Banner Bawah

Takbiran Dalam Kesunyian Nyepi “Benang Merah” Menuju Spiritualitas yang Sejati

Admin 2 - atnews

2026-03-09
Bagikan :
Dokumentasi dari - Takbiran Dalam Kesunyian Nyepi
“Benang Merah” Menuju Spiritualitas yang Sejati
Dr. I Gusti Putu Tirtayasa, S.Sos.H., M.Fil.H (ist/atnews)

Oleh Dr. I Gusti Putu Tirtayasa, S.Sos.H., M.Fil.H

Beberapa hari kedepan kita akan melaksanakan hari suci nyepi tahun caka 1948 yang rangkaiannya tentu kita ketahui Bersama dimulai dari melasti yang merupakan upacara penyucian diri dan benda sakral (pratima) umat Hindu Bali yang dilaksanakan di sumber air suci seperti laut atau danau. Ritual ini bertujuan menyucikan Bhuwana Agung (alam) dan Bhuwana Alit (diri manusia) dari energi negatif serta memohon air kehidupan (Tirta Amerta) serta memohon kekuatan spiritual untuk menjalani catur brata penyepian.

Rangkaian berikutnya yakni Tawur Kesanga dan Pengerupukan yakni ritual Bhuta Yadnya yang dilaksanakan sehari sebelum Nyepi (Sasih Kesanga) yang juga bermakna menyucikan diri (Bhuana Alit) dan alam semesta (Bhuana Agung). Tujuan dari dilakukannya tawur ini adalah agar terciptanya keharmonisan, keseimbangan, dan kedamaian, persembahan suci ini untuk menyeimbangkan unsur-unsur alam (Panca Mahabhuta: Pertiwi, Apah, Bayu, Teja, Akasa), secara Spiritual upacara tawur ini memiliki Makna Menetralkan energi negatif agar umat Hindu dapat melaksanakan Catur Brata Penyepian (hening total) 

Keesokan harinya dengan tenang dan suci. merupakan hari suci Nyepi dimana umat Hindu di Bali khususnya sejak dahulu telah melaksanakan Hari Suci nyepi dengan melaksanakan Catur Brata Penyepian yaitu Amati Gni (tidak Menyalakan Api) amati Karya (tidak melaksnakan aktivitas) Amati Lelungan (Tidak melakukan perjalanan/bepergian), amati Lelanguan (tidak bersenang-senang/larangan menikmati Hiburan yang bersifat duniawi yang dapat mengganggu jalannya penyucian diri).

Jika kita mengkaji makna secara lebih mendalam dari kaca mata spiritualitas, momentum pelaksanaan hari suci Nyepi dengan melaksanakan Catur Brata penyepian merupakan sebuah upaya secara rohani yang sangat suci dalam rangka pencarian jati diri yang mendalam, sebuah metode perenungan diri yang sarat akan makna religiusitas menuju spiritualitas. Makna mendalam tidak menyalakan api yakni sebagai sebuah upaya untuk mengendalikan api dalam diri. Memberi ruang kepada diri dan alam untuk meriset (restart) agar kembali dalam posisi yang benar agar nantinya dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan baik.

Pada momentum perayaan hari suci Nyepi tahun ini, bertepatan juga dengan rangkaian perayaan hari raya Idul Fitri 1447H dimana pada saat pelaksanaan Hari Raya nyepi tepat sehari sebelum hari Idul Fitri merupakan Malam takbiran dimana umat Muslim mengumandangkan kebesaran Tuhan atas selesainya melakukan puasa selama sebulan penuh. Takbiran ini juga merupakan perayaan kemenangan spiritual bagi setiap Muslim setelah berjuang melawan lapar hawa nafsu dan menjadi sarana mengungkapkan rasa syukur atas nikmat ibadah (seperti puasa Ramadan) yang telah berhasil dijalankan dengan lancar.

Jika kita kaji secara mendalam melalui perenungan pelaksanaan Hari Suci Nyepi dan malam Takbiran sangat sarat akan nilai nilai religious dan spiritual untuk meneguhkan Kembali jati diri untuk menjadi manusia seutuhnya, menjadikan momentum ini sebagai pengingat dan perekat hubungan antara sang pencipta. Kegiatan masing-masing ini tidak diperlukan perdebatan akan tetapi melalui kesepakatan yang telah dihasilkan sudah cukup untuk menjaga dan meneguhkan kesejatian masing-masing umat agar memaknai hari suci ini dengan penuh hikmat. Hidup dibumi dengan berbagai keragaman dibutuhkan toleransi yang mapan untuk menangkal hambatan-hambatan yang mungkin muncul. 

Peran pemimpin dalam upaya mencarikan jalan tengah atas kedua kegiatan ini sangat diperlukan. Seorang pemimpin harus mengambil Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menjembatani terhadap permasalahan dilapangan yang terjadi, dengan mengacu pada nilai-nilai keberagaman, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang menjadi dasar kita bernegara. Mematuhi kesepakatan yang telah ditetapkan merupakan cara atau jalan untuk mencapai kedewasaan dalam beragama.

Bukankah kedua perayaan hari besar ini merupakan cara kita belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik, mengenali jati diri, mengendalikan diri, memaknai kehidupan untuk mencapai kehidupan yang damai dan bahagia? Oleh karena itu memaknai lebih medalam terhadap hari raya suci ini agar lebih dimaknai sebagai upaya atau ajakan untuk introspeksi diri, membuang keburukan, membuang penyakit AIDS (Amarah, Iri Dengki dan serakah) memulai tahun baru dengan jiwa yang lebih bersih dan Suci.

*) Dr. I Gusti Putu Tirtayasa, S.Sos.H., M.Fil.H
Dosen Agama Hindu di Universitas Bali Internasional


Baca Artikel Menarik Lainnya : Kerajinan Ketak Desa Darmaji, Diekspor Sampai ke Negeri Tetangga

Terpopuler

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

15 Batal Terbang Rute Internasional Bandara Ngurah Rai, Dampak Perang Israel - Iran

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

Rakor Percepatan Penanganan Sampah, ​Carut-Marut TPA Suwung Diusut Bareskrim

POM MIGO KAORI

POM MIGO KAORI

DPRD Buleleng Sepakat Tiga Ranperda Inisiatif Dilanjutkan Ke Tahap Pembahasan Berikutnya

DPRD Buleleng Sepakat Tiga Ranperda Inisiatif Dilanjutkan Ke Tahap Pembahasan Berikutnya

Gubernur Koster Dampingi Menteri LH Tinjau TPS3R di Badung, Minta Masyarakat Siapkan Teba Modern Tiap Rumah

Gubernur Koster Dampingi Menteri LH Tinjau TPS3R di Badung, Minta Masyarakat Siapkan Teba Modern Tiap Rumah

Krisis dan Perang Timur Tengah 

Krisis dan Perang Timur Tengah