Banner Bawah

Mungkinkah Sapi Bali Punah? (Bagian 2)

Admin - atnews

2025-09-15
Bagikan :
Dokumentasi dari - Mungkinkah Sapi Bali Punah? (Bagian 2)
Sapi Bali (ist/Atnews)

Oleh Drh. Nining Hartaningsih, MVSc., Ph.D
Sapi bali Ditengah Kepungan Sapi Impor di Indonesia
Judul tulisan diatas sengaja saya ungkapkan untuk menjawab pertanyaan berbagai pihak yang peduli dengan keberadaan sapi bali di Indonesia. 

Tentu ada dua kemungkinan yang bisa di ungkap untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas yaitu: 1. Kemungkinan Punah dan 2. Tidak Punah. Namun sebelum dua kemungkinan itu di ungkap maka tulisan tentang Sapi bali di Indonesia akan terdiri dari 2 bagian yaitu: Bagian I. Sapi bali dan Sejarah Perkembangannya di Indonesia; Bagian II. Sapi bali Ditengah Kepungan Sapi Impor di Indonesia. 

Sapi impor di Indonesia yang dimaksud dalam tulisan Mungkinkah Sapi bali Punah? bag ke 2 ini adalah semua sapi yang berbeda dengan sapi lokal, yang mulai masuk ke Indonesia pada masa sebelum dan setelah pemerintahan Orde Baru.  

SAPI IMPOR DI INDONESIA
Ada 2 jenis sapi impor di Indonesia yaitu: sapi potong/pedaging dan sapi perah/sapi susu.  Masing-masing jenis itu memiliki tipe sapi yang berbeda. Tipe sapi dapat dilihat dari bentuk fisik dan kualitas daging atau susu yang dihasilkannya.
 
JENIS SAPI POTONG IMPOR DI INDONESIA (Foto-foto sapi impor dapat dilihat di google)
1. Sapi Limousin
Sapi Limousin berasal dari Perancis. Sapi ini memiliki tubuh yang besar, berotot, dan pertumbuhan badan yang cepat. Selain itu, sapi Limousin menghasilkan daging berkualitas tinggi, rendah lemak dengan serat halus. Sapi ini adalah salah satu jenis sapi unggul yang sering menjadi pilihan para peternak dunia karena adaptif terhadap cuaca, pakan, dan lingkungan. Selain itu, proses reproduksi dan pengembangbiakkannya pun cukup baik.
Perawatan
Sapi Limousin membutuhkan pakan berkualitas tinggi untuk menunjang pertumbuhan optimalnya. Pakan yang kaya protein seperti rumput gajah, konsentrat, dan tambahan suplemen dapat membantu meningkatkan bobot badan secara signifikan. Manajemen pemeliharaan harus baik agar sapi Limousin bisa mencapai bobot 1 ton lebih dalam waktu yang relatif singkat.
 
2. Sapi Simmental
Sapi Simmental juga berasal dari Eropa, tepatnya dari Swiss. Sapi ini memiliki ukuran tubuh yang besar dengan bobot jantan bisa mencapai 1.200 kg, sedangkan betina sekitar 800 kg. Warna tubuhnya khas, yaitu cokelat kemerahan dengan corak putih di beberapa bagian tubuh.
Perawatan
Sapi Simmental memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat serta efisiensi pakan yang baik, menjadikannya pilihan utama dalam industri peternakan sapi potong. Selain itu, sapi Simmental memiliki daya tahan tubuh yang cukup baik terhadap berbagai penyakit, sehingga resiko kematian akibat penyakit lebih rendah dibandingkan dengan jenis sapi lainnya. Dengan perawatan yang baik, sapi ini dapat memberikan keuntungan yang maksimal bagi para peternak karena bobotnya yang besar dan dagingnya yang berkualitas.
 
3. Sapi Brahman
Sapi Brahman berasal dari India dan menjadi salah satu jenis sapi potong unggulan di Indonesia. Ciri khas sapi Brahman adalah tubuhnya yang besar dengan warna putih dominan punuk besar di punggung, kulit longgar, serta telinga yang panjang. Keunggulan utama sapi ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan lingkungan tropis, seperti daerah yang kering dan minim pakan. Sapi Brahman juga memiliki ketahanan terhadap serangan parasit dan penyakit, sehingga lebih mudah dipelihara.
Perawatan
Sapi Brahman memiliki efisiensi konversi pakan yang baik, sehingga meskipun diberi pakan dengan kualitas menengah, pertumbuhannya tetap optimal. Sapi ini dikenal dengan ketahanan tubuhnya yang tinggi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem.
 
