Denpasar (Atnews) - Suasana khidmat menyelimuti Banjar Pesanggaran, Desa Adat Pedungan, Denpasar Selatan, pada Jumat, 15 Agustus 2025. Warga bersama panitia akan menggelar Upacara Melaspas, Mecaru, dan Ngeratep Pelawatan di Pura Tedung Sari dan Pura Bhagawan Penyarikan, sebagai bentuk penyucian dan peresmian bangunan suci yang telah rampung dibangun.
Upacara Melaspas yang dipuput oleh Ida Sulinggih saking Gria Batulumbang, Sibang ini, akan menjadi prosesi penting dalam tradisi Hindu Bali. Melaspas bukan sekadar seremonial, melainkan mempersilakan Dewa-Dewi berstana di pelinggih sehingga pura siap difungsikan sebagai pusat pemujaan dan spiritual warga.
Pada kesempatan itu, Kelian Adat Banjar Pesanggaran, I Ketut Agus Pujawan, dan Kepala Lingkungan, Putu Sucipta, menegaskan bahwa pembangunan pura serta rangkaian upacara ini sepenuhnya dibiayai oleh swadaya krama dan punia donatur yang berdomisili di wilayah Banjar Pesanggaran. “Tidak ada bantuan hibah atau dana bansos dari pihak manapun. Semua ini lahir dari semangat gotong royong dan rasa tulus ikhlas ngayah masyarakat,” ujar Agus Pujawan.
Pembangunan pura menghabiskan dana sekitar Rp5 miliar, sedangkan prosesi ngodakan pelawatan Ida Bhatara menelan biaya Rp800 juta. Seluruh biaya tersebut dihimpun dari kontribusi warga dan dukungan perusahaan-perusahaan yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya dan spiritual masyarakat.
Rangkaian kegiatan meliputi Ngeratep Pelawatan, mendem dasar, mendem pedagingan, melaspas, dan mecaru pada 16 Agustus 2025. Selanjutnya, prosesi Mejaya-jaya, Masopati, dan Ngerehang akan digelar pada 31 Agustus 2025, sementara pementasan Calonarang dijadwalkan pada 15 September 2025.
Upacara ini menjadi simbol kekompakan dan kemandirian warga Banjar Pesanggaran. Di tengah era modern, semangat ngayah dan gotong royong yang tanpa bergantung pada dana hibah atau bansos, membuktikan bahwa pelestarian pura dan adat istiadat dapat tetap terjaga dengan kekuatan kebersamaan. (Z/001)