Tirtayatra Rutin, Pengurus Monumen Perjuangan Bangsal Mohon Kekuatan di Pura Luhur Lempuyangan
Tirtayatra Rutin, Pengurus Monumen Perjuangan Bangsal Mohon Kekuatan di Pura Luhur Lempuyangan
Admin 2 -
atnews
2026-07-05
Bagikan :
Pengurus Monumen Bangsal Tirtayatra ke Lempuyang (ist/atnews)
Karangasem (Atnews) - Khusyuk dan tertib. Belasan pengurus Monumen Perjuangan Bangsal melaksanakan tirtayatra ke Pura Luhur Lempuyang, Karangasem. Kain putih dan udeng melekat, langkah demi langkah menaiki anak tangga pura yang berada di lereng Gunung Lempuyang itu diiringi doa, Minggu (5/7/2026).
Kegiatan ini merupakan rangkaian rutin yang dilakukan pengurus untuk menyucikan diri sekaligus memohon petunjuk dalam menjaga nilai-nilai perjuangan yang diemban monumen.
"Kami tirtayatra ke Lempuyang untuk memohon kerahayuan, keselamatan, dan kekuatan. Menjaga monumen perjuangan tidak hanya soal fisik, tapi juga soal hati dan spiritual," ujar dr. I B Agung Widiaryana, Sp.OG, selaku salah satu pengurus Monumen Perjuangan Bangsal, saat ditemui usai persembahyangan.
Rangkaian Tirtayatra ke Pura-Pura Besar
Menurut dr. Widiaryana, tirtayatra ke Pura Luhur Lempuyang ini bukan yang pertama. Sebelumnya, para pengurus juga telah melaksanakan persembahyangan ke Pura Tirta Empul, Tampaksiring dan Pura Batur, Kintamani.
"Tiga pura besar ini kami kunjungi secara bergilir. Tirta Empul untuk penyucian, Batur untuk memohon kesuburan dan keseimbangan alam, dan Lempuyang untuk memohon kejernihan pikiran serta keteguhan dalam dharma," jelasnya.
Bagi pengurus, memilih Sad Kahyangan dan pura-pura besar bukan tanpa alasan. Nilai-nilai yang ada di dalamnya diyakini selaras dengan semangat Monumen Perjuangan Bangsal: pengorbanan, keikhlasan, dan pengabdian kepada bangsa dan negara.
Menjaga Sekala dan Niskala
Monumen Perjuangan Bangsal selama ini menjadi tempat ziarah, edukasi sejarah, dan upacara keagamaan. Para pengurus menilai, merawat monumen harus dilakukan secara sekala dan niskala.
"Secara sekala kami rawat bangunannya, datanya, dan kegiatannya. Secara niskala kami sucikan dengan persembahyangan. Agar semangat para pahlawan yang kita kenang tidak padam," tegas dr. Widiaryana.
Usai persembahyangan, kegiatan ditutup dengan doa bersama. Para pengurus berharap, melalui tirtayatra ini, generasi muda dapat terus mengingat sejarah dan meneladani semangat juang para leluhur.
"Kami titip pesan: jangan lupakan sejarah. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya," pungkasnya. (Z/002)