JENIS SAPI PERAH/SUSU IMPOR DI INDONESIA
1. Sapi Friesian Holstein (FH)
Sapi Friesian Holstein (FH) adalah salah satu jenis sapi perah yang paling populer di Indonesia. Sapi FH di impor dari Belanda dengan ciri khas bulu/kulit hitam-putih. Karakteristik fisik sapi FH termasuk ukuran tubuh yang besar dan produksi susu yang tinggi.  
Perawatan
Diperlukan perawatan khusus dan intensif dengan pakan yang berkualitas.
 
2. Sapi Jersey
Sapi Jersey berasal dari Inggris dan dikenal dengan ukuran tubuhnya yang kecil serta bulu berwarna cokelat. Sapi Jersey kurang produktif dibanding sapi FH, namun mempunyai kemampuan menghasilkan kualitas susu dengan protein dan kadar lemak yang tinggi. Hasil susu dari sapi ini, cocok untuk produksi keju dan mentega.
Perawatan
Diperlukan perawatan khusus dan intensif dengan pakan yang berkualitas.
 
3. Sapi Sahiwal
Sapi Sahiwal adalah jenis sapi perah yang berasal dari India dan Pakistan dan telah diadaptasi dengan baik di Indonesia. Meskipun produk susu lebih rendah dari FH, sapi Sahiwal memiliki ketahanan terhadap penyakit dan kondisi lingkungan yang sulit. Sapi ini mempunyai kemampuan untuk menghasilkan susu yang cukup baik dengan kadar lemak yang wajar.

4. Sapi  Australian Milking Zebu (AMZ)
Sapi Australian Milking Zebu (AMZ) adalah hasil persilangan antara sapi Zebu dengan sapi perah lainnya di Australia. Sapi ini terkenal karena mampu beradaptasi dengan iklim tropis dengan hasil susu yang memadai. AMZ memiliki tubuh yang lebih kecil dan tahan terhadap kondisi panas, menjadikannya pilihan yang baik untuk peternakan di daerah tropis seperti Indonesia. Keunggulan sapi AMZ adalah daya tahan dan kemampuannya untuk berproduksi dalam kondisi lingkungan yang keras.

APA PERAN SAPI IMPOR DI INDONESIA?
Imporasi sapi-sapi tersebut ke Indonesia, umumnya didasarkan pada kebutuhan “Untuk meningkatkan Kualitas sapi lokal” di Indonesia. Ini bisa dilihat dari Kebijakan-kebijakan pemerintah yang dikeluarkan untuk melegalkan masuknya sapi potong dan sapi perah tipe lain ke Indonesia. Pertanyaannya Benarkah untuk Meningkatkan kualitas sapi lokal?? atau untuk Meningkatkan kebutuhan daging dan susu berkualitas??. Bila memang untuk meningkatkan kualitas sapi lokal, maka hasil perkawinan silang antara sapi lokal dan sapi impor harus bisa menghasilkan jenis sapi yang berkualitas tinggi. Mari kita jawab pertanyaan tersebut dengan melihat situasi sapi potong yang ada di Jawa Timur. Jawa Timur dipilih karena memiliki populasi sapi potong tertinggi tahun 2024 di Indonesia (BPS dalam Buku Peternakan dalam Angka th 2024).
 
HASIL PERSILANGAN SAPI POTONG IMPOR DENGAN SAPI POTONG LOKAL
1. Limousin dengan Sapi PO & Simental dengan Sapi PO
Sapi potong Limousin pertama kali hadir di Indonesia di Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang, Bogor, Provinsi Jawa Barat. Mereka mendatangkan embrio sapi Limousin yang kemudian terus dikembangkan melalui teknik embryo transfer. Setelah lahir dan dibesarkan, sapi-sapi pejantan Limousin tersebut dikirim ke Balai Inseminasi Buatan (BIB) Lembang atau Singosari untuk menghasilkan sperma. Namun karena populasi sapi Limousin sangat terbatas maka BIB Lembang dan Singosari mendatangkan sapi Limousin dewasa murni dari Australia yang sudah memiliki sertifikat sebagai Limousin Bull. Sapi ini menghasilkan 300 straw sperma beku dalamm seminggu. Straw sperma beku ini kemudian dikirim ke Dinas Peternakan / Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan yang mendirstribusikannya ke masyarakat dengan cara menyuntikkan sperma-sperma tersebut ke sapi indukan lokal berbagai jenis milik warga yang sedang birahi. Hasil Persilangan sapi Limousin dan sapi Peranakan Ongole dan sapi lokal Madura dan sapi lokal lainnya yang ada di Indonesia sangatlah beragam. Masyarakat biasa menyebutnya dengan sapi LIMPO, Pegon, Segon, sapi Poco-poco, dan masih banyak sebutan lainnya. Sapi-sapi hasil silangan ini kemudian disilangkan lagi dengan banyak jenis sapi yang menghasilkan keturunan-keturunan yang kemudian disilangkan dengan jenis sapi yang lain lagi. Sebaliknya persilangan sapi Simental dengan sapi lokal PO biasa disebut PO SIMPO.
 
