Dharma Tula Undiksha, Semangat Belajar Veda, Pendidikan Jembatan Bangun Generasi Indonesia Emas 2045
Banner Bawah

Dharma Tula Undiksha, Semangat Belajar Veda, Pendidikan Jembatan Bangun Generasi Indonesia Emas 2045

Admin - atnews

2024-09-08
Bagikan :
Dokumentasi dari - Dharma Tula Undiksha, Semangat Belajar Veda, Pendidikan Jembatan Bangun Generasi Indonesia Emas 2045
Sekretaris Umum (Sekum) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Ketut Budiasa (ist/Atnews)
Buleleng (Atnews) - Sekretaris Umum (Sekum) Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat Ketut Budiasa merasa terberkati dengan kesempatan memberikan materi Dharma Tula di hadapan 2.690 mahasiswa baru Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Buleleng, Minggu (8/9).

Acara yang dilaksanakan oleh KMHD Yowana Brahma Vidya sangat membahagiakan karena mempromosikan pentingnya mempelajari agama (Hindu) sebagai sumber moralitas untuk memperkuat generasi muda Hindu menuju Indonesia emas 2045.

Hindu adalah ajaran spiritual, samudra pengetahuan Ketuhanan dan juga gudang ajaran etik yang berbasis konsep filsafat yang mendalam.

"Ketika kita bicara sikap toleran misalnya, ia tidak muncul tiba-tiba tanpa landasan. Ia muncul dari Mahavakya Veda, tat twam asi. Karena dilandasi konsep yang substantif dan mendalam itulah, toleransi orang-orang Hindu bersifat tulus, bukan basa basi sekadar memenuhi tuntutan masyarakat modern," ujarnya.

Toleransi bersifat intrinsik dalam tubuh Hindu, bukan konsep yang dicangkokkan paksa dari luar. Ini salah satu contoh saja.

Di hadapan ribuan calon-calon pemimpin masa depan ini, pihaknya mempromosikan “peta jalan Veda” — mengutip buku terakhir dari Cendekiawan hebat Hindu, alm Ngakan Putu Putra.

Ia pun merasa bersyukur mewarisi ajaran agung dari para Maharsi yang memperoleh pencerahan spiritual ribuan tahun yang lalu.

"Kalau kita masih merasa gelap, mungkin karena kita yang belum tertarik keluar ruangan. Kalau ada orang yang berada dalam gelap mengatakan bahwa ia ingin melihat matahari, apa yang kamu sarankan? Tidakkah kamu akan menyarankan dia untuk keluar ruangan, berdiri di tempat terbuka? Matahari sudah ada disana sebelumnya,” ujarnya.

Demikian cuplikan percakapan Krisna dan Arjuna yang pihaknya putar di hadapan gen Z yang biasanya memiliki karakter cerdas dan kreatif ini.

Di penghujung acara, pihaknya membagikan 2 buku kepada 2 peserta yang mengajukan pertanyaan terbaik.

Ia pun menuturkan seorang mahasiswi dari jurusan akuntansi bertanya: “bagaimana cara belajar agama agar tidak tersesat? Saya menemukan orang-orang yang belajar agama kemudian menjadi fanatik, merasa memiliki kebenaran sendiri sambil menyalahkan orang lain”.

Penanya kedua, mahasiswa Pendidikan Ilmu Komputer, mengajukan contoh riil di keluarganya. “Saya punya saudara yang mendalami filsafat Hindu. Dia sering membahas konsep dvaita dan advaita. Dia mengatakan kita perlu meningkatkan pengetahuan filsafat dan menyederhanakan ritual. Bagaimana menurut Bapak?”

Dua pertanyaan tersebut, selain tajam juga aktual. Saya tidak berani “menggurui” dengan mengajukan jawaban tunggal. "Saya mengajak mereka berpikir bersama dan menggali apa kunci-kuncinya. Seorang guru mengajarkan bahwa semakin jauh seseorang mendaki tangga kesadaran spiritual, maka semakin dia terbebas dari judgement hitam putih. Maka untuk pertanyaan pertama, rambu-rambunya kira-kira: a) Hati-harimencari guru. Agar bertemu guru yang baik, hindarilah menghina guru-guru suci. Semoga dengan hati yang bersih kita berjodoh dengan guru yang baik; b) Cermati lagu pelih agulikan. Lagu itu adalah kritik yang layak direnungkan; c) Tetap jaga nurani hidup. Itu karunia Tuhan yang diberikan pada kita. Berpeganglah pada golden rule; d) Kita tidak mengenal terminologi sesat. Tapi kita memiliki takaran etik dan hukum positif. Menyalahkan cara orang lain adalah melanggar etika, dan mempersekusi keyakinan lain adalah melanggar hukum. Dua-duanya adalah alarm agar kita berhati-hati Dengan sadar alarm ini plus golden rule, mudah-mudahan kita terbebas dari apa yang dikhawatirkan itu; e) Ketakutan pada ketersesatan tidak boleh menjadi alasan kita tidak belajar," bebernya.

Untuk pertanyaan kedua, pihaknya tetap mengacu pada ungkapan guru suci tersebut. Mendikotomikan bukanlah ciri jalan spiritual. Membenturkan tattwa dan ritual tidaklah bijaksana.

Tetapi bahwa perlu menyeimbangkan ketiga kerangka dasar, itu sesuai materi presentasinya. "Kalau kita kaya raya, maka melaksanakan yadnya utamaning utama adalah baik. Kalau yadnya-nya utamaning utama, tattwanya juga baiknya yang utama, agar seimbang. Yang tidak baik adalah memaksakan ritual hingga menjual warisan, disisi lain tidak menyentuh tatwa. Ketiganya penting dan perlu diseimbangkan sesuai kondisi masing-masing. Hindari mendikotomikan apalagi membenturkan. Generasi muda harus membangun fondasi masa depan dengan pemikiran positif, inklusif, memerdekakan dan mencerahkan," ajaknya.

Ia pu  sungguh berharap, perjumpaan hari itu bisa menjadi pemantik agar generasi muda ini terdorong mempelajari Veda. "Meski acara hanya 1 jam, tetapi bukankah hanya perlu sebatang korek untuk membakar hutan?," pungkasnya. (GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Hari Amal Bhakti Ke-73, STAH Dorong Kualitas ASN dan Mahasiswa

Terpopuler

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Rumah Layak untuk Pak Juli: Gotong Royong Bulan Bung Karno Wujudkan Kesejahteraan Warga Buleleng

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

Penguatan Desa Budaya, Prodi Ilmu Pemerintahan FISIP Unwar Gelar PKM di Desa Sukawati 

DPRD Badung Ucapakan Hari Raya Waisak

DPRD Badung Ucapakan Hari Raya Waisak

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

Senantara: Kita Butuh Investor yang Jaga Bali, Bukan Cuma Cari Untung

ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme untuk Pariwisata Berkelanjutan

ITDC Gandeng Masyarakat Benoa Kelola Sampah Organik Jadi Eco Enzyme untuk Pariwisata Berkelanjutan

81 Tahun Pancasila, Semarak di Seremoni, Tercampakkan dalam Realitas

81 Tahun Pancasila, Semarak di Seremoni, Tercampakkan dalam Realitas