Oleh Drh. Nining Hartaningsih, MVSc., Ph.D
Sapi Bali dan Sejarah Perkembangannya di Indonesia
Judul tulisan diatas sengaja saya ungkapkan untuk menjawab pertanyaan berbagai pihak yang peduli dengan keberadaan sapi Bali di Indonesia. Tentu ada dua kemungkinan yang bisa di ungkap untuk menjawab pertanyaan tersebut diatas yaitu: 1. Kemungkinan Punah dan 2. Tidak Punah.
Namun sebelum dua kemungkinan itu di ungkap maka tulisan tentang Sapi Bali di Indonesia akan terdiri dari 2 bagian yaitu: Bagian I. Sapi Bali dan Sejarah Perkembangannya di Indonesia; Bagian II. Sapi Bali Ditengah Kepungan Sapi Impor di Indonesia.
SAPI LOKAL DI INDONESIA
Ada berbagai versi tulisan tentang sapi lokal dan keberadaannya di Indonesia. Secara sederhana, terungkap bahwa sapi lokal Indonesia terbagi menjadi 2 jenis yaitu sapi lokal dan sapi potong lokal. Sapi lokal adalah jenis sapi2 yang ada di Indonesia sejak lama sebelum kemerdekaan bahkan ribuan tahun lalu dan jenis sapi potong lokal yang keberadaannya di Indonesia akibat kebijakan yang diambil oleh pemeritah Hindia Belanda maupun pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan dalam upaya meningkatkan mutu / kualitas daging. Sebaliknya berdasarkan tipenya, Fak Peternakan IPB tahun 2023 membagi sapi lokal yang ada di Indonesia menjadi 3 yaitu: sapi potong/pedaging; sapi pekerja dan sapi perah (topik ini akan dibahas lebih dalam pada bagian ke II).
1. Jenis sapi Lokal
Jenis sapi lokal yang sudah tercatat dan terdokumentasi sejak lama adalah: Sapi Banteng; Sapi Bali; Baduy; Benggala; Cakalele; Gurun; Kijang; Lembu Petarungan; Lippo dan Sapi Aceh.
2. Jenis sapi Potong Lokal
Sapi bali termasuk dalam golongan sapi potong lokal untuk diambil dagingnya. Berbagai jenis ras sapi potong lokal yang ada di Indonesia adalah: Sapi Bali; Sapi Brahman; Sapi Ongole; Sapi peranakan Ongole (PO); Sapi Madura; Sapi Pasundan; Sapi Aceh; Sapi Perahu; Sapi Kuningan; Sapi Rambon dan Sapi Banteng. Masing2 sapi tersebut mempunyai ciri2 lokal yang unik hingga tetap bertahan sampai saat ini. Selain sapi Bali, keberadaan sapi potong lokal tersebut kemungkinan besar terjadi karena adanya kebijakan dari pemerintah Hindia Belanda yang mengimpor sapi Ongole secara besar2an dari negara India pada tahun 1917 dan kebijakan untuk menghasilkan sapi dengan kualitas yang unggul tahun 1936 yang mengharuskan semua sapi jantan Jawa dikebiri dan sapi betina harus dikawinsilangkan dengan sapi Ongole impor. Dari kebijakan itulah, akhirnya menghasilkan sapi-sapi unggul kawin silang di berbagai daerah yang bertahan hingga saat ini.
Sapi Bali
Sapi Bali (Bos javanicus domesticus) merupakan hasil domestikasi banteng liar asli Indonesia di Jawa dan Bali, sekitar 5.000-10.000 tahun lalu (Meyer 1962). Saat ini banteng masih bisa ditemukan di Suaka Margasatwa Baluran dan Ujung Kulon di Jawa Timur, serta Pangandaran di Jawa Barat. Banteng (Bos javanicus) juga ada di beberapa kebun binatang di Indonesia maupun di luar negeri. Sapi Bali maupun banteng mempunyai ciri unik. Yang jantan berwarna hitam, sedangkan yang betina berwarna coklat.
KEUNGGULAN SAPI BALI
a. Adaptasi lingkungan tinggi
Sapi bali memiliki keunggulan adaptasi lingkungan yang baik, sangat produktif dengan kualitas daging yang baik. Berbagai keunggulan tersebut tertuang dalam thesis program doktor Prof. Dr. Djiwa Darmaja (alm.) dari Fakultas Peternakan Udayana Bali. Beliau menyebut sapi bali sebagai sapi pionir karena sapi Bali mudah beradapatasi dengan lingkungan baru. Hampir tidak pernah ditemukan sapi Bali dalam kondisi kurus, karena mereka bukan pemilih jenis makanan. Sekitar tahun 1800-an, 20 ekor sapi dibawa dari Bali ke Australia Utara untuk cadangan sumber protein tentara sekutu. Dalam kurun waktu 150 tahun, jumlahnya menjadi sekitar 2.000 ekor. Karena jumlahnya makin banyak, populasi sapi bali di Australia Utara dinilai sebagai hama, sehingga populasinya dikurangi. Hal ini menggambarkan bahwa tanpa campur tangan manusia, sapi bali bisa hidup baik dan berkembang biak di alam bebas.
