Refleksi Raina Anggarkasih Medangsia, Tantangan Keras Merawat Kesucian Pulau Bali di Tengah Krisis Kepemimpinan
Banner Bawah

Refleksi Raina Anggarkasih Medangsia, Tantangan Keras Merawat Kesucian Pulau Bali di Tengah Krisis Kepemimpinan

Admin - atnews

2026-07-07
Bagikan :
Dokumentasi dari - Refleksi Raina Anggarkasih Medangsia, Tantangan Keras Merawat Kesucian Pulau Bali di Tengah Krisis Kepemimpinan
Jro Gde Sudibya (ist/Atnews)
Oleh Jro Gde Sudibya 

Hari Selasa, 7 Juli 2026, raina Anggarkasih Medangsia, sasih Kedasa Saka 1948, pujawali, piodalan ring Pura Kahyangan Jagat: Luur Andakasa, di Selatan Pulau Bali, pemujaan Tuhan Brahma dengan "pengurip" 9, Pura Goa Lawah di Tenggara Pulau Bali, pemujaan Tuhan Maheswara dengan "pengurip" 8, Luur Uluwatu di Barat Daya Pulau Bali, pemujaan Tuhan Rudra dengan pengurip 3.
Pujawali di Sisi Selatan, Tenggara, dan Barat Daya Pulau Bali, dalam perspektif sastra rokhani, Bali yang disimbolikkan dengan PADMA BHUWANA, "diayomi" oleh kekuatan Tuhan Shiva di delapan penjuru angin Bali.

Keyakinan dan nalarnya, Bali akan mampu menghadapi tantangan dan musuh dari luar, tetapi amat rentan dari "musuh" dari dalam, kualitas intelektual, moral dan spiritual dari manusia manusia Bali dalam menjaga dan merawat: Alam, Kebudayaan dan Kesuciannya.

Kualitas Manusia yang teguh hati, penuh ketulusan (lascarya), kerelaan penuh mengabdi (nuking tuwas), prestasi yang "metaksu" dan sikap "jengah" dalam merespons perubahan yang keras.

Menyebut saja beberapa perubahan keras yang dimaksud, malapetaka datang pelan mematikan (on off disaster).

Pertama, materialisme yang menggerus spiritualisme, kehidupan yang menjadi serba boleh, "gabeng" yang dapat "menabrak" kawasan kesucian Pura yang seharusnya disakralkan. 

Kedua, tradisi untuk setia untuk mengikuti keteladan para leluhur dengan tradisi hukum karma, sekarang dimanipulasi untuk kepentingan jangka pendek, kekhausan akan kesenangan, kenikmatan dengan melanggar habis "sesana" etika kehidupan.

Ketiga, keteladan kepemimpinan yang sirna, kalau tidak mau dikatakan punah, kejujuran, dharma pengabdian untuk masyarakat  berubah wujud menjadi "dasa muka" prilaku: demogogi politik (pintar membuat janji yang kemudian diingkari), tipu muslihat dan kelicikan dalam prilaku, dengan "menyuap" rakyat melalui uang negara yang pada dasarnya diselewengkan, lengkap dengan pamer mewah aksesori seharga Rp.5,2 M - Rp.8 M.

Sejumlah tantangan keras untuk merawat kesucian Pulau Dewata, melalui kemampuan dalam mengendalikan musuh dalam diri, terutama bagi tuan-puan yang sedang berkuasa.

*) Jro Gde Sudibya, intelektual Bali, pengamat kecenderungan masa depan.

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kemendes PDTT Resmikan BUMDes Mart di Bengkulu Utara

Terpopuler

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan