Dari Bali Jatra ke Ramayana Prambanan: Jejak India–Nusantara, Diplomasi Prabowo–Modi, dan Masa Depan Pariwisata Indonesia
Banner Bawah

Dari Bali Jatra ke Ramayana Prambanan: Jejak India–Nusantara, Diplomasi Prabowo–Modi, dan Masa Depan Pariwisata Indonesia

Admin 2 - atnews

2026-07-10
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dari Bali Jatra ke Ramayana Prambanan: Jejak India–Nusantara, Diplomasi Prabowo–Modi, dan Masa Depan Pariwisata Indonesia
Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.(ist/atnews)
Oleh Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.

“Kita perlu mengakui secara objektif bahwa India memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan Indonesia, antara lain jumlah penduduk yang sangat besar, warisan budaya (heritage) yang terjaga dan dimanfaatkan secara optimal, kemampuan adaptasi teknologi yang cepat, serta penguasaan bahasa Inggris yang luas di hampir seluruh wilayahnya.

Keunggulan-keunggulan tersebut menjadi modal penting yang memperkuat daya saing India di tingkat global sekaligus menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, inovasi, dan daya saing pariwisata”.

Jejak hubungan India–Nusantara bukan sekadar cerita masa lampau, melainkan modal simbolik dan ekonomis yang sangat relevan bagi strategi pariwisata Indonesia hari ini. Jejak itu hadir dalam candi, prasasti, festival maritim, seni pertunjukan, kuliner, hingga komunitas diaspora yang aktif bersosialisasi di kedua negara.

Pertemuan hangat Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi di New Delhi barubaru ini menunjukkan bahwa “jejaring Samudra Hindia” yang dulu ditopang kapalkapal dagang, kini diterjemahkan menjadi kerja sama strategis di bidang perdagangan, maritim, budaya, dan pariwisata.

Konteks historis yang kuat, ditambah momentum diplomasi kontemporer, menjadikan pasar India salah satu calon motor pertumbuhan wisatawan mancanegara ke Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.

Data kedatangan wisatawan asing ke Indonesia yang terus naik sejak 2024, dengan India termasuk negara yang pertumbuhannya signifikan, memperkuat argumen bahwa narasi India–Nusantara dapat diolah menjadi daya tarik pariwisata yang bernilai tinggi.

Pertanyaannya: bagaimana mengaitkan jejak sejarah panjang itu dengan strategi promosi yang konkret dan relevan bagi wisatawan India masa kini?

Fakta sejarah lisan dan tulisan: dari prasasti hingga wayang

Jejak prakemerdekaan paling kasat mata terlihat dalam arkeologi dan prasasti. Kompleks candi bercorak Hindu–Buddha seperti Prambanan, candicandi di Dieng, hingga peninggalan Sriwijaya di Sumatra memuat ikonografi dewadewa, stupa, dan relief naratif Ramayana Mahabharata yang jelas menunjukkan pengaruh India.

Prasasti beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta misalnya Yupa di Kutai dan Ciaruteun di Jawa Barat merupakan bukti tekstual langsung adopsi sistem tulisan dan bahasa dari India ke lingkungan politik dan keagamaan Nusantara. 

Di ranah seni dan ritual, transformasi epik India menjadi ekspresi lokal tampak pada tradisi wayang purwa dengan lakon Ramayana dan Mahabharata yang tetap dipentaskan di Jawa dan Bali.

Di Bali, praktik Hindu, penggunaan bahasa Sanskerta dalam mantra, dan ikonografi pura menunjukkan kesinambungan kosmologi yang berakar pada interaksi dengan India kuno, sekaligus berbaur dengan adat lokal.

Sendratari Ramayana di kompleks Prambanan menjadi wujud kontemporer adaptasi epik India, dipentaskan rutin dan telah menjadi ikon wisata budaya yang mudah diakses wisatawan domestik dan mancanegara. 

Tradisi maritim juga menyimpan memori India–Nusantara. Festival Bali Jatra (Bali Yatra/Baliyatra) di Cuttack, Odisha, yang berarti “Voyage to Bali”, setiap tahun memperingati pelayaran para Sadhaba (pelaut dan pedagang Odia) ke Bali, Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sri Lanka untuk berdagang rempah dan barang mewah.

Festival yang berlangsung di tepi Sungai Mahanadi pada hari Kartika Purnima itu berkembang menjadi salah satu pameran dagang terbuka terbesar di Asia, dengan pelepasan perahu simbolik (boita) sebagai penghormatan kepada leluhur maritim.

Di Bali sendiri, kegiatan “Bali re Bali Jatra” di Sukarno Centre menautkan identitas maritim Bali dengan tradisi Bali Jatra di Odisha, menghidupkan kembali memori jaringan dagang Samudra Hindia dalam bingkai budaya lokal.

