Oleh Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, M.T.P.
Kemanapun pergi entah karena uleman atau karena kemauan sendiri, selalu kagum pada nuansa taman disetiap desa, asri dan indah. Tidak seperti wilayah lain, kadangkala kumuh. Ini saya tarik sendiri.
Memang beberapa bulan belakangan, tumpukan sampah menggunung, tapi tumpukannya masih sopan dan rapi, karena disarungi plastik merah atau hitam. Nanti juga akan membaik setelah tata kelola sampah menemukan titik yg pas. Karena urusan di Bali, bukan saja sampah, tetapi juga kemiskinan, ODGJ, skisoprenia, budaya dan adat yg mulai seperti terkomodifikasi dan tentu saja trafic congention yang sudah mencapai LOS D-E. Suatu saat juga akan membaik, bila moda dan aksesibilitas membaik.
Rasa hormat tak akan pudar, apapun itu. Rasa hormat ini harus dijaga, tanpa mengurangi dan menambah. Keluh kesah, bahkan hujatan tak akan menyelesaikan masalah, karena masalah bisa tuntas bila ditangani dengan manajamen yang baik atau abaikan agar masalah selesai dengan sendirinya.
Pada pasca Galungan ini, tanpa didahului dengan merayakan Sugihan, lalu tanpa tenjor dan bahkan tidak merayakan Kuningan, bikanlah karena rasa tidak hormat, tetapi bentuk menjaga Kuna drestha yang membuat hati tenang dan damai.
Karena seperti banyak orang mengatakan, para Manggala, para Panglingsir bahkan filsof modern seperti Emile Durkeim, beragama adalah refleksi dari rasa suka, tulis dan iklas untuk mencapai damai (happy) dan bebas dari stress dan defresi.
Karena, di jalanan, di pasar, bahkan ketika duduk bakti menyambut Ratu Gde ngelelawang, banyak orang berkeluh kesah tentang kehidupan sosial yang semakin membutuhkan pemenuhan yg komplek, beda dengan dulu (enteng Bali).
Namun siapa bilang Krama Bali tak mampu menjaga budaya dan adatnya? Kesemarakan Yajna semakin membanggakan dan membesarkan hati (istilah Pak Harto). Hegemoni Griye sebagai pusat budaya Banten semakin mantap. Perbuatan berupacara bukannya mengendor tetapi semakin semarak.
Krama Bali Unik, kalau seseorang atau komunitas semakin maju biasanya mereka semakin modern. Namun Krama Bali, semakin maju dan kaya, semakin tradisional: rumah akan dibangun bergaya Bali yang biayanya sampai 4-10 kali rumah konvensional, Yajna pastilah utama dengan undangan melimpah.
Namun ada sekelompok orang yang beruntung, para pebisnis wisata, menikmati cuan dari kerelaan manusia Bali menjaga budaya dan tradisi. Ini juga menguntungkan karena setidaknya ada beredar 6 triliun.
Bila sekarang wisatawan masuk kena 150 RB atau 250 RB, rasanya wajar.
Namun itu sudah ada yang ngatur: Guru Wisesa. Krama tetap saja hormat dan menjalan Swadharma.
HANGAYUBAHGYA Paing Galungan.
Semoga Bali semakin Baik.
*) Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, M.T.P., seorang tokoh Akademisi, Penulis, dan Pemerhati Budaya Bali