Banner Bawah

Ikuti Trend Mode Global, Mangku Pastika Kagumi Uluwatu Handmade Balinese Lace Kualitas World Class

Admin - atnews

2024-08-02
Bagikan :
Dokumentasi dari - Ikuti Trend Mode Global, Mangku Pastika Kagumi Uluwatu Handmade Balinese Lace Kualitas World Class
Anggota DPD RI dapil Bali Dr. Made Mangku Pastika mengagumi Uluwatu Handmade Balinese Lace (Artaya/

Denpasar (Atnews) - Anggota DPD RI dapil Bali Dr. Made Mangku Pastika mengagumi Uluwatu Handmade Balinese Lace dengan spirit "A Conscious Fashion Brand" yang sudah memiliki kualitas kelas dunia (world class).

Uluwatu Handmade Balinese Lace yang didirikan oleh Ni Made Jati asal Kuta Badung mampu membangun merek fashion yang penuh perhatian sejak didirikan pada tahun 1978.

Desainer fashionnya memiliki ciri khas Rwa Bhineda atau warna hitam dan putih, mereka menyajikan desainer tren mode global.

Produknya sudah dipromosikan ke berbagai belahan negara dari Paris, London (Inggris), New York (Amerika), Beijing (China), Seoul (Korea), Tokyo (Jepang), Mumbai (India) dan Adelaide.

Apalagi perusahaan tersebut juga memiliki komitmen untuk sumber yang etis dan akan memastikan semua bahan bakunya organik, didaur ulang atau didaur ulang pada tahun 2025.

Disamping desain yang selalu ikuti trend global. Saat ini para desainer mengeksplorasi tren mode global untuk memastikan kliennya tetap bertahan.

Mangku Pastika memuji apa yang dibuat Uluwatu Handmade itu sebagai karya kelas dunia. “Ini hasil cipta, rasa dan karya yang luar biasa. Dan pasti ada yang unik dan istimewa sehingga diterima berbagai kalangan,” kata Mangku Pastika yang juga Gubernur Bali dua periode 2008-2018 di di Jalan By Pass Ngurah Rai Denpasar, Rabu (31/7).

Hal itu disampaikan dalam rangka Reses dengan tema “Prospek Produk Export di Tengah Persaingan Global”, Mangku Pastika didampingi Tim Ahli Nyoman Baskara, Ketut Ngastawa dan Nyoman Wiratmaja disambut hangat oleh pendiri Uluwatu Handmade Balinese Lace Ni Made Jati bersama jajarannya.

Mangku Pastika pun menjelaskan tentang hitam-putih yang pada pokoknya bukan warna melainkan dasar yang dapat menciptakan warna lainnya. “Coba perhatikan warna pelangi yang terdiri merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu tidak ada hitam dan putih,” ujarnya.

Di sisi lain, Mangku Pastika memuji peran dan kemampuan wanita (Bali) yang ulet, tekun dan inovatif. “Bisa mencapai seperti ini tentu tidak mudah dan perlu waktu panjang,” puji Mangku Pastika atas apa yang dilakukan Made Jadi.

Dengan filosofi dan spirit yang kuat, diyakini produk Uluwatu Handmade Balinese Lace akan mendapatkan pelanggan yang memiliki kualitas yang sama dari berbagai belahan dunia.

Oleh karena, pakaian siap pakai yang diproduksi secara handmade (buatan tangan) memiliki nilai tersendiri.

Mangku Pastika tetap optimis produk itu masih tetap eksis bahkan makin banyak diminati.

Sementara itu, Pendiri Uluwatu Handmade Balinese Lace Jati mengatakan usaha membuat pakaian yang dikerjakan dengan tangan (handmade) tetap memiliki pangsa pasar luas. Bahkan pakaian handmade ini bisa bertahan lama.

Menurut Jati didampingi manajernya Iwan, pakaian dan seprai yang dibuat dengan renda buatan tangan telah menyebar ke berbagai belahan dunia. Uluwatu juga menghasilkan kebaya, blus, celana pendek, rok dan dress.

