Banner Bawah

Bali Terjual Sedikit Demi Sedikit: Patung Kebanggaan GWK, Tanah Tergadai, Warga Hanya Jadi Penonton

Admin - atnews

2025-09-28
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bali Terjual Sedikit Demi Sedikit: Patung Kebanggaan GWK, Tanah Tergadai, Warga Hanya Jadi Penonton
GWK (kiri), Ilustrasi (kanan) (ist/Atnews)

Oleh Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR.
Inilah ironi paling menyayat bagi Bali: segala yang dulu membanggakan kini terasa kosong, laksana mimpi indah yang tiba-tiba disadarkan oleh kenyataan pahit. Garuda Wisnu Kencana (GWK), yang selama ini diagungkan sebagai simbol kejayaan dan kebanggaan Pulau Dewata, ternyata berdiri megah di atas tanah Bali tanpa sepenuhnya dimiliki oleh orang Bali sendiri. 

Fakta bahwa GWK ikon hasil karya agung Nyoman Nuarta resmi berada dalam kendali perusahaan PT Alam Sutera Realty Tbk, yang sepenuhnya berkepentingan sebagai entitas luar, menyisakan luka mendalam di benak masyarakat lokal. Bali, seolah hanya menjadi tuan rumah tanpa kuasa pada tanah dan simbol miliknya sendiri. 

Tubuh GWK menjulang setinggi 121 meter, tetapi di balik kemegahan itu, tersembunyi perasaan terusir dan termarjinalkan, identitas diri yang remuk pelan-pelan karena kemegahan yang dibanggakan hanyalah milik orang lain, sementara orang Bali menjadi penonton di tanahnya sendiri.

Ironi Kepemilikan dan Fakta yang Menyayat: GWK hanyalah satu ilustrasi paradoks memilukan tentang kepemilikan di Bali. 

Mengutip dari buku kritik multidimensi pariwisata memprediksi sekitar 85% aset sektor pariwisata termasuk hotel di Nusa Dua, villa di Canggu, dan resort di Ubud dikuasai investor luar dan asing, sehingga pulau yang digadang kaya devisa justru menampilkan masyarakat asli yang miskin kepemilikan, terpinggirkan secara ekonomi, dan kehilangan kendali atas lahan serta budaya leluhur; realitas ini menghadirkan kebanggaan yang rapuh karena rumah indah Bali didominasi pemilik eksternal, masyarakat lokal hanya menumpang atau bekerja tanpa hak, sehingga ketergantungan industri wisata pada modal luar secara sistemik menimbulkan marginalisasi budaya dan ekonomi, menjadikan kesejahteraan orang Bali sekadar bayang-bayang di balik geliat industri global yang perlahan mengikis identitas pulau dewata.

Mempertanyakan Maksud “Berbasis Budaya”: Fakta ironis pariwisata Bali berbasis budaya terungkap dari kasus-kasus nyata seperti privatisasi pantai oleh hotel yang memblok akses publik dan sering mengusir warga saat upacara demi kenyamanan tamu internasional, serta ritual adat yang diganggu oleh pesta petasan di kawasan wisata; di beberapa destinasi, seperti Ubud dan Sanur, pesatnya pembangunan dan alih fungsi lahan memicu kemacetan, polusi, dan tumpukan sampah yang akhirnya meningkatkan ongkos hidup warga, sementara masyarakat lokal hanya berperan sebagai pekerja di negeri sendiri dan keuntungan ekonomi justru mengalir ke investor nasional maupun asing, meninggalkan ketimpangan dan degradasi nilai budaya di tanah suci Bali.

Banjir Pagerwesi sebuah renungan Hikmah dan Peringatan. Banjir Pagerwesi 2025 menjadi momentum terbuka bagi masyarakat Bali untuk melihat fakta krisis ekologis dan sosial: pembangunan terminal LNG Sidakarya berpotensi mengorbankan 14,5 hektare hutan mangrove Tahura Ngurah Rai yang seharusnya menjadi kawasan lindung, sementara praktik pembangunan di Bali Selatan kian intensif dengan alih fungsi lahan agraris menjadi hotel, vila, dan mall. 

Sungai-sungai dikurung beton, pom bensin berdiri di atas saluran air, serta sertifikat menindih tanah resapan; fragmentasi tata ruang dan lemahnya regulasi telah membuat Bali rentan terhadap banjir dan rusaknya ekosistem.

Sektor pariwisata memang memberi devisa lebih dari Rp100 triliun namun kepemilikan aset wisata seperti GWK tetap di tangan korporasi luar Bali, sedangkan masyarakat lokal makin tergusur dari ruang hidupnya, akses atas lahan, dan hak mengelola budaya. 

