Banner Bawah

Melaka, Jalur Rempah dan Kota Hijau

Admin - atnews

2023-07-08
Bagikan :
Dokumentasi dari - Melaka, Jalur Rempah dan Kota Hijau
Slider 1

Melaka (Atnews) - Pendiri LSM Forum Merah Putih Putu Suasta yang juga Ketua Gerakan Indonesia Bersatu mengagumi keindahan Melaka yang merupakan salah satu negara bagian di Malaysia. 

Malaka juga dikenalnya sebuah selat yang terletak di antara Semenanjung Melayu dan Pulau Sumatera, Indonesia.

Sejak zaman kuno, peran Selat Malaka begitu penting bagi kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara, seperti Sriwijaya, Majapahit, Kerajaan Cola, dan beberapa kerajaan lainnya.

Melaka sudah dikenal dunia sebagai jalur rempah yang utama, selain jalur sutra. Dulu Melaka pernah dikuasai oleh Portugis, Belanda, Jepang dan Inggris. Termasuk pernah menjadi daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya yang berdiri di Pulau Sumatera sejak abad ke-7 ini merupakan simbol kejayaan Nusantara pada masanya.

Wilayah kekuasaan dari kerajaan bercorak Budha ini membentang di sejumlah kawasan Sumatera terutama Palembang, lalu Kalimantan Barat, Semenanjung Malaya, hingga India Timur.

"Melaka kotanya rapi, sungainya bersih. Dulu Melaka dikenal sebagai jalur perdagangan rempah dari Nusantara (Indonesia-red)," kata Putu Suasta di Melaka,  Kamis (6/7).

Hal itu disampaikan di sela - sela mengikuti acara Non-Governmental Organization (NGO) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional selama tiga hari yang bermarkas di Kuala Lumpur. 

Peserta LSM yang hadir adalah lintas negara yakni Kamboja, Laos, Malaysia, Singapore, India, Vietnam, Srilangka, China Taiwan, Philipina.

Pertemuan itu dalam rangka memperkuat Gerakan Masyarakat Sipil di seluruh Asia. Begitu juga pluralisme dan keragaman global dal era digitalisasi. 

Melindungi hak-hak perempuan dan kekerasan terhadap perempuan. Sekaligus mengupayakan kepemimpinan dan meningkatkan kualitas tata kelola Lembaga LSM.

"Lamanya tiga hari, sisanya.m kunjungan dan tukar pikiran dengan LSM Lokal, kampus, pelaku UMKM, profesional, mengunjungi tempat ibadah khususnya temple (pura) bagi umat Hindu, masyarakat umum dan launnya," ujarnya. 

Dirinya pun sempat mengunjungi Universitas Kebangsaan Malaysia,dan diskusi dengan beberapa Profesor dari Jawarahlal Nehru Univesiry INDIA. 

Suasta sudah aktif sejak muda dalam organisasi nirlaba yang memiliki kepentingan sosial dan lingkungan. Hingga kini aktif di LSM Jarrak Bali, Penasihat LSM Jarrak  termasuk Atnews. 

Dikatakan Melaka dinyatakan oleh The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai Bandar Warisan Dunia (World Heritage) pada tahun 2008.

Negeri Melaka dinyatakan sebagai "Melaka Maju" pada 20.10.2010 pada jam 20:10 di Stadion Hang Jebat yang disempurnakan oleh Perdana Menteri Malaysia langsung dari Putra World Trade Centre (PWTC), Kuala Lumpur. 

Melaka juga dinyatakan sebagai Negeri Bandar (Kota) Teknologi Hijau memiliki penduduk yang cukup berpendidikan tinggi, dengan tingkat literasi remaja 99,5% seperti yang dilaporkan oleh Laporan Tujuan Pembangunan Millennium 2015. Bahkan Melaka menjadi tempat teraman untuk tinggal di Malaysia pada 2016.

Tingkat jenayah indeks negeri turun 15,5 persen pada tahun 2017 dengan 3.096 kasus tercatat dibandingkan dengan 3.663 pada tahun 2016. Dalam laporan Sosioekonomi Negeri 2017 yang diterbitkan pada 26 Juli 2018 melaporkan bahwa Melaka adalah negara yang mencatat tingkat pengangguran terendah pada tahun 2017 dengan hanya 1,0 persen.

Diceritakan, beberapa objek wisata yang terkenal dijumpai di Melaka, mulai dari gereja peninggalan Belanda, rumah merah, benteng Malaka, hingga kampung dan peninggalan Hang Tuah, atau ada juga berpesiar di kanal atau sungai ala di Venesia.

Dalam sejarahnya Malaka didirikan pada 1400-an oleh penguasa Singapura, Paramesvara, yang hidup antara 1344 hingga 1424. Saat itu kota kecil ini merupakan pusat perdagangan dan perikanan kosmopolitan yang dihuni oleh berbagai etnis dan bangsa.

Cerita Melaka berdirinya Kesultanan Malaka berawal dari serangan Kerajaan Majapahit di akhir abad ke-14 yang sedang melakukan ekspansi hingga ke Singapura. Serangan Majapahit itu membuat Parameswara yaitu raja terakhir Kerajaan Singapura melarikan diri hingga ke pesisir Selat Melaka.

