Oleh Prof. Dr. IB Raka Suardana, SE.,MM., Guru Besar FEB Undiknas Denpasar
Perang terbuka antara Thailand dan Kamboja dengan eskalasi serius di munggu ketiga Juli 2025, telah membawa dampak signifikan terhadap kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Dari sisi keamanan wilayah, lebih dari 40.000 warga sipil di sekitar perbatasan Thailand dievakuasi dari 86 desa akibat serangan artileri, bom ranjau, dan serangan udara F‑16 dari Thailand sebagai respons terhadap serangan rudal Kamboja. Seluruh pos lintas batas ditutup, dan kedua negara menurunkan hubungan diplomatik, menambah ketegangan keamanan di kawasan ASEAN.
Dari data yang ada, secara ekonomi perdagangan bilateral 2024 antara Thailand dan Kamboja mencapai sekitar US $4,29 miliar, namun pada awal 2025 ekspor Kamboja ke Thailand turun 2,9% sementara impor Thailand naik 9,4%, memperparah defisit perdagangan Kamboja di sektor pertanian seperti singkong, jagung, dan durian.
Krisis politik domestik Thailand memperlemah pertumbuhan ekonomi yang diprediksi hanya sedikit di atas 1% pada 2025, sementara indeks saham lenyap sekitar 23,4%, kepercayaan konsumen terendah dlm 27 bln dan belanja pemerintah turun 38% tahun ke tahun.
Dlm sektor pariwisata, konflik menghantam wilayah perbatasan langsung spt provinsi Sa Kaeo dan Surin— pembatalan akomodasi terjadi scr masif.
Thailand menargetkan 39 juta wisatawan tahun 2025 dan telah menerima lebih dari 15 juta pengunjung internasional hingga Juni 2025, namun konflik ini tentu akan mengancam target tsb dan membuat kunjungan dari China turun tajam, memicu turunnya angka wisatawan keseluruhan, meski kebanyakan destinasi utama masih aman.
Sementara itu, Kamboja mencatat 6,7 juta kedatangan wisatawan pada 2024, naik 22,9% dari 2023, dan 3 juta pengunjung dalam lima bln pertama 2025 (naik 11,7%), dan jelas dengan adanya ketegangan perbatasan tentu akan bisa menganggu perekominan di kedua negara.
Dampak sosial muncul dalam bentuk eksodus massal, kerusakan infrastruktur seperti rumah dan rumah sakit di mulai kawasan perbatasan, serta peningkatan nasionalisme kedua negara.
Media ASEAN mencatat tingginya retorika politik dan pemblokiran konten budaya lintas negara seperti larangan film dan internet Thailand di Kamboja. Di Indonesia, meskipun bahkan zona konflik langsung, aksi solidaritas kemanusiaan melalui Palang Merah dan organisasi sosial ASEAN meningkat, dan sentimen publik terhadap migran atau imigran meningkat sementara muncul diskusi tentang stabilitas regional.
Secara keseluruhan, perang Thailand–Kamboja telah mengguncang aspek keamanan, ekonomi, pariwisata, dan sosial kawasan Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi tentu bisa jadi akan melambat, arus wisata lebih berhati-hati, dan ketegangan sosial meningkat.
Indonesia dan ASEAN menghadapi tekanan untuk memperkuat mekanisme diplomasi kolektif dan mitigasi risiko demi mencegah dampak serupa di masa depan. (*)