Oleh Jro Gde Sudibya
Rabu, 1 September 2021, rainan Buda Kliwon Pagerwesi, sasih Ketiga, Icaka 1943. Timbul pertanyaan reflektif: bagaimana merawat, menjaga Dharma dalam diri, pasca "rangkaian" upakara kaya makna: Saraswati, Banyu Pinaruh, Sabuh Mas dan rainan Pagerwesi itu sendiri, dalam pusaran waktu 210 hari ke depan, mulai dari wuku: Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tolu, terus menuju wuku Klawu, Dukut, Watugunung, dalam putaran 30 wuku.
Dalam suasana perayaan rainan Pagerwesi, di tengah-tengah "kemeranan jagat" akibat pandemi, menjadi menarik disimak prasasti Sukawana, prasasti tertua di Bali, Icaka 804, yang terjemahan bebasnya dalam konteks ke kinian: kedatangan kita ke dunia ini adalah keutamamaan dan kemulyaan, laksanakan keutamaan kemulyaan ini dalam ke seharian kehidupan.
Berangkat dari kearifan kehidupan ini, maka Dharma dalam diri akan terjaga dan kemudian terpancarkan dalam keseluruhan pikiran, kata dan perbuatan, penunggalan bayu, sabda, idep.
Kearifan tetua Bali mengajarkan, penunggalan bayu, sabda, idep, akan mampu menyelesaikan akumulasi dinamika persoalan dengan pendekatan simbolik matematika Akar. Jika akumulasi persoalaan yang dihadapi sebut saja 100, tindakan Tri Kaya Parisuda, akan memberikan solusi, sehingga sisa persoalan tinggal 10, karena akar dari 100 adalah 10. Jadi, ada 90 persoalan akan terselesaikan, melalui konsistensi: berpikir, berkata dan berbuat baik.
Sisa persoalan yang 10 ini, memerlukan Viveka, kecerdasan pembeda dalam melakukan penilaian dan memberikan respons terhadap kedualistikan kehidupan, Rwa- Bhineda.
Kecerdasan dan kearifan kita dalam mencari solusi terhadap dinamika persoalan ini, menjadi catatan sejarah, warisan dari kualitas kepribadian insan-insan manusia pelakunya.
Dinamika persoalan yang datang silih berganti, kalau disimbolikkan dengan putaran kincir angin yang tidak pernah berhenti, berputar tanpa henti, dan kemudian melahirkan energi.
Dengan demikian Dharma dalam diri terjaga, kuat dan "pageh" dalam menghadapi "deru campur debunya" dasa muka kepentingan kehidupan, penuh dengan jebakan, dan kalau kita tidak waspda mudah "tergelincir".
Dengan penegakan Dharma dalam diri dan kemudian terpancar dalam laku konsisten: pikiran, perbuatan dan perkataan, Tri Kaya Parisudha, sehingga kita mampu menunaikan diri sebagai pengikut Sanatana Dharma, kebenaran yang abadi.
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ), Denpasar.