Dalam Sulalatus Salatin (1979) manuskrip bahasa Melayu, Parameswara akhirnya mendirikan kerajaan baru di tepi Selat Melaka pada 1405 Masehi yang bernama Kerajaan Malaka.

Namun Portugis berhasil menguasai Malaka cukup lama dari 1511 hingga 1641 sebelum direbut Belanda. Kota pelabuhan ini menjadi pusat perdagangan timur dan barat, sebelum pamornya meredup oleh kehadiran Singapura di bawah Inggris.

Bagi negara Portugis, Malaka dinilai sangat penting diantara beberapa kota pelabuhan yang dikuasai di sepanjang jalur perdagangan. Kota di Asia tenggara sangat strategi karena berperan menghubungkan perdagangan antara Afrika dan India dengan Asia Timur seperti Tiongkok dan Jepang.

Melaka memiliki lokasi geografisnya yang strategi antara Samudra Hindia dan Laut Tiongkok Selatan menjadi pusat perdagangan laut antara India dan Tiongkok. 

Para pedagang berlayar antara semenanjung Melayu dan pulau Sumatra melalui Selat Malaka yang sempit.

Maka dari itu, Melaka menjadi salah satu pusat pusat yang menghubungkan banyak jari-jari kolonial Portugis yang menghubungkan wilayah Portugis di Afrika ke India ke Tiongkok dan Jepang.

Barang-barang yang masuk ke Melaka antara lain rempah-rempah, beras, tekstil, tembaga, kain katun, kayu aromatik, kulit binatang, dan opium.

Selain itu, pada abad ke-16, ratusan kapal kargo meninggalkan Melaka menuju Lisbon, membawa barang-barang berharga yang diperoleh dari seluruh kekaisaran seperti emas, porselen Ming, dan sutra.

Malaka sangat kaya berkat perdagangan rempah-rempah seperti lada, jahe, cengkeh, pala, fuli, kayu manis, kunyit, adas manis, zedoary, dan jinten. Rempah-rempah juga ditambahkan ke minuman seperti anggur, dikristalisasi dengan gula dan dimakan sebagai manisan, dibakar sebagai dupa, dan digunakan sebagai obat-obatan.

Lada berasal dari India dan kayu manis dari Sri Lanka, tetapi beberapa lainnya seperti cengkeh, pala, dan fuli berasal dari sumber yang sangat terbatas, khususnya, kepulauan pulau-pulau kecil di Indonesia yang dikenal sebagai kepulauan rempah sekarang ini yaitu Kepulauan Maluku.

"Salah satu yang paling penting dari semua pusat perdagangan untuk perdagangan rempah-rempah global adalah Malaka. Waktu itu Armada Portugis sering kali dengan navigator atau pilot dari Jawa berlayar setiap tahun dari Malaka untuk memuat komoditas dari kepulauan rempah-rempah itu," ungkapnya. 

Dikatakan pula dalam sejarahnya, setiap tahunnya sekitar bulan Maret, empat buah kapal dari Gujarat tiba di Malaka dengan membawa kargo bernilai sekitar 15.000 hingga 30.000 cruzado untuk setiap kapalnya.

Produk utama yang dibawa berupa tekstil Gujarat. Selain itu, terdapat juga air mawar, opium, dan kemenyan. Pedagang asing juga datang dari Koromandel. Menurut Tomé Pires, setiap tahunnya terdapat tiga hingga empat kapal yang berlayar menuju Malaka. Kargo dari setiap kapal itu bernilai 12.000 hingga 15.000 cruzado. Produk yang dibawanya meliputi tiga puluh jenis kain yang berbeda-beda.

Selain itu, terdapat komoditas yang dibawa oleh orang-orang China ke Malaka, di antaranya ialah keramik, porselin, kain sutera, lilin, dan beragam barang berharga lainnya. Masyarakat Jawa berdagang ke Malaka dengan membawa komoditas kayu jati, beras, dan hasil hutan lainnya. Masyarakat Sumatra membawa lilin, lada, gaharu, kamper, dan madu untuk dijual ke Malaka. Begitupun masyarakat Kalimantan yang membawa emas, daging, ikan, beras, sagu, serta produk hutan, termasuk kulit kerang yang dijual ke Malaka. Masyarakat Maluku membawa pala, fuli, dan cengkeh untuk dijual di Malaka.

Pelabuhan Malaka memiliki peranan yang sangat penting bagi pelayaran dan perdagangan di Nusantara. Hal ini merupakan imbas dari lokasinya yang strategis dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh penguasa Malaka yang cenderung memudahkan pedagang. Di pelabuhan ini, bertemu berbagai macam komoditas dunia, baik yang dibawa oleh pedagang asing maupun pedagang Nusantara.

Untuk itu, pihaknya mendukung penuh Pemerintah Indonesia yang ingin kembali membangun jalur rempah tersebut dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya menuju Generasi Emas Indonesia 2045. (GAB/ART/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Panglima TNI Ziarah dan Tabur Bunga di TMP Seroja Timor Leste

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

ADVERTISING JAGIR
Official Youtube Channel

#Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

ADVERTISING JAGIR Official Youtube Channel #Atnews #Jagir #SegerDumunTunas

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng