Kemelut Proyek GWK, Jro Gde Sudibya: Orang Bali Tidak Lagi Menjadi Tuan di Rumahnya Sendiri
Admin - atnews
2025-09-30
Bagikan :
GWK (ist/Atnews)
Denpasar (Atnews) - Intlektual Hindu Jro Gde Sudibya menilai proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) mengabaikan simbol Agama Hindu yang disakralkan di Bali.
Pada Hari Selasa, tanggal 30 September 2025, "nemu" raina Anggarkasih Kulantir, Sasih Kapat, Saka 1947. Pantas bagi umat Hindu di Bali berefleksi terhadap keberadaan proyek GWK, di Desa Ungasan, Badung.
"Saat ini menarik perhatian luas masyarakat, karena kemelut yang sedang terjadi di sebuah Banjar Giri Dharma di Desa Adat Ungasan," kata Jro Gde Sudibya yang juga Pengamat Kebijakan Publik di Denpasar, Selasa (30/9).
Dimana masyarakat terhalang untuk keluar masuk Banjar adat, di lingkungan mereka, yang telah bermukim turun temurun.
Dilengkapi gambar dengan kategori "human interest" tinggi, seorang anak lingsir (nenek tua) mesti tertatih-tatih melewati "tembok penyengker" yang memberikan inmpresi publik terhadap keangkuhan kekuasaan, yang bisa saja merupakan kombinasi dari kuasa modal plus kuasa kekuasaan.
"Fakta nyata, orang Bali tidak lagi menjadi tuan di rumahnya sendiri," bebernya.
Kalangan intelektual Bali yang peduli telah mengingatkan akan terjadinya proses keterpinggiran ini, akibat dari kapitalisme pariwisata yang "serakah", serakah: tanah, keuntungan modal, dalam kurun waktu sebut saja 20 tahun terus menerus, dasa warsa 1980 - 1990-an.
Menyebut beberapa dari intelektual ini, yang telah "mulih ke sunya loka, rekan senior Prof.Ngurah Bagus, Prof.A Manuaba, Man Glebet yang sampai detik-detik terakhir perjalanan kehidupannya, tidak pernah berhenti mengingatkan dan bahkan dalam bahasa yang sangat keras ("matbat", dalam istilah Prof. Bagus), akan kekuatan destruktif kapitalisme pariwisata, di tengah kepemimpinan Bali yang "gabeng" dan masyarakat yang permisif yang untuk sebagian nyaris "memuja" uang.
"Sirkuit kemelut" berkepanjangan yang terjadi di GWK, mengingatkan kembali gerakan protes dari kalangan intelektual dan krama Bali yang menjaga tradisi leluhurnya, pada saat wacana proyek GWK dipublikasikan ke masyarakat.
Ada penolakan keras terhadap proyek ini berdasarkan basis sastra yang kuat. Garuda Wisnu Kencana adalah simbol dari Cakti Tuhan Wisnu -Sri Narayana-, simbol yang harus disakralkan, tidak untuk dipropankan dengan motif utama keuntungan bisnis.
Dalam sebuah kesempatan di sebuah media lokal, rekan antropolog Prof Wayan Griya mengingatkan dengan nada keras dalam intonasi kalimat yang cepat, perampasan simbol kesucian dari perspektif antropologi sangat berbahaya bagi masyarakat pengampu kebudayaan dari simbol tsb. Simbol yang merupakan ekspresi dari sistem keyakinan masyarakatnya.
Proyek GWK dalam pandangan sebagian kalangan intelektual, mengabaikan simbol rohani Bali sebagai Padma Bhuwana, Bunga Padma Berkelopak 8, yang menggambarkan kekuatan Tuhan Siwa di 8 Penjuru Angin Bali.
Dengan "Titik" Tengah, Penataran Agung Besakih sebagai pemujaan Tuhan Siwa dengan Aksara I , YA dan pemujaan Tuhan Swayambu dengan Aksara WA.
Posisi GWK ada di Desa Ungasan termasuk dalam palebahan Nreti (Barat Daya) Pulau Bali, "lingha" pemujaan Tuhan Rudra dengan Aksara MA ring Pura Luur Uluwatu, dengan pengurip 3.
Pendirian GWK di palebahan Tuhan Rudra tidak saja merubah tatanan simbolik Bali sebagai Padma Bhuwana, sekaligus mendegradasi simbolik Tuhan Rudra dan juga Tuhan Wisnu.
Dalam sebuah diskusi, akhli lontar Bali yang sering disebut sebagai "lontar berjalan" oleh kalangan dekatnya, Jro Mangku Guru Tut Subandi telah mewanti-wanti, akan hambatan besar yang akan terjadi kalau simbol-simbol suci tsb.dinafikan dan diabaikan.
Dalam sastra agama masyarakat Bali, upakara terbesar di Pura Besakih setiap penggantian 2 rah windhu, setiap 100 tahun, dilakukan upakara Upakara Eka Dasa Rudra, pemujaan 11 Tuhan Rudra sebagai Tuhan Tertinggi mengatasi Alam Raya.
Untuk sederhanya, kekuatan Tuhan Tertinggi untuk: penciptaan, pelestarian, "meprelina", kekuatan penghancuran.
Kemampuan "mepralina" - Nya dashyat. Raja besar Bali Mula, Sri Aji Jayapangus dengan pusat kerajaan di Panarajon, sekarang Banjar Kuta Dalem bagian dari Desa Sukawana, sebut saja "mendisign" Pura Pucak Tegeh Penulisan dengan Pusar Tasik, yang "tetuek kayun" nya persembahan ke Tuhan. (Z/001)