2. Persilangan sapi Brahman / Brahman Cross
Brahman sering juga digunakan sebagai indukan dalam program persilangan Sapi Ongole lokal. Persilangan sapi lokal PO dan Brahman merupakan salah satu jenis sapi yang banyak dibudidayakan di Indonesia, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat ini telah terjadi pula persilangan antara Limousin dan Brahman Cross yang disebut LIBRA
 
3. Persilangan sapi bali dengan sapi impor
Persilangan sapi bali dengan sapi potong impor yang ada di Indonesia jarang atau sulit ditemukan karena adanya perbedaan spesies. Spesies sapi bali adalah Bos sondaicus/javanicus sedangkan spesies sapi potong impor adalah Bos indicus-sapi berpunuk dengan warna putih (Sapi Brahman dan keturunannya yang disebut sapi Ongole) dan Bos taurus-sapi berukuran besar asal Eropa (Limousin dan Simental). Pernah terjadi secara alam persilangan antara sapi Bos indicus (Brahman-Madura) yang disebut Sapi Rambon yang ditemukan di sekitar Banyuwangi. Namun sapi Rambon tersebut menjadi majir/steril. Saat ini tidak diketahui dengan pasti hasil persilangan tersebut. Pada tahun 2019 melalui program SIKOMANDAN dari Kementerian Pertanian telah dilakukan penelitian persilangan/cross-Breeding sapi bali dengan sapi wagyu melalui inseminasi buatan di Kabupaten Timor Tengah Selatan-NTT. Dari penelitian tersebut telah lahir anak F1 (Bali 50%:Wagyu 50%). Sayangnya hasil penelitian lengkap dan tindak lanjut dari penelitian tersebut tidak dilaporkan.
 
4. Persilangan sapi perah lokal dan sapi perah impor
Pada sapi perah (Bos taurus) sebenarnya tidak dikenal dengan sapi perah lokal. Indonesia tidak memiliki sapi perah lokal. Semua sapi perah yang ada di Indonesia saat ini adalah sapi perah impor. Persilangan antara sapi perah impor biasanya dilakukan dengan tujuan mempertinggi produksi susu maupun jenis kualitas susu sebagai bahan produk turunan seperti keju dan mentega. Belum ditemukan data persilangan antara sapi susu/perah dengan sapi potong karena memang tidak dianjurkan akibat beda jenis.
 
CIRI KHAS HASIL PERSILANGAN SAPI POTONG LOKAL DENGAN SAPI IMPOR
Ciri khas sapi potong persilangan PO / Ongole dan Limousin yang menonjol adalah berat badan. Bobot sapi jantan bisa mencapai 600-800 kg, sementara betinanya sekitar 400-500 kg. Sapi Ongole juga sering dijadikan sebagai sapi pekerja karena memiliki tenaga yang kuat. Selain itu, kualitas dagingnya cukup baik meskipun memiliki serat yang agak kasar dibandingkan dengan sapi impor lainnya. Sayangnya jumlah masing-masing jenis persilangan tersebut dan struktur populasinya, tidak diketahui dengan pasti. Padahal data dasar tentang populasi dan struktur populasi sangat penting dan diperlukan sebagai dasar membuat kebijakan dalam peningkatan produktivitas, pengembangan dan pelestarian sapi potong tersebut.
 
AKIBAT PERSILANGAN TIDAK TERPROGRAM DAN TERPETAKAN DENGAN BAIK
Menurut Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur (Donny Wahyu-Pengawas Bibit ternak Ahli) tahun 2016, telah terjadi pergeseran performans / tampilan sapi lokal ke sapi persilangan. Peternak sapi Jawa Timur lebih memilih sapi persilangan (73.03%) dibanding sapi PO (21,45%), Madura (1,66%) dan jenis sapi lainnya (4,65%). Terlihat dengan jelas bahwa persilangan sapi potong di Jawa Timur dilakukan untuk mendapatkan sapi yang lebih besar sehingga keuntungan pendapatan meningkat tanpa melihat kemampuan reproduksi dan ketahanan hidup sapi di daerah tropis seperti Indonesia. Kejadian serupa juga terlihat di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dari sisi kualitas, hasil persilangan mampu menghasilkan sapi dengan performans fisik yang lebih baik sehingga menguntukan bagi peternak kecil/rakyat. Namun bila persilangan ini dilakukan terus menerus tanpa kontrol dan program yang jelas maka jumlah sapi lokal PO akan terus menurun dan bahkan menghilang / punah.
 