Bukti kedekatan hubungan: dari diaspora, festival budaya, hingga diplomasi Prabowo–Modi

Kedekatan India–Indonesia bukan hanya narasi masa lalu, tetapi realitas sosial dan politik masa kini. Diaspora India khususnya komunitas Tamil, Gujarati, dan Sindhi aktif di sektor perdagangan, pendidikan, dan keagamaan, dengan kuilkuil Hindu dan pusat komunitas di Medan, Jakarta, Surabaya, dan kota lain.

Perayaan Diwali, Holi, dan berbagai festival budaya India di Indonesia memperkuat hubungan peopletopeople dan menjadi bukti sosial kontemporer kedekatan kedua negara.

Kehadiran pusat kebudayaan India (Indian Cultural Centre) serta kursus bahasa India di sejumlah kota Indonesia menunjukkan keberlanjutan hubungan budaya lintas generasi.

Penamaan institusi dan monumen yang merujuk tokoh India atau Indonesia misalnya Sukarno Centre yang terlibat dalam kegiatan terkait Odisha dan Bali menjadi simbol memoratif hubungan politik dan budaya yang saling mengakui.

Di tingkat diplomatik, peringatan 75 tahun hubungan Indonesia–India disertai pertunjukan seni klasik India (misalnya tari Odissi) di Indonesia dan berbagai kegiatan budaya bersama yang menegaskan narasi “hubungan peradaban”.

Narendra Modi dalam pidatonya di Bali pernah mengaitkan momentum itu dengan berlangsungnya Bali Jatra di Cuttack, memadukan memori maritim masa lalu dengan diplomasi masa kini sebagai “jejak naratif” yang hidup. 

Kunjungan Presiden Prabowo ke India sebagai tamu kehormatan pada perayaan Hari Republik ke76 dan pertemuan bilateral dengan Modi menjadi tonggak baru kemitraan strategis Indonesia–India.

Pertemuan yang berlangsung hangat itu menghasilkan komitmen memperkuat kerja sama di bidang perdagangan, investasi, maritim, digital, kesehatan, pendidikan, budaya, dan pariwisata, termasuk penandatanganan sejumlah MoU dan pembaruan kesepakatan keamanan maritim.

Dalam perspektif pariwisata, ini membuka ruang untuk mempercepat konektivitas udara, promosi bersama, dan paket wisata tematik yang menautkan India dan Indonesia sebagai “dua pilar peradaban Samudra Hindia”.

Masa depan pariwisata Indonesia dan pasar India: mempromosikan “Civilizational Tourism

Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia, dengan total 15,39 juta kedatangan pada 2025 dan pertumbuhan dua digit dari berbagai pasar utama, mengindikasikan momentum pemulihan yang kuat.

India tercatat sebagai salah satu pasar yang pertumbuhannya stabil, seiring meningkatnya kelas menengah dan minat wisata keluar negeri yang menggabungkan pengalaman budaya, spiritual, dan leisure.

Bagi Indonesia, pasar India bukan sekadar sumber volume, tetapi peluang untuk memasarkan produk pariwisata berbasis “civilizational tourism” wisata jejak peradaban dan hubungan historis.

Beberapa jenis pariwisata yang paling relevan untuk dipromosikan ke pasar India sesungguhnya dapat dirangkai dalam satu narasi yang mengalir. Pertama, wisata warisan Hindu–Buddha dan Ramayana–Mahabharata dapat dikemas sebagai perjalanan intelektual dan emosional yang menghubungkan situs sejarah dengan pengalaman budaya hidup.

Paket kunjungan ke Prambanan, Dieng, dan situs Sriwijaya tidak sekadar menjadi tur candi, tetapi dihubungkan dengan pertunjukan sendratari Ramayana dan tur interpretatif relief epik yang membantu wisatawan memahami bagaimana kisahkisah besar dari India bertransformasi di Nusantara.

Di jalur ini, penjelasan mengenai perubahan narasi Ramayana–Mahabharata menjadi wayang, tari klasik, dan seni rupa Nusantara akan sangat menarik bagi akademisi, pelajar, dan pencinta budaya India, karena mereka dapat melihat langsung bagaimana teks yang dikenal di tanah air mereka mendapat tafsir baru di Indonesia.

Kedua, wisata spiritual dan ritual Hindu di Bali menawarkan dimensi pengalaman batin yang kuat, sepanjang dikelola dengan sensitif terhadap batas etika dan kesakralan.

Wisatawan India dapat merasakan atmosfer purapura besar, menyaksikan upacara keagamaan, dan mengenali penggunaan mantra bernuansa Sanskerta dalam konteks adat Bali, tanpa mengganggu ruang sakral masyarakat lokal.

Pengalaman ini dapat diperkaya dengan retret yoga, meditasi, dan program wellness yang berbasis kearifan lokal Bali namun tetap menyisakan ruang dialog dengan tradisi India, sehingga menempatkan Indonesia sebagai salah satu pemain penting dalam pasar wellness tourism Asia.

Ketiga, wisata maritim dengan konsep “Bali Jatra Route” menghidupkan kembali narasi pelayaran Sadhaba dari Kalinga ke Bali, Jawa, Sumatra, dan Kalimantan sebagai tema perjalanan yang memadukan sejarah dan petualangan.

Narasi tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk paket cruise atau sailing trip “Voyage to the Spice Islands” yang menautkan festival Bali Jatra di Odisha dengan destinasi pesisir di Indonesia, sehingga wisatawan India merasakan kesinambungan antara perayaan di tanah air dan jejaknya di Nusantara.

Kegiatan festival maritim di Bali dan Jawa, seperti regatta dan pelepasan perahu simbolik, jika ditautkan secara eksplisit dengan tradisi Bali Jatra, akan memiliki daya tarik khusus bagi wisatawan yang tertarik pada sejarah dagang dan pelayaran Samudra Hindia.

Keempat, wisata diaspora dan kuliner lintas budaya membuka ruang bagi diplomasi yang lebih lembut melalui makanan dan kehidupan seharihari. Tur kota di Medan, Jakarta, dan Surabaya dapat dirancang untuk mengunjungi kuil India, kawasan bisnis diaspora, dan restoran yang memadukan rempahrempah Nusantara dengan cita rasa India, sehingga wisatawan melihat langsung bagaimana jaringan perdagangan lada, kayu manis, kapur barus, dan tekstil yang terbentuk sejak masa klasik kini tercermin dalam lanskap kota modern.

Festival kuliner bertema “Spice Route India–Indonesia” yang menonjolkan kesamaan dan perbedaan bumbu dapat menjadi sarana diplomasi gastronomi yang efektif, karena melalui rasa, percakapan lintas budaya berlangsung secara natural dan menyenangkan.

Kelima, wisata diplomatik dan forum internasional dapat diarahkan kepada segmen pelajar, peneliti, dan profesional muda yang ingin memadukan perjalanan dengan pengayaan akademik.

Paket kunjungan yang memanfaatkan momentum kerja sama di G20, BRICS, dan Indo Pasifik dapat diwujudkan dalam bentuk program short course atau youth exchange yang menggabungkan kunjungan ke pusat kebudayaan India, universitas, dan situs sejarah di Indonesia, sehingga peserta merasakan hubungan antarnegara bukan hanya lewat berita, tetapi melalui interaksi langsung.

Dalam kerangka ini, pendekatan sitebased learning untuk mahasiswa India dan Indonesia melalui kunjungan ke candi, pelabuhan sejarah, festival budaya, dan komunitas diaspora yang dikombinasikan dengan etnografi singkat dan diskusi akademik akan menjadikan perjalanan sebagai ruang belajar yang hidup, dan sekaligus memperkuat fondasi jangka panjang hubungan peopletopeople antara kedua negara.

Menghubungkan memori, diplomasi, dan strategi promosi

Jejak hubungan India–Nusantara/Indonesia terbukti nyata bukan hanya di batu candi dan prasasti, tetapi juga di panggung sendratari Ramayana, festival Bali Jatra, dapur kuliner rempah, kehidupan komunitas diaspora, dan ruang diplomasi yang kini aktif mengartikulasikan “hubungan peradaban”.

Kunjungan PM India Narendra Modi yang disambut hangat Presiden Prabowo, dengan komitmen memperkuat kerja sama di bidang maritim, budaya, dan pariwisata, memberi momentum politik untuk mengemas sejarah panjang itu menjadi produk wisata yang berkelanjutan dan saling menguntungkan.

Bagi Indonesia, masa depan pariwisata dengan pasar India menuntut kemampuan mengelola narasi lintas waktu: dari kapal Sadhaba di Bali Jatra hingga penerbangan langsung Delhi–Denpasar; dari relief Ramayana di Prambanan hingga pertunjukan seni di forum G20.

“Civilizational tourism” yang menggabungkan warisan Hindu–Buddha, spiritual Bali, jalur maritim rempah, kuliner lintas budaya, dan diplomasi kontemporer adalah salah satu jawaban paling strategis untuk mempromosikan Indonesia di mata wisatawan India abad ke21 (IGBRU).

*) Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA.
Akademisi Pariwisata Universitas Dhyana Pura

Baca Artikel Menarik Lainnya : Bulan Bahasa Bali Diawali Festival Nyurat Lontar dengan Seribu Peserta

Terpopuler

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Tutik Kusuma Wardhani Ucapkan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Tutik Kusuma Wardhani Ucapkan Hari Raya Galungan dan Kuningan

Rawan Perlintasan Ilegal, Sinergi Imigrasi dan ITB Inisiasi 'Pagar Digital'Patroli Drone untuk Pengawasan Perbatasan

Rawan Perlintasan Ilegal, Sinergi Imigrasi dan ITB Inisiasi 'Pagar Digital'Patroli Drone untuk Pengawasan Perbatasan

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026