Oleh I Wayan Artaya
Monumen Perjuangan Bangsal (MPB) telah menjadi kenangan dan warisan sejarah Puncak pertemuan historis yang terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945.
Peristiwa kumpul-kumpul di MPB kala itu, telah dimulai sejak tahun 1942, tatkala penjajah Jepang mulai menginjakkan kakinya di Bali. Kesombongan dan kekejaman Jepang terhadap masyarakat Bali, telah membangkitkan nafas kebangsaan di kalangan penduduk yang terpelajar. Made Wija Kusuma (Pak Joko), Bagus Made Wena, dan Subroto Aryu Mataram, mengambil inisiatif untuk mempersatukan kaum muda pejuang di Bali.
Puncak pertemuan historis di rumah bangsal (sekarang disebut Monumen Perjuangan Bangsal atau MPB) terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945.
Sesuai penjelasan Ketua Stispol Wira Bhakti, dan Ketua Umum DHD Angkatan 45 Prov. Bali, Prof Wayan Windia waktu sehari sebelum hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rencananya, pada saat itu mulai akan dilakukan aksi. Tetapi persis pada saat itu, tentara Peta di Bali dilucuti Jepang.
Mungkin Jepang sudah paham bahwa ia kalah perang, setelah kota Hirosima dan Nagasaki, rata dengan tanah, setelah di bom oleh Amerika Serikat (sekutu). Maka itu, Jepang tidak ingin, eksistensi tentara Peta bisa menjadi bumerang bagi dirinya. Ciri-cirinya sudah mulai tercium. Misalnya, Kapten Sugianyar berani memukul tentara Jepang yang angkuh.
Menurut Ketua DPD LVRI Bali, I Gusti Bagus Saputera, bahwa mulusnya sinergi antara pejuang sipil dan militer di Bali, disebabkan karena hampir semua komponen pejuang di Bali pernah bertemu di Rumah Bangsal. Termasuk Pahlawan Nasional I Gusti Ngurah Rai (Pak Rai), cukup sering kumpul-kumpul di Bangsal. Demikianlah, tatkala pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai tiba di Bali, dan mengumpulkan para pejuang se Bali di Munduk Malang (Tabanan), maka pertemuan itu sangat mulus. Tidak seperti di Jawa, sering terjadi friksi antara pejuang sipil dan pejuang militer.
Demikianlah, pada tanggal 16 Agustus 2021, tepat 76 tahun yang lalu, pertemuan heroik para pejuang di Bali diselenggarakan di Monumen Perjuangan Bangsal (MPB). Peristiwa bersejarah itu, selalu secara rutin dikenang oleh anak-anak bangsa di kawasan MPB. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena di sana ditanamkan nilai-nilai substansial, yang bermanfaat bagi generasi ke generasi.
Sebelum peristiwa itu, patut diketahui pula sesuai penuturan Ketua Umum MPB yang juga Penglingsir Puri Puncak Bangsal dr. Bagus Ngurah Putu Arhana, SpA (K).
Diceritakan pernah dilaksanakan doa bersama oleh para orang suci dari berbagai agama dan keyakinan untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberikan kemenangan kepada para pejuang bangsa dalam melawan para penjajah.
Doa bersama itu dilakukan di ruang suci MPB sebagai ungkapan syukur dan bhakti kepada Tuhan. Oleh karena Tuhan sebagai pengusaha segalanya tentunya akan melindungi kaum yang lemah dan benar.
Keyakinan itu terus ditanamkan kepada generasi pejuang MPB dalam mengisi kemerdekaan RI yang memasuki usia 76 tahun, masih ada penderitaan dan kemiskinan yang dialami oleh rakyat itu sendiri.
Apalagi dengan adanya pandemi Covid-19 telah mengubah berbagai sendi kehidupan masyarakat dan banyak mendadak miskin.
Maka pihak Manajemen MPB dalam rangka, "Mengenang Puncak Pertemuan Rahasia Perjuangan Bawah Tanah Perang Kemerdekaan RI di Bali di Monumen Perjuangan Bangsal (MPB)
16 Agustus 2021 dilaksanakan secara sederhana, mengingat Pagebluk/ Wabah Covid 19 dalam suasana yang terus mengalami peningkatan dan PPKM terus diperpanjang.
Doa menjadi bagian penting dalam perjuangan sejarah Kemerdekaan Indonesia di Bali, karena diyakini memiliki kekuatan di luar kemampuan manusia.
Bahkan dalam penanganan pandemi Covid -19 telah dilaksanakan doa bersama rakyat Indonesia yang dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi.
Selain itu, Gubernur Bali, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan Majelis Desa Adat (MDA) sudah mengimbau melakukan persembahyangan dengan sesajen khusus agar pandemi segera berakhir.
Semangat itu pun telah diterapkan dalam Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) II Atnews rangkaian peringatan 75 Tahun Perjuangan Gerakan Bawah Tanah MPB dengan menggelar doa bersama yang dihadiri para sulinggih dan pendeta lintas agama di Badung, Minggu, 18 Oktober 2020.
Kegiatan HUT II Atnews mengusung tema “Sejatinya Kesederhanaan adalah Sebuah Kemuliaan dan Kekayaan yang Terbesar”, tagline "Seger Dumun Tunas!" dengan mengutip puisi WS Wendra "Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang, maka Berdoalah untuk kebaikan".
Doa yang dipimpin Ketua Dharma Adhyaksa Ida Pedanda Nabe Gede Bang Buruan Manuaba bersama Ida Rsi Agung Wayabya Soprabu Sogatha Karang dan Ida Rsi Bujangga Waisnawa.
