Masih seputar perang AS-Israel vs Iran yang kali ini. Saya menulis dikaitkan dengan dampak serangan rudal, drone ekonomi ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Memang yang berperang di Timur Tengah tetapi dampaknya sudah dunia. Tidak main-main bahkan bisa membuat satu persatu negara itu bisa kolaps.
Dari bandara yang ditutup saja telah membuat 92 juta penumpang per tahun terancam dari 12 ribu penerbangan yang ada di Doha, Dubai, dan Abudhabi. Maklum bandara tersebut adalah hub antara Eropa ke Asia. Tentu dampak ekonominya langsung terasa dalam sektor pariwisata, bisnis internasional, pendidikan dan lainnya. Sementara nilai cargo USD 1 Triliun per tahun untuk pergerakan barang juga terganggu.
Di sisi lain, ada 60 persen imigran yang bekerja dan dimana berdampak devisa bagi negara Pakistan mencapai 17 miliar USD, India 49 miiar USD, Bangladesh 11 miliar USD.
Di Selat Hormuz kini ada sedikitnya 100 kapal tanker Minyak dan LNG dan kapal barang yang terparkir baik dari perusahaan Maersk, MSC, Hapag-Lloyd, CMA CGM dan Pertamina juga ada dua tanker. Mereka menghentikan operasional. Yang nekat langsung di rudal Iran.
China pun kini melobi agar khusus kapalnya diperkenankan lewat karena industri mereka terganggu. Maklum China rata rata memerlukan 1,38 juta barel minyak mentah dari Iran per hari jika melihat data tahun 2025. Penduduk yang besar dan wilayah yang luas serta kemajuan teknologi mengakibatkan kebutuhan energi meningkat pesat.
Akibatnya harga minyak mentah BRENT melonjak menjadi USD 85 USD per barel bahkan sempat menyentuh USD 100 per barel. Indonesia yang memiliki nafas 20 hari BBM harus ganti skema mengambil dari AS.
Filipina mulai Senin mengurangi jam kantor hanya 4 hari kerja untuk melakukan penghematan. Industri di Pakistan mengimpor LNG-nya 99 persen dari Teluk, Bangladesh 72 persen dan India 53 persen dan seketika industri mereka goyah. Rudal ekonomi mengenai mereka dengan dahsyat. Selain devisa dari Pekerja Migran terancam, sumber energi juga terkapar.
Tidak hanya itu, produksi Qatar Energi di bidang telah menghentikan produksi hilir urea, amonia, metanol dan senyawa terkait. Akibatnya suplai pupuk juga akan terancam. Yang pasti bila terus peperangan berlangsung maka 44 persen perdagangan Sulfur global akan turun, urea global terganggu 31 persen, Amonia 18 persen, fosfat 15 persen.
Harga pupuk akan melonjak maka sektor pertanian global akan terkena rudal ekonomi berikutnya.
Selat Hormuz ditutup ibarat rudal hipersonik cluster yang menyerang ke sendi sendi ekonomi berbagai negara.
Hampir semua negara terkena serpihan dampak ekonominya. Bahkan negara sekitar Teluk yang dulunya super kaya, kini selain tidak bisa menjual minyaknya juga kesulitan mengimpor bahan makanan untuk warganya. Maka ancaman serangan drone ekonomi lainnya segera menyusul ketika cadangan pangan menyusut.
Iran menyadari betul jika banyak negara kesulitan ekonominya maka banyak negara akan aktif ikut menekan AS Israel untuk menghentikan perang. Jika langkah itu tidak dilakukan Iran maka semua negara akan menjadi penonton perang saja dan Iran bertempur sendirian. Istilah Jawanya ..Tiji tibeh. Mati Siji Mati Kabeh.
Sekutu AS diteluk sepertinya akan paling besar perannya untuk aktif meredam perang berlangsung lama. Apalagi tujuan mengganti kekuasaan juga gagal sampai saat ini paska Ayatollah Ai Khamenei meninggal malah naik anaknya Mujtaba Khamenei yang juga karirnya di dunia perang selama ini. Tambah ribet kondisi Teluk jika lama tidak berakhir. Karena pemimpin Iran juga mental perang bukan mental boneka.
Di Indonesia, selain sudah dua bulan ini defisit APBN dan terus meningkat, cadangan devisa pasti akan anjlok karena harus beli minyak dengan harga tinggi. Perlu kehati-hatian untuk mengelola anggaran yang minus ini jika tidak ingin nanti menjadi rudal yang meledak didalam negeri.
Pemerintah harus jujur menyampaikan kepada masyarakat langkah langkah penghematan langkah mempertahankan diri dari krisis dan lainnya. Apalagi kurs Rupiah terhadap USD sudah lebih Rp 17 ribu. Sama dengan krisis moneter 1998 yang berujung reformasi dan tumbangnya pemerintahan Soeharto.
Perang baru dua minggu tapi kerusakan sudah makin parah di seluruh dunia. Dapat dibayangkan jika berlangsung enam bulan. Perang Teluk jauh lebih dahsyat dibandingkan perang Russia vs Ukraina secara dampak ekonomi.
Pemerintah harus memperkuat basis pertanian jangka pendek agar tidak terjadi krisis pangan atau kelaparan akibat stok pangan berkurang. Ekonomi Indonesia harus diarahkan ke penguatan daya tahan pangan sambil menjaga rantai jasa dan industri untuk konsumsi dalam negeri.
Doktrin Berdikari yang ditanamkan Bung Karno harus digaungkan dan diimplementasikan minimal untuk memastikan daya tahan pangan rakyat masih kuat. Semangat gorong royong harus dibangun dalam balutan nasionalisme. Elit penguasa harus menunjukkan rasa keprihatinan dan menjadi teladan dalam tindakan. Jangan malah sebaliknya.
Sekali lagi, jika pemerintah tidak fokus dan melakukan refocusing anggaran dengan baik maka potensi rudal ekonomi meledak didalam negeri sangat besar. Anggaran geser ienpadat karya, MBG selama liburan hari raya distop dulu, koperasi merah putih yang belum berjalan stop dulu pembangunannya. Buat program padat karya agar uang beredar di masyarakat bawah dan infrastruktur terbangun. Dana desa dikembalikan untuk fokus ke program padat karya.
Solidaritas orang kaya harus melakukan transaksi konsumtif ke masyarakat terbawah utuk membantu pendapatan dan sekaligus menahan laju inflasi yang potensi naik tinggi. Jangan malah menimbun dana karena bisa berujung kerusuhan dan penjarahan rakyat yang kelaparan. Kerusuhan Mei saat reformasi harus dijadikan pelajaran. Belanja langsung di rakyat terbawah agar uang beredar dibawah.
Semoga perang segera berakhir dan ekonomi dunia segera pulih kembali.