BAGAIMANA DENGAN SAPI BALI DITENGAH KEPUNGAN SAPI IMPOR DAN SAPI PERSILANGAN
Sapi bali adalah satu satunya sapi lokal indigenous / asli Indonesia yang berasal dari sapi liar Banteng (Bos sondaicus/javanicus) yang cocok dikembangkan di daerah tropis di Indonesia.
 
Keunggulan sapi bali
• Mudah berkembang
• Pemeliharaan minim dengan makanan yang berkualitas rendah
• Daya Reproduksi tinggi sehingga perkembangbiakkannya relatif cepat meskipun tanpa pengaruh manusia. Berkembang pesat di bawah pohon kelapa sawit.
• Ketahanan hidup tinggi di alam
• Memiliki prosentase karkas di atas 50 persen dengan kualitas daging baik dengan lemak sedikit.
• Daya tahan terhadap penyakit PMK cukup baik dibanding sapi impor, sapi persilangan impor dan sapi perah.
 
Sebenarnya sapi Bali bisa digunakan untuk meningkatkan kehidupan rakyat kecil apabila setiap peternak memiliki 5 ekor sapi bali yang terdiri dari 3 sapi betina dan 2 sapi jantan. Proyek IFAD di Lampung tahun 1976 berhasil mensejahterkan keluarga transmigran Bali hanya dengan memberikan pinjaman bantuan 5 ekor sapi bali.
 
Dengan kelebihan-kelebihan yang ada pada sapi bali tersebut, apakah mungkin sapi bali punah? Jawaban nya: TIDAK dan Sapi bali akan tetap lestari selama pelestariannya didukung oleh semua stakeholder baik pemerintah, peternak, pedagang dan semua pemangku kepentingan yang ada di Indonesia. Untuk menjaga plasma nutfah sapi bali, maka pemerintah Indonesia sejak tahun 1976, sesuai SK Menteri Pertanian No, 776/Kpts/Um/12/1976, mendirikan proyek Pembibitan dan Pengembangan Sapi bali (P3 Bali) dan tahun 1986 berkembang menjadi Pusat Pembibitan Pulukan (Breeding Centre Pulukan) di desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, sebagai tempat uji dan seleksi Sapi bali. Pada Tahun 2007, berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 13/Permentan/OT.142/2/2007, P3Bali ditingkatkan statusnya menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi bali. Pada tahun 2013, berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 52/Permentan/OT.140/5/2013, BPTU-HPT Denpasar berubah menjadi Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar. Unit BPTU-HPT Denpasar memiliki dua Breeding Center yakni:
Breeding Centre Pulukan 
Jalan Raya Denpasar - Gilimanuk Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan, Jembrana
Telp. (0365) 4765999

Breeding Center Dompu
Jalan Lintas Sumbawa, Kec. Manggalewa Desa Anamina, Kecamatan Maggalewa, Kabupaten Dompu NTB
Telp. (0373) 006181128

KESIMPULAN
1 Indonesia memiliki beragam jenis sapi potong unggulan yang dapat dibudidayakan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan.
2 Pemasukkan impor sapi potong ke Indonesia dalam bentuk hidup dan semen beku telah berhasil meningkatkan kualitas sapi lokal PO. Tujuan meningkatkan kualitas sapi potong lokal ditunjukkan dengan bergesernya pola kepemilikan jenis sapi pada peternakan rakyat dari ternak PO menjadi ternak persilangan PO. Data di Jawa Timur menunjukkan bahwa sapi persilangan PO dengan sapi potong impor (Limousin, Semental dll) menjadi idola dan dilakukan untuk menaikkan pendapatan peternak. Namun demikian agar kualitas dan mutu sapi persilangan PO tetap terjaga, maka bibit bibit sapi potong impor dan bibit sapi PO yang digunakan harus mengikuti standar mutu perfomance fisik SNI PO (SNI 7651-5:2020 BIBIT SAPI POTONG - BAGIAN 5: PO)
3 Tetap menjaga kemurnian sapi potong asli Indonesia (Sapi bali) dari kepunahan sesuai dengan performance fisik sapi bali yang telah ditetapkan dalam SNI 7651-4:2023 BIBIT SAPI POTONG - BAGIAN 4: BALI
4 Melakukan studi genetika sapi asli sapi Indonesia (Sapi bali) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tersedia. Sehingga kemurnian sapi bali tidak hanya berdasarkan standar performance fisik tapi juga berdasarkan performance genetik
5 Peternak perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti ketersediaan pakan, kondisi lingkungan, serta tujuan pemeliharaan. Dengan manajemen peternakan yang baik, setiap jenis sapi potong dapat memberikan hasil yang optimal dan menguntungkan bagi para peternak di Indonesia. (*)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Ditjen PDTu Kemendes PDTT Evaluasi Rawan Pangan

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng