Napak Toya, Ruang Hening untuk Membaca Krisis Air Bali
Banner Bawah

Napak Toya, Ruang Hening untuk Membaca Krisis Air Bali

Admin 2 - atnews

2025-12-16
Bagikan :
Dokumentasi dari - Napak Toya, Ruang Hening untuk Membaca Krisis Air Bali
Krisis Air Bali (ist/Atnews)
Oleh Dian Dewi Reich

Napak Toya bukan sekadar program Subak Spirit Talk yang berdasarkan diskusi, melainkan sebuah pengalaman performatif yang mengubah ruang, rasa, dan cara pandang. Dari langkah pertama memasuki area pertunjukan di Rumah Tanjung Bungkak Denpasar pada tanggal 12 Desember, penonton segera disambut oleh instalasi skulptural dari bahan-bahan daur ulang.
 
Tumpukan sampah yang dirangkai berwarna-warni dan sarung tangan plastik yang digantung menarik perhatian. Sarung tangan itu mengingatkan, diantara benda-benda, seolah menyiratkan bahwa tangan manusia, apa yang kita terima dan kita berikan, penuh dengan limbah. Namun penyajiannya tidak menggurui. Justru lewat warna dan permainan visual, pesan itu terasa ringan namun menancap.

Penataan ruang menjadi kunci penting pengalaman Napak Toya. Sebuah bangunan yang menyerupai gudang disulap menjadi lanskap imajiner, membuat penonton perlahan melepaskan kesadaran bahwa mereka berada di tengah kota. Transformasi ruang ini secara subtil tapi hangat membawa penonton masuk ke suasana yang lain dan lebih reseptif.

Ketika hujan deras mengguyur atap, momen itu bertaut dramatis dengan suara protes Gede Robi. Teriakannya tentang krisis air dan kerusakan lingkungan seolah dijawab langsung oleh alam. Dentum petir dan derasnya hujan terasa seperti pernyataan balik dari air itu sendiri, sebuah kemarahan yang lama terpendam akibat kelalaian manusia.

Di titik ini, seni, aktivisme, dan alam tidak lagi terpisah. Sebagai landasan wacana, Napak Toya menghadirkan tiga narasumber utama. Gede Robi membawa perspektif ekologis dan sosial melalui pengalaman riset dan aktivisme. 

Kolektif Petani Muda Keren menghadirkan suara nyata dari sawah dan sistem subak yang terdesak oleh perubahan fungsi lahan, pariwisata, dan krisis regenerasi petani. Sementara Yesi Candrika, melalui teks dan tradisi sastra, mengingatkan kembali dimensi spiritual air sebagai roh yang hidup dan perlu dihormati.

Yang membuat Napak Toya kuat adalah kemampuannya sang Kurator dan Artistic Director Dibal Rnuh untuk mengkolaborasikan dan menjembatani berbagai disiplin. Di ruang ini, aktivisme lingkungan, akademisi, pertanian, pariwisata, dan politik bertemu, ditarik oleh daya sentrifugal seni. Inilah bentuk konektivitas multidimensional, ketika berbagai praktik artistik yang terorganisasi mampu membawa suara yang lebih besar dan berdampak.

Wayang Ental menjadi salah satu elemen paling mengesankan. Sosok-sosok hitam bergerak seperti bayangan, sinuosa dan hidup, seolah menghidupkan makhluk sampah ciptaan manusia sendiri. Ada rasa ngeri sekaligus reflektif, seakan menyaksikan roh air terbentuk seperti Frankenstein karena limbah, yang dulu suci kini terancam oleh keserakahan.

Dimensi universal pertunjukan ini diperkuat oleh kolaborasi dengan seniman visual internasional John McGarity, bersama visual mapping Nur Setyanto dan Anden Pundy. Karya mereka membawa penonton ke lapisan dibawah kesadaran, menampilkan galaksi, sawah, dan aliran air yang terus berubah. Refleksi ini terasa semakin dekat dalam dialog seorang anak dengan bayangan dirinya sendiri. Teguran keras datang dari sosok kecil dan polos, menegur manusia melalui suara kepolosan.

Perjalanan Napak Toya bergerak dari bencana menuju kesadaran. Penonton diajak menelusuri protes, pertanian, pariwisata, teks tradisi, dan kajian akademik tentang air. Ritme visual dan suara membangun kontras yang kuat, menggambarkan sebuah kenyataan ekstrem yang kita hadapi di saat kini.

Di tengah kompleksitas itu, Sandrina Malakiano tampil sebagai penuntun narasi. Dengan kejernihan dan kendali yang kuat sesuai seseorang master, ia menjadi representasi yang tepat bagi air itu sendiri, mengalir, adaptif, namun tegas, dalam menjembatani isu pengelolaan sumber daya di tengah perubahan budaya agraris Bali yang cepat.

Panggung juga menjadi ruang akuntabilitas, melalui pernyataan Ibu Irini Dewi Wanti (Direktur Bina SDM, Lembaga, Pranata Kebudayaan, Direktorat Jendral Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembina Kebudayaan) yang menegaskan tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan.

Puncak pertunjukan ditutup dengan klimaks yang menggugah. Ayu Laksmi bersama Kitapoleng menghadirkan tembang dan monolog yang sarat daya spiritual, diperkuat oleh resonansi suara Cok Sawitri dalam mantra dan musik.

Momen ini terasa seperti doa kolektif, menutup perjalanan Napak Toya dengan getaran yang tetap hadir di tubuh penonton. Keseluruhan pengalaman ini berdiri di atas visi kuratorial Dibal Ranuh yang berani dan imaginatif.

Dengan kepekaan yang tajam, ia merangkai seni, aktivisme, dan ritual menjadi satu bahasa yang hidup. Visi ini menemukan bentuk tubuhnya melalui koreografi Jasmine Okubo yang membawa ciri hebat tersendiri, berakar pada tari tradisi namun berbicara dalam pertunjukkan yang universal terkini.

Inilah keindahan seni multi-disiplin masa kini, tidak hanya memikat secara estetis, tetapi juga berbicara lantang untuk Alam kita, untuk manusia, dan untuk akar yang menopang kita semua. Napak Toya menunjukkan bahwa seni tidak hanya merepresentasikan krisis, tetapi mampu menjadi ruang pertemuan, refleksi, dan kesadaran. Dalam aliran air yang dipentaskan, publik diajak bercermin, dan mungkin, untuk mulai bertanggung jawab. (*) 

Baca Artikel Menarik Lainnya : BLH Bali Sayangkan Galian C Picu Jebolnya Tembok Sekolah

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme untuk Pariwisata Berkelanjutan

ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme untuk Pariwisata Berkelanjutan

81 Tahun Pancasila, Semarak di Seremoni, Tercampakkan dalam Realitas

81 Tahun Pancasila, Semarak di Seremoni, Tercampakkan dalam Realitas

ADWITI Resmi Diluncurkan, AWK Dorong Standarisasi Wisata Spiritual dan Proteksi UMKM Lokal

ADWITI Resmi Diluncurkan, AWK Dorong Standarisasi Wisata Spiritual dan Proteksi UMKM Lokal