Yang unik dari Uluwatu Handmade ini, semua hasil karyanya hanya (berwarna) hitam dan putih. Ini menguatkan pada konsep rwa bhineda sebagai sesuatu yang terdiri atas dua unsur yang saling berseberangan, seperti siang dan malam, atas dan bawah, baik dan buruk. Namun, kedua unsur tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan saling membutuhkan.

“Kami telah melakoni usaha ini sejak tahun 70-an dan tetap eksis hingga saat ini,” ujar  Ni Made Jati.

Perjuangan Made Jati terbilang cukup panjang. Ia sempat menjadi pedagang acung di pantai, dan pemain surfing. Ia mengaku gelombang yang mengeluarkan buih menjadi inspirasinya untuk menciptakan desain pada produknya.

Dan untuk menghasilkan sebuah karya memerlukan proses yang panjang. Tiap


produk sampai 12 proses dengan melibatkan banyak tenaga. “Pakaian atasan paling banyak. Kita sedang jajaki market remaja dan anak muda. Kita bisa bikinkan apa maunya anak muda,” ujar Made Jati.

Ia mengaku bekerja dari Bali, atau disebut sebagai "Pulau Dewata" dengan mencoba menyeimbangkan mode dengan gaya hidup tenang dalam etos Bali.

"Kami menghormati semangat nenek moyang kami. Kami memelihara kerajinan hidup yang menjadi sumber mata pencaharian bagi beberapa ratus rumah tangga," ungkapnya.

Selama lebih dari 50 tahun, Uluwatu telah memanfaatkan keterampilan alam ini untuk menghasilkan renda dengan kualitas yang unik.

Kerajinan renda ini, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai cutwork, disebut krawang dalam bahasa Bali. Krawang Uluwatu dibuat dengan cara tradisional.

Renda direntangkan pada lingkaran bambu dan dijahit dengan tangan pada mesin bertenaga kaki yang identik dengan mesin Singer lama yang sekarang hanya terlihat sebagai barang antik di seluruh dunia. Benang dibuat dengan hati-hati lapis demi lapis saat lingkaran bergerak maju mundur. Area renda yang kosong dipotong dengan hati-hati dengan gunting kecil yang tajam sementara tepi yang longgar ditangkap dan diikat oleh jarum yang berputar. Satu item mungkin memakan waktu lima hari atau lebih untuk diselesaikan dan hasil akhirnya adalah sebuah karya seni.

Kini, Uluwatu Handmade Balinese Lace mempekerjakan lebih dari 500 pengrajin di studio yang benar-benar modern. Studio di Tabanan, Bali ini terintegrasi secara vertikal untuk menghasilkan produk yang lengkap. Pabrik ini adalah pabrik tanpa emisi dan sangat berkomitmen pada produksi berkelanjutan, serta berupaya memenuhi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (SDG-17).

Sementara Budaya Perusahaan, sejak awal berkomitmen pada Perdagangan yang Adil, Sirkularitas Mode, Blockchain & Sumber yang Etis, sertifikasi proses saat ini sedang berlangsung.

Pihaknya menyiapkan desain di Resor, Kasual, Formal dan Pengantin. Ada juga koleksi Pakaian Pria, Aksesori dan Linen Rumah yang patut dibanggakan.

Uluwatu Handmade Balinese Lace adalah perjalanan penuh semangat seorang wanita untuk menciptakan produk fashion luar biasa dengan kerajinan tradisional Bali. Ini adalah perjalanan lebih dari 50 tahun. Pada awal tahun 1970-an, Jati mengubah kecintaannya pada renda Bali menjadi sebuah bisnis.

Uluwatu Handmade Balinese Lace mempekerjakan lebih dari 500 pengrajin di sebuah atelier yang benar-benar modern. Atelier di Tabanan, Bali ini terintegrasi secara vertikal untuk membuat produk yang lengkap. Ini adalah pabrik tanpa emisi dan sangat berkomitmen pada manufaktur berkelanjutan. Sejak awal, budaya perusahaan ini berkomitmen pada FairTrade, Fashion Circularity, Blockchain dan Ethical Sourcing, dan saat ini sedang dalam proses sertifikasi. (GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Kerajinan Ketak Desa Darmaji, Diekspor Sampai ke Negeri Tetangga

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng