Gianyar (Atnews) - Anggota DPD Dapil Bali Made Mangku Pastika mengujungi Taman Burung Bali Bird Park yang mengoleksi sekitar 250 jenis burung dari berbagai belahan benua di dunia.
Kedatangan rombongan Mangku Pastika yang didampingi, Tim Ahli DPD Mangku Pastika yakni Ketut Ngastawa, Nyoman Baskara dan Nyoman Wiratmaja disambut hangat oleh General Manager Bali Bird Park Pande Suastika, Director of Sales& Marketing Fitri Hartini, Curator Nengah Nuyana, Avian Manager Wayan Rosiana, dan Guest Experience Manager Agus Setiawan di Gianyar, Selasa (19/4).
Kunjungan dalam rangka reses sebagai Anggota DPD Dapil Bali, rombongan dikenalkan burung dari benua yakni Afrika, Amerika, Australia, Eropa dan Asia.
Hampir berbagai jenis burung yang langka di Indonesia dan termasuk Bali dapat dijumpai di taman burung tersebut.
Taman burung Bali Bird Park dibangun tahun 1995 atau 21 tahun silam merupakan taman burung pertama di Indonesia yang memberikan wahana rekreasi burung terlengkap yang mengoleksi 250 jenis burung.
Mangku Pastika memberikan apresiasi terhadap seluruh Manajemen Bali Bird Park yang begitu gigih melakukan penyelamatan terhadap berbagai jenis-jenis burung yang ada.
Hal itu sebagai upaya penyelamatan dan pelestarian alam. Bagian dari implemenatsi Tri Hita Karana, meskipun kondisi begitu sulit dalam menghadapi pandemi. Namun pemeliharaan burung-burung Bali Bird Park masih bisa berjalan.
Dengan melakukan pemangkasan tenaga kerja melalui rangkap jabatan dan termasuk pembuatan pakan burung secara mandiri. Upaya itu dilakukan dalam menekan pengeluaran sehingga konservasi bisa tetap berjalan.
Ia pun mengaku sudah mengunjungi berbagai daerah di Indonesia yang memiliki burung-burung yang indah, khususnya paling berkesan dengan Burung Cendrawasih ketika menjadi Kapolda Papua.
Suasana yang indah Bali Bird Park membuat betah diskusi Mangku Pastika dengan pihak Manajemen. Berkeinginan seharian duduk disana dan beberapa agenda diskusi akan digelar di Bali Bird Park.
"Saya pun tiap pagi di rumah kedatangan burung Tekukur, kita siapkan nasi-nasi sisa kemarin. Senang sekali melihat burung-burung itu, terbang bebas tanpa perlu dikurung dalam sangkar," ujarnya.
Sementara itu, GM Bali Bird Park Pande Suastika merasa bangga dikunjungi sosok Pahlawan Bali dalam pengungkapan kasus Bom Bali I yang menimbulkan kemerosotan ekonomi Pulau Dewata.
Ditambah lagi sebagai Gubernur Bali dua periode 2008 hingga 2018 yang berkenan mengujungi Bali Bird Park sebagai tempat pelestarian burung dan edukasi kepada masyarakat.
Ia mengakui masa pandemi Covid-19 selama 2,5 tahun tentu alami kondisi yang cukup sulit, lebih parah dari dampak Bom Bali I dan II. "Setiap bulan defisit anggaran pemeliharaan capai Rp300 juta, sekarang saja masih bekerja 67 karyawan, dirumahkan 35 orang dari 160 karyawan yang ada," ungkap Pande Suastika.
Karyawan yang ada semua melakukan rangkap jabatan. Tamu yang datang masih kisaran 50 orang per hari, biasanya rata-rata 450 orang per hari baik asing dan domestik.
Semua pendapatan masih tetap difokuskan untuk pemeliharaan burung-burung, khususnya untuk pakan. Burung yang ada pakannya beragam ada buah-buahan, biji-bijian, serangga maupun daging.
Beberapa jenis pakan impor kini mulai produksi sendiri dan substitusi dalam menekan biaya operasional.
Taman burung yang dibangun dan ditata sedemikian rupa mampu menunjukkan kehidupan alami burung-burung tersebut, dikemas dengan aneka jenis pertunjukkan seperti "Bali Rainforest, Free Flight Brid Show" dan "Basic Instinct, Bird of Prey Show" setiap hari pada pagi dan sore pada kondisi normal.
Pihaknya mengedepan sisi pendidikan kepada para pengunjung sehingga mereka memiliki tentang burung setelah melakukan kunjungan tersebut.
Ia telah kerja sama Perkumpulan Kebun Bintang Seluruh Indonesia (PKBSI) akan terus meningkatkan kontribusi untuk menjaga kelestarian burung yang semakin langka.
"Pihaknya telah berhasil mengembangbiakkan beberapa jenis burung langka," pungkasnya. (ART/001)