Setelah 45 Tahun, Upacara Mecaru Sapi Jantan Hitam, Kembali Digelar di Desa Bulian Buleleng
Banner Bawah

Setelah 45 Tahun, Upacara Mecaru Sapi Jantan Hitam, Kembali Digelar di Desa Bulian Buleleng

Admin - atnews

2025-01-29
Bagikan :
Dokumentasi dari - Setelah 45 Tahun, Upacara Mecaru Sapi Jantan Hitam, Kembali Digelar di Desa Bulian Buleleng
Seekor Sapi jantan hitam yang akan dijadikan sarana upacara caru (ist/Atnews)
Buleleng (Atnews) - Setelah 45 tahun tidak dilaksanakan, upacara sakral Mecaru Sapi Jantan Hitam, kembali digelar di Desa Bulian, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali bertepatan dengan Tilem Kapitu, Selasa, (28/1/2025). Tradisi ini dihidupkan kembali sebagai bagian dari pelestarian warisan leluhur dan upaya menjaga keseimbangan alam semesta.

Ritual berlangsung di Perempatan Puser Desa Bulian, di bawah pohon beringin besar yang diyakini sebagai pusat desa. Prosesi diawali dengan arak-arakan seekor sapi jantan berwarna hitam yang telah dihias dengan perlengkapan adat. Sapi ini kemudian diarak mengelilingi desa Pulo Sekar (nama lain Desa Bulian) sebelum digunakan sebagai sarana upacara. Dalam kepercayaan Hindu Bali, sapi hitam melambangkan Dewa Wisnu, dewa pemelihara keseimbangan dunia, baik secara sekala (fisik) maupun niskala (spiritual).

Ketua panitia upacara, Gede Suardana, mengatakan bahwa ritual ini merupakan wujud rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa serta sebagai bentuk pemeliharaan keharmonisan alam. 
"Kegiatan ini idealnya dilakukan setidaknya maksimal setiap sepuluh tahun sekali, atau bahkan setiap tahun jika memungkinkan. Ini adalah bagian dari pelestarian tradisi leluhur," ujarnya saat ditemui, Rabu, (29/1)

Lebih lanjut, Suardana menambahkan pelaksanaan ritual pada Tilem Kapitu diyakini dapat menciptakan keseimbangan dan membawa keberkahan bagi desa. "Jika ritual ini bisa dilakukan secara rutin, saya yakin akan membawa kerahayuan (keselamatan) dan keajegan jagat (ketertiban dunia)," tambahnya.

Upacara ini turut dihadiri oleh Penglingsir Puri Agung Denpasar, Anak Agung Ngurah Wirabima, serta Penglingsir Puri Mas Tebeng Pemecutan, Anak Agung Wisnu Murti. Kehadiran mereka menunjukkan dukungan terhadap masyarakat Desa Bulian dalam melestarikan budaya leluhur.

Masyarakat setempat berharap, dengan dihidupkannya kembali upacara ini, keseimbangan alam dan keharmonisan desa dapat terus terjaga. Selain itu, mereka juga berharap tradisi ini tetap lestari dan diwariskan kepada generasi mendatang. (WAN)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Alfa Prima Kampus Diploma Terbaik di Bali

Terpopuler

Jaga Estetika Kota, Kabel Fiber Optik Semrawut di Singaraja Ditertibkan, Pemkab Buleleng Libatkan APJATEL dan ISP

Jaga Estetika Kota, Kabel Fiber Optik Semrawut di Singaraja Ditertibkan, Pemkab Buleleng Libatkan APJATEL dan ISP

Mahasabha Parisada XIII, Transformasi dan Adaptasi Hindu Dharma

Mahasabha Parisada XIII, Transformasi dan Adaptasi Hindu Dharma

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

Lima hal X Ray – AI TB pada CKG

Lima hal X Ray – AI TB pada CKG

Bali-Timor Leste Business Forum 2026: KADIN Bali Bagikan Pengalaman jadi Tuan Rumah B20 KTT G20 Indonesia

Bali-Timor Leste Business Forum 2026: KADIN Bali Bagikan Pengalaman jadi Tuan Rumah B20 KTT G20 Indonesia

Presiden Prabowo Pimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI, Turut Hadir SBY hingga Jokowi

Presiden Prabowo Pimpin Upacara Peringatan HUT ke-81 TNI, Turut Hadir SBY hingga Jokowi