Integrasi Pertanian dan Pengelolaan Sampah Wujudkan One-stop Food Estate mini: Pelajaran Di Desa Sibang Gede, Badung
Integrasi Pertanian dan Pengelolaan Sampah Wujudkan One-stop Food Estate mini: Pelajaran Di Desa Sibang Gede, Badung
Admin 2 -
atnews
2026-06-06
Bagikan :
Gede Sedana (ist/atnews)
Oleh Gede Sedana
Integrasi pertanian (dalam arti luas, mencakup tanaman dan perikanan) dengan pengelolaan sampah di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) bukan sekadar menempatkan lahan pertanian di sebelah tempat pembuangan sampah. Makna terdalam dari integrasi ini adalah penerapan ekonomi sirkular (circular economy) dan prinsip zero waste.
Pada integrasi ini terjadi aliran materi dan energi yang tidak lagi bergerak linier (produksi, konsumsi dan buang), melainkan berputar dalam sebuah siklus tertutup. Sampah organik yang dulunya dianggap sebagai beban lingkungan dan sumber bau, diubah perannya menjadi sumber daya (nutrisi dan energi) untuk mendorong peningkatan produktivitas tanaman pangan termasuk ikan.
Integrasi ini menciptakan hubungan simbiosis mutualisme yang mandiri, dimana TPS3R menyuplai nutrisi murah dan berkualitas, sementara unit ketahanan pangan memanfaatkan nutrisi tersebut untuk memproduksi karbohidrat, vitamin, dan protein, sekaligus menyerap kembali limbah tanaman menjadi bahan baku kompos baru.
Integrasi antara TPS3R dengan program ketahanan pangan adalah langkah super strategis untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Konsep utamanya adalah mengubah masalah (sampah organik) menjadi solusi (media tanam dan pupuk) untuk memproduksi pangan berkualitas secara mandiri.
Pelajaran dari pengembangan integrasi tersebut telah menunjukkan keberhasilan dan berkelanjutan, seperti di Desa Sibang Gede, Kabuapten Badung. Pengelola unit ketahanan pangan desa mengintegrasikan antara TPS3R dengan tanaman tanaman cabai, terong, kacang panjang, jagung, dan papaya dan ikan lele sebanyak 6 (enam) kolam yang berisikan masing-masing 1.500 lele.
Pelajaran penting yang dipetik dari integrasi tersebut adalah sampah menjadi komponen pokok dalam penyediaan pangan, yaitu adanya aliran aliran nutrisi yang berputar dari area TPS3R ke area ketahanan pangan.
Di hulu (TPS3R), sampah organik dari rumah tangga (sisa makanan, sayuran, daun) dipilah dan diproses menjadi kompos matang atau pupuk organik cair (POC), maggotnya dijadikan pakan ikan lele, dan bekas maggot (Kasgot) menjadi pupuk premium.
Sementara itu, di bagian hilir, (ketahanan pangan), kompos dan pupuk organik tersebut dialokasikan penuh untuk menyuburkan lahan yang ditanami komoditas jagung, kacang Panjang, cabe, terong dan papaya, serta ikan lele.
Selain itu, limbah kolam lele (air dari kolam lele) juga dimanfaatkan untuk menyiram tanaman-tanaman tersebut. Sebagai siklus balik, sisa-sisa panen yang tidak dikonsumsi (batang jagung, daun tua, buah busuk) dikembalikan lagi ke unit pengolahan kompos TPS3R. Kondisi ini menunjukan bahwa pengelolaan integrasi ini telah memiliki prinsip zero waste.
Menurut ketua pengelola ketahanan pangan desa (Ketut Mura), pengelolaan usahatani telah dibuat sesuai dengan zona sesuai dengan karakteristik tanaman, misalnya kelompok tanaman semusim /cepat panen, yaitu Cabai, Terong, Kacang Panjang yang dipisahkan dengan kelompok tanaman panmgan (buah), yaitu papaya.
Tanaman papaya ditumpangsasikan dengan tanaman kacang panjang yang memiliki fungsi mengikat nitrogen dari udara, sehingga membantu menyuburkan tanah di sekitarnya.
Integrasi yang telah dilakukan sedikitnya dapat memberikan Solusi terhadap pengelolaan sampah di desa karena telah diubah menjadi kompos dan pupuk organik serta margot.
Secara mendasar integrasi TPS3R dengan ketahanan pangan telah memberikan manfaat, di antaranya adalah mewujudkan ketahanan pangan mandiri (kedaulatan pangan, yaitu menjadi one-stop food estate mini yang menyediakan karbohidrat (jagung), sayur dan buah (cabai, terong, kacang panjang, pepaya), hingga protein hewani (lele) secara mandiri untuk pekerja TPS3R maupun warga sekitar.
Selain itu, secara ekonomis, integrasi ini dapat menekan biaya produksi, seperti pembelian pupuk dan pakan ikan, dan memberikan nilai ekonomis yang tinmggi. Dari aspek lingkungan, integrasi TPS3R dengan ketahanan pangan meberikan manfaat sebagai Solusi lingkungan yang estetis yaitu mengubah citra TPS3R yang awalnya terkesan kotor dan berbau menjadi kawasan agro-edukasi yang hijau, asri, dan produktif, karena pengelolaan sampah organiknya cepat diserap oleh maggot dan proses kompos yang benar.
*) Gede Sedana Rektor Dwijendra University Founder Yayasan Aditya Sedana Artha