Refleksi Siwaratri: Peradah Bali Ajak Umat Kenali Diri dan Perbaiki Laku untuk Kehidupan yang Harmonis
Admin 2 - atnews
2026-01-17
Bagikan :
Ketua DPP Peradah Indonesia Bali, Ida Bagus Mahendra Sada Prabhawa, S.Ak., M.M (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) – Memasuki momentum suci Siwaratri yang jatuh pada Prawaning Tilem Kapitu, Dewan Pimpinan Provinsi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (DPP Peradah Indonesia Bali) Bali mengajak seluruh umat Hindu untuk memaknai hari suci ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebagai ajakan mendalam untuk melakukan refleksi batin dan perbaikan perilaku (laku).
Siwaratri, yang secara harfiah berasal dari kata Siwa (terang) dan Ratri (gelap), merupakan simbol perjalanan batin manusia. Dalam tradisi Hindu, malam ini dimaknai sebagai 'malam kesadaran'—sebuah upaya manusia untuk kembali kepada jati dirinya sebagai ciptaan Tuhan setelah seringkali tersesat dalam kegelapan ilusi duniawi.
Kesadaran Melampaui Ritual
Praktik spiritual dalam Siwaratri seperti Jagra (berjaga/sadar), Upawasa (puasa), dan Monabrata atau Dhyana (meditasi) merupakan instrumen pengendalian diri. Hal ini bertujuan untuk memurnikan pikiran dan memusatkan Budhi pada sinar ketuhanan, agar manusia tidak dikuasai oleh hawa nafsu yang bersifat sementara.
Menanggapi esensi perayaan ini, Wakil Ketua Bidang Keagamaan dan Sosial Kemasyarakatan Peradah Bali, Ni Luh Sri Kusuma Dewi, S.Fil., M.Ag., menekankan bahwa Siwaratri adalah momentum untuk menghadapi "kegelapan" di dalam diri sendiri.
"Siwaratri jangan hanya dipandang sebagai malam untuk menebus dosa secara instan. Kita harus meluruskan pemahaman atas kisah Lubdhaka; ini bukan tentang penghapusan karma, melainkan tentang kebangkitan kesadaran. Saat seseorang menyadari kekeliruannya dan memutuskan untuk kembali ke jalan Dharma, itulah makna kemenangan sejati," ujar Sri Kusuma Dewi.
Melawan Sapta Timira di Era Modern
Lebih lanjut, Ketua DPP Peradah Indonesia Bali, Ida Bagus Mahendra Sada Prabhawa, S.Ak., M.M., menyoroti relevansi Siwaratri dalam menjawab tantangan sosial saat ini. Momentum yang berkaitan dengan Tilem Kapitu ini sangat erat kaitannya dengan upaya manusia mengendalikan Sapta Timira—tujuh jenis kegelapan batin seperti kesombongan, mabuk kekuasaan, dan hawa nafsu.
"Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh godaan materi, kita rentan kehilangan arah. Peradah Bali mendorong generasi muda khususnya, untuk menjadikan Siwaratri sebagai laboratorium mental. Ini adalah waktu yang tepat untuk mengintropeksi sejauh mana kita telah dikuasai oleh sifat-sifat keraksasaan, dan bagaimana kita memperkuat sifat kedewaan dalam diri untuk membangun kehidupan sosial yang lebih harmonis," ujar Gusde Mahendra.
Harapan untuk Umat
Melalui perayaan Siwaratri tahun ini, Peradah Bali berharap umat Hindu dapat memperkuat disiplin rohani dan moral. Dengan mengenali kekeliruan diri dan memperbaiki arah kehidupan, Siwaratri diharapkan mampu menjadi landasan kuat dalam menciptakan karakter manusia yang unggul, sadar secara spiritual, dan berintegritas secara moral.(Z/002)