b. Fertilitas tinggi
Produktifitas sapi Bali juga sangat tinggi. Hampir tiap tahun melahirkan anak. Disebutkan Conception rate sapi bali 80-90%, jauh melebihi sapi persilangan brahman dan short horn (50-60% (Little-Known Asian Animals With a Promising Economic Future 1983
c. Kualitas daging yang baik
Buku “Little-Known Asian Animals with a Promising Future” (National Research Council National Academy Press, Washington D.C. 1983) antara lain mencatat sapi bali sebagai golongan sapi potong yang diunggulkan untuk peningkatan produktivitas daging. Daging sapi Bali dikenal baik karena rendah lemak.
KELEMAHAN SAPI BALI TERHADAP PENYAKIT
1. Penyakit Jembrana
Sapi Bali merupakan jenis sapi satu satunya yang terserang penyakit Jembrana. Virus Jembrana, mirip dan bahkan satu famili dengan HIV pada manusia, menyerang sistim kekebalan sapi bali dan menyebakan penyakit imunodeficiency. Akibatnya sapi Bali peka dan mati karena infeksi bakteria atau virus kontaminan (Info lengkap: Sejarah Penyidikan Penyakit Jembrana th 1964-2010).
2. Malignant Catharrhal Fever (MCF / penyakit ingusan)
MCF adalah penyakit viral yang fatal pada sapi dan kerbau. Sapi bali merupakan sapi yang paling peka terhadap MCF. Domba merupakan pembawa (carrier) virus MCF, tanpa menjadi sakit. Virus MCF diekskresikan lewat cairan saat domba melahirkan. Meskipun semua jenis sapi bisa terserang MCF, namun sapi bali paling sensitif terhadap infeksi virus MCF. Oleh karena itu sapi bali tidak cocok dikembangkan di Jawa Barat, karena disana terdapat banyak populasi domba. Sampai kini belum ada vaksin untuk MCF. Oleh karena itu cara menghindari penularan MCF adalah memisahkan ternak yang peka terhadap domba. Di Bali MCF sudah tidak ditemukan karena domba dilarang masuk dan dikembangkan di Bali.
Tidak ada pengobatan untuk MCF. Sekali gejala klinis muncul, selalu berakhir dengan kematian (Case Fatality Rate 100%). Di Indonesia wilayah yang banyak ditemukan MCF antara lain, Banyuwangi dan Tuban (Jawa Timur) dan Sumbawa.
3. Penyakit Mulut Kuku (PMK).
Semua sapi potong sangat peka terhadap PMK. Untungnya, sapi bali relatif lebih tahan dibandingkan sapi potong lainnya yang ada di Indonesia.
4. Penyakit Bali Ziekte
Penyakit ini hanya ditemukan pada sapi Bali dan menyebabkan keropeng2 kulit yang simetris. Penyebab penyakit ini adalah tanaman Lantana camara. Tanaman ini tidak disukai oleh jenis sapi potong lainnya karena rasanya yang pahit. Ini bukti bahwa sapi Bali mudah hidup karena mampu memakan segala jenis tanaman, termasuk tanaman bergizi rendah yang tersedia di alam bebas.
POPULASI DAN KEBERADAAN SAPI BALI DI INDONESIA
Sapi Bali sebagai sapi asli Indonesia, tersebar hampir di seluruh Indonesia dengan jumlah populasi yang tidak terdata dengan pasti. Total populasi sapi Bali tercatat 27%; 35 % atau 50% dari total populasi sapi di Indonesia. Fakultas Peternakan IPB dalam buku Sapi Lokal Indonesia 2023, mencatat perkiraan populasi setiap sapi lokal di Indonesia.
Sangat terlihat jelas bahwa Sapi Bali tahun 2018 mendominasi jumlah populasi (33%) sapi lokal saat ini. Berturut turut prosentasi sapi lokal di Indonesia kemudian diikuti oleh peranakan Simental 15%; Lainnya 14%; Peranakan Ongole 11%, Peranakan Limousin 9%; Madura 7%; Aceh 6% dan Brahman 5%. Pembahasan masing-masing jenis sapi yang ada di Indonesia saat ini dan efeknya terhadap sapi bali akan dibahas secara komprihensif pada tulisan bagian ke II. (*)