Oleh Bagus Ngurah Rai
“Kapitalisme, Liberalisme, Konsumerisme dan Materialisme.” Empat kata itu menjadi alarm keras 13 tahun silam. Buku Merajut Asa di Rumah Rakyat terbitan Tim RRI Singaraja menulis: bangsa ini tampak belum siap menghadapi tantangan globalisasi yang sangat dahsyat. Itu perang non-fisik. Perang ideologi. Soft war.
Di tengah riuh itu, Bali bergerak. Bukan lewat pidato, tapi lewat deklarasi. Kamis, 15 Agustus 2013, di Monumen Perjuangan Bangsal MPB, sekitar 500 orang hadir menyaksikan lahirnya Gerakan Nasional Pembudayaan Pancasila GNPP Provinsi Bali. Veteran, akademisi, tokoh masyarakat, pemuda, serta Resimen Mahasiswa Ugrasena dan PPM Bali berdiri satu barisan.
Ketika Pancasila “Terlupa”, Bahaya Mengintai
Buku Merajut Asa di Rumah Rakyat menampar. Isinya gamblang: Indonesia terlupa dengan jati dirinya. Pancasila tidak dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pembangunan di segala bidang tidak dilaksanakan sebagai pengamalan Pancasila.
“Kalau terus berlanjut, hal ini adalah sesuatu yang mengandung bahaya bagi masa depan bangsa. Sebuah bangsa yang dahulu dibangun dengan tetesan darah dan berbagai pengorbanan lahir batin oleh para pendiri bangsa,” tulis buku itu.
15 Agustus 2013: Deklarasi dan Prasasti di MPB
MPB dipilih bukan kebetulan. Monumen Perjuangan Bangsal dulunya adalah markas rahasia perjuangan kemerdekaan. Di tempat ini terjadi peristiwa puncak pertemuan rahasia gerakan bawah tanah pejuang RI di Bali pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum Proklamasi. Di titik inilah sejarah Bali melawan penjajah ditulis dengan darah dan strategi.
Kini, 68 tahun kemudian, sejarah baru ditulis di tempat yang sama: melawan “penjajah” gaya hidup.
Selain pembacaan deklarasi, momen penting saat itu adalah penandatanganan Prasasti Deklarasi GNPP Bali yang dipasang di Monumen Perjuangan Bangsal.
Penandatangan Prasasti Deklarasi GNPP Bali, 15 Agustus 2013:
1. Jenderal TNI Purn. Ki Tyasno Sudarto — Ketua Umum Dewan Harian Nasional BPK Angkatan 45, menandatangani selaku yang “mengetahui”
2. Ida Bagus Kompyang — Ketua DPD LVRI Bali
3. Ir. Anak Agung Nanik Suryani — Ketua PD PPM Bali
4. Prof. Dr. Wayan Windia — Ketua Umum DHD BPK Angkatan 45 Bali
5. Gusti Nyoman Rai Susandi — Sekretaris DHD BPK Angkatan 45 Bali
6. Drs. I Made Gede Putra Wijaya, S.H.,M.Si.— Ketua GNPP Bali 2013-2025
7. Dr. Drs. I Wayan Winaja,M.Si. — Sekretaris GNPP Bali
8. dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, Sp.A(K) — Ketua Umum Manajemen MPB
Profil Singkat: Jenderal TNI Purn. Ki Tyasno Sudarto
Jenderal Tyasno Sudarto adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat KASAD periode 1999-2000. Lulusan AMN 1965, ia pernah menjabat Pangdam VII / Wirabuana dan Wakil KSAD sebelum memimpin TNI AD.
Setelah purnatugas, ia aktif di pembinaan nilai kejuangan. Sebagai Ketua Umum DHN BPK Angkatan 45, kehadirannya menandatangani prasasti GNPP Bali 2013 menjadi penegas bahwa gerakan ini terhubung langsung dengan jiwa 1945.
2025-2030: Estafet ke Made Dharma Putra + 15 Ribu Kader
Api itu tidak padam. 12 tahun berselang, GNPP Bali masuk babak baru. Untuk periode 2025-2030, Made Dharma Putra ditunjuk menjadi Ketua GNPP Provinsi Bali. Ia memimpin gerakan lanjutan untuk menjawab tantangan zaman: hoaks, intoleransi, individualisme, dan derasnya arus digital.
Estafet dari Drs. I Made Gede Putra Wijaya, S.H.,M.Si. ke Made Dharma Putra menandakan satu hal: pembudayaan Pancasila bukan proyek lima tahunan. Ia kerja panjang, lintas generasi.
GNPP Bali tercatat telah mencetak 15 ribu kader bela negara melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara PPBN. Di sanalah semangat Pancasila digelorakan sebagai sikap: disiplin, cinta tanah air, rela berkorban, gotong royong.
Cikal Bakal Gugus Kebangsaan 2015
Cikal bakal Gugus Kebangsaan merupakan hasil kerja sama Korps Menwa Indonesia/Ugrasena, Monumen Perjuangan Bangsal, DHD Angkatan 45, dan GNPP Bali. Kerja sama itu ditandatangani di Monumen Resimen Mahasiswa Ugrasena pada 2015.
Selamat bekerja GNPP Bali 2025-2030.
Karena seperti kata Merajut Asa di Rumah Rakyat: sebuah bangsa yang dibangun dengan darah, tidak boleh runtuh karena lupa.
*) Bagus Ngurah Rai, Ketua DHD Angkatan 45 Prov Bali, mantan Kepala Stasiun RRI Singaraja dan mantan Ketua PWI Bali.