI di Dekpasae, Jumat (17/7).
Sehingga pemikiran dialektik tidak lahir. Lebih berbahaya lagi, "barisan orang bertitel" meminjam istilah Soetan Sjahrir, sebagai instrument pembenaran dan legitimasi dari banyak kebijakan publik yang sarat masalah.
Panggilan Kenabian dari kalangan cerdik cendikia tidak muncul, sekadar "pak turut" kekuasaan, atau "tiarap" untuk menyelamatkan kepentingan diri.
Jangankan mengharapkan pemikiran jernih, kritis berdimensi masa depan, tempat "mesayuban" bagi warga meminjam istilah Prof.Bagus di tengah "musim kering" peradaban.
Apalagi kritik keras model "matbat" dengan niat dan itikad baik untuk koreksi, yang sering menimbulkan salah mengerti, "salah tampi" yang kupingnya tipis.
Di tengah krisis kebudayaan yang menimpa Bali, revitalisasi pemikiran Prof.Bagus menjadi semakin penting tentang: pergeseran sistem nilai dalam transformasi masyarakat yang disebut dengan pembangunan.
Kegagalan masyarakat "culture shock" dalam masyarakat transisi, satu kakinya menginjak di tradisi agraris pertanian yang religius dan satu kaki lainnya telah berkubang dalam modernisme sekuler.
Sebagai teman diskusi Prof.Ngurah Bagus lebih dari 25 tahun, bersama teman lainnya, Acarya Yogananda yang telah "mulih ke jati mula", Pak Drs. Ketut Ngastawa SH, rekan senior tidak suka berbasa-basi, "straight forward" dengan persoalan, dan seperti umumnya orang Bali yang rasional tidak suka puja-puji.
Seturut dengan pemikiran rekan senior ini, Bali memerlukan Stategi Kebudayaan yang cerdas, tidak sekadar produk tontonan yang dijadikan komoditas politik, design strategi dalam pertemuan budaya -culture encounter" antar bangsa.
Perpustakaan pribadinya yang begitu besar, yang didanai dengan dalam bahasa berseloroh rekan senior ini, "berani membeli dari menjual tanah", dan selalu merasa "kerauhan" kalau melihat tumpukan buku yang menantang untuk dibaca, mungkin sekarang hanya bisa "disantap" oleh putra bungsu beliau, rekan Prof.Dr.Ir.Ngurah Santiarsa.
"Prof. Bagus tetaplah tenang di alam sana, banyak rekan dan murid-murid di sini sesuai kemampuan menkultivasi pemikiran Bapak," ujarnya.
Maka dari itu, untuk mendorong pemikiran kritis para intelektual di Bali, biar tidak "melempem" dan sekadar "mecik manggis" ke penguasa. (GAB/002)