Denpasar (Atnews) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), lembaga pendidikan berbasis agama, termasuk pendidikan Hindu, dinilai sedang menghadapi momentum historis yang sangat krusial.
Sekolah dan kampus keagamaan dituntut untuk tidak lagi sekadar mengajarkan ritus atau dogma, melainkan menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter manusia seutuhnya.
Hal tersebut diungkapkan oleh pengajar sekaligus pengamat lembaga pendidikan basis agama di Indonesia, I Made Bagus Andi Purnomo. Ia menepis keraguan klasik masyarakat yang sering mempertanyakan prospek kerja dan masa depan lulusan sekolah keagamaan di era modern yang pragmatis.
Menurut Andi, ketika AI mulai mengambil alih sebagian besar pekerjaan teknis, administratif, hingga analitis, aspek yang justru akan semakin bernilai di masa depan adalah kemampuan intrinsik yang hanya dimiliki oleh manusia.
"Jika AI mampu menggantikan sebagian besar pekerjaan teknis, administratif, bahkan analitis, maka aspek yang justru semakin bernilai di masa depan adalah kemampuan yang bersifat intrinsik manusiawi; empati, kebijaksanaan etik, kepekaan batin, refleksi eksistensial, kemampuan membangun relasi, serta kesadaran spiritual," ungkapnya.
Ia menambahkan, program studi khas seperti filsafat agama, hukum, ekonomi, hingga kesehatan Hindu harus percaya diri dalam menggali paradigma keilmuannya sendiri secara substantif, bukan sekadar menempelkan mata kuliah agama pada kurikulum umum. Pendidikan berbasis agama dinilai memiliki kekuatan integratif karena membentuk dimensi yang tidak dapat diprogram oleh mesin, seperti intuisi etis dan makna spiritual.
Menghadapi tren global ke depan, Andi Purnomo merujuk pada laporan World Economic Forum (WEF) yang menempatkan kreativitas, empati, kepemimpinan sosial, dan pemikiran etis sebagai keterampilan utama abad ke-21. Di sinilah lembaga pendidikan keagamaan memiliki posisi strategis.
Namun, tantangan terbesar saat ini justru kembali kepada internal pengelola instansi pendidikan itu sendiri dalam menjawab tantangan zaman.
"Pertanyaan besarnya, sudahkah para pengelola pendidikan basis agama menyadarinya dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa depan?" pungkasnya. (Suk/001)