Dampak nyata lain: kemacetan, polusi, dan tumpukan sampah dari 1.200-ton limbah harian, serta harga rumah dan kebutuhan dasar yang melonjak, menegaskan bahwa Bali perlahan dijual sedikit demi sedikit dan generasi mudanya kian terpinggirkan dalam peta akumulasi modal global.

Krisis Lingkungan dan Budaya, Dari Devisa ke Derita: Industri pariwisata Bali memang menghasilkan devisa sangat besar, tetapi juga memicu gunungan sampah setiap hari penutupan bertahap TPA Suwung sejak Agustus 2025 telah menyebabkan krisis pengelolaan limbah, di mana produksi harian Denpasar dan Badung menembus angka lebih dari 1.200 ton, yang sebagian besar berasal dari hotel, restoran, dan beach club; efek domino muncul ketika rantai logistik limbah lumpuh: citra Bali sebagai destinasi hijau global terancam, risiko kesehatan masyarakat melonjak, dan penurunan okupansi hotel hingga 20% terjadi akibat keluhan wisatawan soal sampah serta pencemaran lingkungan.

Wisatawan semakin kritis terhadap kualitas ekologi, sementara beban utama justru ditanggung masyarakat lokal, yang menghadapi lonjakan biaya hidup, penurunan daya saing pariwisata, dan ancaman reputasi global apabila krisis ini tidak dijadikan momentum reformasi pengelolaan berkelanjutan. Jika gagal mengatasi masalah ini, Bali berisiko kehilangan posisinya sebagai destinasi utama dunia dan beralih menjadi contoh negatif kehancuran ekologi oleh industri wisata massal.

Sadar dan Waspada, Jangan Biarkan Bali Kehilangan Jiwa: Hikmah banjir Pagerwesi adalah alarm keras bagi masyarakat Bali agar tidak membiarkan tanah leluhur tergadai demi eksploitasi ekonomi data menunjukkan alih fungsi lahan pertanian terus meningkat dan kepemilikan lahan oleh pihak luar Bali semakin marak, didorong tren harga properti yang naik 7% per tahun serta praktik nominee yang bahkan menjadi isu strategis dalam rapat-rapat pertanahan Bali. 

Jika fenomena ini terus dibiarkan, nilai spiritualitas dan identitas Bali akan tercederai, kesakralan budaya berubah menjadi komoditas, dan generasi mendatang akan kehilangan hak paling dasar untuk menentukan masa depan di tanah pusaka sendiri, sehingga harga diri Bali sejati hanya dapat ditegakkan dengan memastikan rumah, budaya, dan ruang hidup tetap milik Bali, bukan sekadar kebanggaan semu di atas tanah warisan yang telah lepas dari genggaman.

Meramal dengan Sinyal: Sejumlah kasus besar yang belum sepenuhnya terungkap atau akan segera menyeruak seputar pariwisata Bali antara lain: maraknya praktek vila ilegal yang semakin memperburuk persaingan tidak sehat, potensi penyalahgunaan fungsi vila untuk kriminalitas dan prostitusi terselubung, penjualan dan alih fungsi lahan produktif meskipun telah ada larangan gubernur, serta ancaman horizontal berupa konflik lahan antara masyarakat adat dan investor, terutama terkait nominee dan kepemilikan berpola asing.

Selain itu, efek berkelanjutan dari overtourism krisis sampah yang akut, kemacetan ekstrem, dan polusi dapat memicu demonstrasi sosial dan penurunan reputasi global, bahkan sudah muncul peringatan dari panduan wisata internasional agar tidak berkunjung ke Bali jika masalah-masalah mendasar ini tidak segera ditangani. Potensi skandal lain adalah transparansi penggunaan APBD sektor pariwisata, berbagai pelanggaran bangunan wisata, serta tingginya PHK di sektor perhotelan meski data okupansi masih stabil; indikasi inefisiensi dan distribusi manfaat yang timpang dapat memicu kritik besar terhadap tata kelola pariwisata Bali di tahun-tahun mendatang.

*) Prof. Dr. I Gusti Bagus Rai Utama, SE., M.MA., MA., CIRR., Rektor Universitas Dhyana Pura, Guru Besar Bidang Manajemen Bisnis Pariwisata
 

Baca Artikel Menarik Lainnya : Hasil Kerajinan Bali Harus Punya Jati Diri Budaya

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

*DPRD Badung mengucapkan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri*

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng