Desa Wisata Penglipuran Sambut Libur Sekolah dan Penglipuran Village Festival XIII
Desa Wisata Penglipuran Sambut Libur Sekolah dan Penglipuran Village Festival XIII
Admin 2 -
atnews
2026-07-08
Bagikan :
Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 (ist/atnews)
Bangli (Atnews) - Memasuki puncak musim liburan sekolah, Desa Wisata Penglipuran kembali menjadi salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara.
Beragam atraksi budaya, aktivitas edukatif, dan pengalaman wisata berbasis masyarakat telah dipersiapkan untuk menyambut para pengunjung, sekaligus menjadi rangkaian menuju Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026 yang akan diselenggarakan pada 9–11 Juli 2026 di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Bali, Senin (6/7/2026).
Sebagai penerima penghargaan Best Tourism Village dari UN Tourism Tahun 2024, Desa Wisata Penglipuran terus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata dunia yang mengedepankan pelestarian budaya, kelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
Tahun ini, festival mengangkat tema "Harmoni Bhumi Penglipuran: Menuju Pariwisata Inklusif, Berkelanjutan dan Regeneratif."
Tema tersebut menjadi representasi dari visi besar Desa Wisata Penglipuran dalam mewujudkan Pariwisata Regeneratif (Regenerative Tourism). Bagi Penglipuran, keberhasilan pariwisata tidak lagi hanya diukur dari banyaknya jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari sejauh mana pariwisata mampu memberikan dampak positif yang nyata bagi lingkungan, masyarakat, budaya, dan generasi mendatang.
Pariwisata regeneratif merupakan pendekatan yang tidak hanya menjaga apa yang sudah ada, tetapi juga memperbaiki dan menciptakan kondisi yang lebih baik dibanding sebelumnya. Melalui konsep ini, Desa Penglipuran ingin memastikan bahwa setiap wisatawan yang datang ikut berkontribusi dalam menjaga adat istiadat, melestarikan lingkungan, memperkuat ekonomi masyarakat, memperkaya pengalaman budaya, serta meninggalkan manfaat yang berkelanjutan bagi desa.
Menghadirkan Pengalaman Wisata yang Lebih Bermakna
Selama masa liburan sekolah, wisatawan tidak hanya menikmati keindahan desa yang dikenal sebagai salah satu desa terbersih di dunia, tetapi juga diajak merasakan kehidupan masyarakat melalui berbagai aktivitas budaya yang interaktif. Berbagai kegiatan telah disiapkan, di antaranya: Pertunjukan Tari Barong Macan, sebagai salah satu kesenian khas yang menggambarkan filosofi keseimbangan kehidupan masyarakat Bali.
Belajar membuat Loloh, minuman herbal tradisional Bali yang diracik dari berbagai tanaman obat lokal sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat. Melukis di atas bambu, aktivitas kreatif yang memperkenalkan seni tradisional kepada anak-anak dan keluarga sekaligus menjadi suvenir yang dapat dibawa pulang.
Melalui kegiatan tersebut, wisatawan diharapkan memperoleh pengalaman yang lebih mendalam, tidak hanya menikmati panorama desa, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya, tradisi, serta kehidupan masyarakat Penglipuran yang masih terjaga hingga saat ini.
Kunjungan Wisatawan Meningkat Selama Liburan Sekolah
Momentum liburan sekolah kembali memberikan dampak positif terhadap kunjungan wisatawan ke Desa Wisata Penglipuran. Sejak 23 Juni hingga 5 Juli 2026, jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara menunjukkan peningkatan yang signifikan dengan rata-rata lebih dari 3.500 pengunjung setiap hari.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan hari-hari reguler yang rata-rata menerima sekitar 2.000 wisatawan per hari. Peningkatan ini menunjukkan bahwa Desa Penglipuran tetap menjadi destinasi pilihan bagi keluarga yang ingin menikmati liburan yang edukatif, nyaman, sekaligus dekat dengan budaya dan alam. Pengelola optimistis tren kunjungan akan terus meningkat hingga pertengahan Juli seiring dimulainya Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026.
Festival Budaya untuk Masa Depan Desa
Festival tahun ini akan menghadirkan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan seluruh komponen masyarakat, mulai dari pertunjukan seni tradisional, parade budaya, pameran produk UMKM, aktivitas edukasi budaya, lomba-lomba tradisional, hingga hiburan rakyat.
Festival tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya masyarakat, tetapi juga menjadi media edukasi bagi wisatawan tentang pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang sebagai implementasi nyata dari konsep community-based tourism, di mana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pengelolaan pariwisata sekaligus penerima manfaat ekonomi secara langsung.
Menurut I Wayan Sumiarsa, Kepala Badan Usaha Desa Adat (BUPDA) Penglipuran, festival merupakan momentum untuk menunjukkan kepada dunia bahwa desa adat mampu mengembangkan pariwisata yang berkualitas tanpa kehilangan identitas budayanya.
"Penglipuran Village Festival bukan sekadar sebuah perayaan budaya, tetapi merupakan komitmen masyarakat kami untuk terus menjaga harmoni antara manusia, alam, dan budaya.
Melalui tema 'Harmoni Bhumi Penglipuran', kami ingin memperkenalkan visi Desa Wisata Penglipuran menuju Pariwisata Regeneratif, yaitu pariwisata yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga mampu memulihkan lingkungan, memperkuat budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan meninggalkan warisan yang lebih baik bagi generasi mendatang."
I Wayan Sumiarsa menambahkan bahwa setiap wisatawan yang datang ke Penglipuran diharapkan menjadi bagian dari perjalanan regeneratif tersebut. "Kami ingin setiap tamu tidak hanya membawa pulang foto-foto indah, tetapi juga pengalaman, pengetahuan, serta kepedulian terhadap budaya dan lingkungan.
Ketika wisatawan menikmati kuliner lokal, membeli produk UMKM, mengikuti aktivitas budaya, dan menjaga kebersihan desa, sesungguhnya mereka telah menjadi bagian dari pembangunan desa yang berkelanjutan."
Mengajak Wisatawan Menjadi Bagian dari Pariwisata Regeneratif
Seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan, pengelola Desa Wisata Penglipuran mengajak seluruh pengunjung untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian desa. Tempat sampah telah disediakan di berbagai titik kawasan wisata.
Wisatawan diimbau untuk membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghormati adat dan budaya setempat, serta mendukung perekonomian masyarakat dengan membeli produk-produk UMKM lokal dan menikmati kuliner khas Desa Penglipuran. Setiap langkah kecil wisatawan akan memberikan dampak besar bagi keberlangsungan desa.
Melalui semangat Pariwisata Regeneratif, Desa Penglipuran ingin memastikan bahwa setiap kunjungan bukan hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membantu menjaga lingkungan tetap hijau, memperkuat budaya lokal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mewariskan desa yang lebih baik kepada generasi berikutnya.
"Kami mengundang seluruh masyarakat Indonesia dan wisatawan mancanegara untuk datang ke Desa Wisata Penglipuran, menikmati suasana desa adat yang lestari, mengikuti berbagai kegiatan selama liburan sekolah, serta bersama-sama merayakan Penglipuran Village Festival XIII Tahun 2026.
Mari menjadi wisatawan yang bertanggung jawab dan menjadi bagian dari perjalanan Desa Penglipuran menuju pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif," tutup I Wayan Sumiarsa. (Z/002)