Bagiarta;  Pariwisata Berkelanjutan Tergantung Perhatian pada Elemen “Panca Maha Bhuta”
Banner Bawah

Bagiarta;  Pariwisata Berkelanjutan Tergantung Perhatian pada Elemen “Panca Maha Bhuta”

Atmadja - atnews

2019-06-28
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bagiarta;  Pariwisata Berkelanjutan Tergantung Perhatian pada Elemen “Panca Maha Bhuta”
Slider 1
Buleleng, 28/6 (Atnews) - Praktisi Pariwisata Nyoman Bagiarta mengharapkan keberlanjutan pariwisata Bali dan Indonesia dengan memperhatikan lima elemen pembentuk alam semesta (Panca Maha Bhuta).
“Lima elemen yakni pertiwi (tanah), apah (air), teja (matahari), bayu (udara) dan akasa (ruang), sangat vital yang menjadi daya tarik wisatawan yang dijadikan obyek wisata serta terbangunnya kebudayaan,” kata Bagiarta yang sudah bergelut di dunia pariwisata lebih dari setengah abad.
Menurutnya, kerusakan lima elemen tersebut akan mempengaruhi budaya dalam lingkungan tersebut.
Untuk itu, pihaknya meminta ketegasan pemerintah dalam mengimplementasikan visi pembangunan yang berpihak pada pelestarian dan menjaga harmonisasi lima elemen tersebut.
Hal itu dapat diimplementasikan dalam bentuk Tri Hita Karana (hubungan manusia dengan Tuhan, sesama dan lingkungan).
Dimana manusianya memegang peranan penting dalam memajukan atau pun berdampak menurunnya kualitas “Panca Maha Bhuta”.
Ia juga sempat sebagai Direktur Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata (BPLP) Nusa Dua yang kini menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua (STPND) Bali menilai promosi pariwisata budaya dikhawatirkan akan mengeksploitasi warisan leluhur orang Bali pada khususnya.
Oleh karena, hal-hal yang bersifat sakral yang patut dijaga dengan penuh kesucian bukan terbaikan.
Dengan demikian akan mempengaruhi kerusakan alam maupun kurangnya harmonisasi yang memicu terjadinya bencana.
Tempat suci (pura) yang sepatutnya tempat pemujaan Tuhan dan membahas mengenai keagungan Tuhan, justru dipakai obyek wisata tanpa kontrol yang ketat.
Sepatutnya, pengembangan pariwisata dikelola dengan serius berdasarkan “sekala” dan “niskala”, bukan hanya pada budaya saja.
“Batasan-batasan itu patut dijaga dalam mempertahankan taksu (roh) yang dikenal sebagai Pulau Dewata,” ujarnya.
Maka dari itu, pihaknya mengelola Puri Lumbung Cotagge Desa Munduk dengan menerapkan Pengelolaan Manajemen yang Bertanggungjawab.
Dengan melibatkan petani sebagai pemilik sahamnya sekaligus ikut mengelola areal pertaniannya.
Untuk itu, penginapan tetap menjadi hijau, indah dan asri, bahkan berulang kali mendapatkan penghargaan dari Tri Hita Karana Awards. 
Turis asing banyak menginap di hotel merasakan lima unsur itu yakni, sinar matahari, udara segar, pegunungan, sawah, air di sungai jernih karena hutan disekelilingnya terpelihara dengan baik. (ART/02)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Gubernur Koster Lantik Suryawan Jadi Direktur Utama Perusda Bali 

Terpopuler

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Menanti Bukti Nyata Wacana Koster, Pengamat: Jangan Hanya 'Omon-Omon' Bela Petani Bali!

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Jangan Lewatkan! Kemnaker Buka Sertifikasi Kompetensi Gratis bagi Lulusan Pemagangan 2025 Batch 3

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Pimpinan DPRD Badung Ucapkan Galungan dan Kuningan

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Rekayasa Sosial untuk Hindu yang Inklusif dan Adaptif

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

Kemenpar Genjot Pasar Malaysia Lewat Wonderful Indonesia Sales Mission 2026

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan

OJK Perkuat Ekosistem Inovasi Teknologi Sektor Keuangan Melalui Regulasi Adaptif dan Kolaborasi Pemangku Kepentingan