Denpasar (Atnews) – Di tengah ketidakpastian dinamika global, perekonomian Indonesia mencatatkan performa impresif pada awal tahun 2026. Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada kuartal pertama dilaporkan tumbuh sebesar 5,61 persen.
Angka ini tidak hanya melampaui capaian hampir seluruh negara anggota G20, tetapi juga menjadi rekor pertumbuhan kuartal pertama tertinggi bagi Indonesia dalam 13 tahun terakhir.
Dinamika dan momentum positif tersebut menjadi bahasan utama dalam diskusi komprehensif UID Talk ke-28 yang mengusung tema "Indonesia's Economic Outlook: Peluang, Tantangan dan Arah ke Depan Ekonomi Indonesia".
Acara ini diselenggarakan pada Sabtu, 4 Juli 2026, bertempat di UID Bali Campus, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura-Kura Bali, Serangan.
Diskusi strategis ini menghadirkan dua narasumber berkompeten, yaitu Anindya Bakrie (Ketua Umum KADIN Indonesia) dan Prof. Dr. I Nyoman Mahendra Yasa, S.E., M.Si. (Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia [ISEI] Bali), dengan dipandu oleh moderator Trisno Nugroho, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali periode 2019-2023.
President United in Diversity (UID) Foundation, Tantowi Yahya, dalam sambutannya menegaskan bahwa pertumbuhan tinggi nasional ini harus disikapi dengan kesiapan dan keberanian mengambil keputusan strategis.
"Pada kuartal pertama tahun ini, ekonomi kita tumbuh 5,61 persen, melampaui hampir seluruh negara G20, dan menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi kita dalam 13 tahun terakhir.
Ini bukan kebetulan, tapi ini juga bukan jaminan. Momentum seperti ini hanya berarti kalau kita cukup siap, cukup berani dalam mengambil keputusan," ujarnya.
Ia kemudian menjadikan Bali sebagai cermin konkret dari wilayah yang memiliki pertumbuhan ekonomi sangat tinggi, namun menyimpan kerentanan besar akibat ketergantungan pada satu sektor tunggal.
Saat ini, pariwisata menyumbang sekitar 56 hingga 60 persen dari perekonomian daerah Bali, yang memicu munculnya berbagai gugatan dari masyarakat terkait arah pembangunan ke depan dan kontribusi besar mereka terhadap pendapatan negara.
Tantowi mengingatkan bahwa ketergantungan ini harus segera dievaluasi demi masa depan daerah.
"Semakin besar ketergantungan pada satu sektor, semakin besar pula kerentenannya. Pertanyaannya bukan lagi apakah Bali boleh atau perlu bertransformasi, tapi bagaimana transformasi itu dilakukan dengan model bisnis yang tidak hanya mengambil dari Bali, tapi tumbuh bersama Bali," tegasnya.
Menurutnya, krisis kesehatan beberapa tahun lalu harus menjadi pelajaran berharga bagi para pemangku kebijakan.
"COVID-19 selama dua tahun mengajarkan kita bahwa tidak boleh satu daerah hanya mengandalkan satu bisnis saja. Apalagi pariwisata, yang rentan terhadap perjalanan, rentan terhadap orang menginap sekian lama. Oleh karena itu, Bali disiapkan untuk menghadapi tantangan ke depan."
Merespons tantangan tersebut, BTID selaku pemilik sekaligus pengembang dari KEK Kura-Kura Bali disiapkan menjadi jawaban atas tantangan masa depan Bali.
Di kawasan ini, akan dibangun pemukiman, pusat studi, pusat riset (research), lifestyle, penataan lanskap, peningkatan kesejahteraan, hingga sektor ekonomi baru yang sedang berkembang pesat di dunia pariwisata global, yaitu longevity. "Kita memulai bisnis baru longevity dari tempat ini," tambahnya.
Di sisi lain, kehadiran Ketua Umum KADIN, Anindya Bakrie, dinilai memberikan perspektif global yang sangat berharga. Pengalaman langsung Anindya yang kerap mendampingi Presiden RI dalam berbagai kunjungan diplomatik, menyaksikan bagaimana Indonesia dibaca di panggung ekonomi dunia, hingga ikut serta dalam penandatanganan berbagai kesepakatan internasional (MoU) dengan negara sahabat, menjadi modal pengetahuan yang tidak didapatkan dari buku teks.
Tantowi menyebut bahwa jika ingin mendengarkan apa kata hati, denyut nadi, serta napas Presiden untuk ekonomi, maka Anindya Bakrie adalah orang yang tepat.
Dalam diskusi ini, perspektif kebijakan praktis dari ketum KADIN tersebut disandingkan dengan analisis data dan teori secara lebih benar oleh Prof. Mahendra Yasa dari ISEI Bali. (SUK/002)