Wakil Sekretaris FKUB H. Roichan, Perwakilan MATAKIN Bali Ws Nyoman Darsana, Ketua PGLII Bali Pdt. Timotius Karnadi M.Th dan Ketua Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan Keuskupan Denpasar Romo Paskalis Nyoman Widastra SVD.
Doa tersebut ditujukan kepada para roh-roh dokter, perawat, tenaga medis dan relawan yang telah gugur dalam menangani pandemi Covid-19.
Sekaligus memberikan dukungan penuh pemerintah dan pejuang kesehatan dalam mengatasi pandemi Covid-19.
Acara berlangsung penuh kekhusyukan dan hening di Taman Siva Loka, Kawasan Monumen Perjuangan Bangsal, Jl. Raya Padang Luwih No.2 Gaji Dalung, Kuta Utara, Badung.
Dalam mengimplentasikan nilai - nilai tersebut, MPB juga sudah berhasil mendirikan Patung Rama dan Krishna yang merupakan tokoh pawayangan dan Itihasa Ramayana dan Mahabharata.
Batu pertama pembangunan patung Rama dan Krishna yang diletakkan oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) ketika dianugerahi Penghargaan dan Lencana 3/4 Abad Monumen Perjuangan Bangsal di Pura Puncak, Kawasan MPB, Selasa (18/5).
Patung Rama dan Krishna dibangun masing - masing setinggi lima meter, serta kehadiran Bamsoet pada waktu tersebut meresmikan simbol rumah ibadah enam agama yang menggambarkan kemajemukan dan keharmonisan bangsa Indonesia.
Mahabharata dan Ramayana isinya pun mengenai berbagai hal, seperti filosofi kehidupan, nasehat, dan peristiwa sehari-hari. Kedua kitab kuno itu banyak menyinggung hal yang bersifat universal dan masih memiliki relevansi dengan masa sekarang, sehingga digemari di seluruh dunia.
Dijelaskan, kedua tokoh Rama dan Krishna yang merupakan Avatara Visnu dapat menjadi teladan para pemimpin bangsa dalam mengisi kemerdekaan menuju 100 tahun Indonesia merdeka.
Dalam ajaran kepemimpinan kekawin Ramayana, Raja Ayodya Sri Rama putra pertama dari Prabu Dasaratha di personifikasikan sebagai Dharma.
Rama yang di gambarkan sebagai sosok cerdas, cekatan, dan penuh gairah pengabdian merupakan sosok yang ideal dalam melaksanakan Dharma dengan segala kebjaksanaannya.
Pemimpin dalam kepemimpinannya harus dapat mengusahakan kebahagiaan seluruh anggotanya atau rakyatnya dengan tetap mengutamakan rasa bhaktinya dan rasa persaudaraan bersatu mencapai tujuan.
Seorang pemimpin memiliki kewajiban untuk menjalankan tugasnya menurut hukum, norma, dan tradisi yang baik. dan tidak dibenarkan memiliki sifat-sifat semaunya saja, otoriter, dan materialistis.
Agar prilaku seperti itu tidak di miliki oleh seorang pemimpin, maka sepatutnya pemimpin memiliki delapan karakter mulia yang disebut Astabrata (Manawa Dharmasastra, IX; Kekawin Ramayana, XXIV : 53-60,80).
Pemimpin yang ideal itu haruslah orang yang “gunaman” yaitu berkarakter mulia yakni memiliki wawasan yang luas , memahami ilmu niti (politik, kepemimpinan, dan ilmu ketatanegaraan), berbakti kepada tuhan, leluhur, dislipin dan mampu mengendalikan diri, dermawan dan bekerja penuh iklas, pemberani dan berlaku adil, memiliki sifat penuh kasih serta setia kepada janji.
Begitu juga, Krishna yang merupakan Raja Dwarka terdiri dari pulau-pulau seperti Antar dwipa, Pulau Dwarka dan pulau utama yaitu Dwarka.
Dalam kisah Mahabharata, Dwarka disebut sebagai ibukota Yadawa dan termasuk di dalam juridiksinya yaitu negara-negara tetangga seperti Vrishni, Andhaka dan Bhoja.
Pemimpin penting Yadava selain Raja Krisna, ada pula Balarama, Kritavarma, Satyaki, Akrura, Kritavarma, Uddhava dan Ugrasena.
Dalam kesastraan Jawa Kuna, cerita kelahiran dan masa remaja Krishna dimuat dalam kakawin Kangsa (Naskah Kirtya No. 844).
Bahkan keberadaan Bhagavadgita semakin populer merupakan wejangan Krishna kepada Arjuna dari Bhismaparwa, Mahabharata.
Bhagavadgita banyak dikagumi tokoh dunia, termasuk The Founding Father Sukarno, karena sebagai kitab yang mengandung makna filosofis tentang kehidupan yang luar biasa.
Bahkan Bhagavadgita sebagai kitab suci yang kelima bagi umat Hindu setelah Rigveda, Samaveda, Yajurveda, dan Atharmaveda.
Penggalan dari Mahabrata adalah Bhagavadgita dengan nilai-nilai terkenal sebagai pelita kehidupan dalam dialog Krishna dan Arjuna.
Salah satu sloka yang dapat menjadi renungan, Bhagavad-gita, 2.47
karmany evādhikāras te, mā phalesu kadācana mā karma-phala-hetur bhūr, mā te sango "stv akarmani
(Engkau berhak melakukan tugas dan kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil dari kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu).
Sloka itu pun yang merupakan pesan Krishna kepada Arjuna dalam Perang Kurukshetra diucapkan oleh Ketua DPR Puan Maharani , ketika menyampaikan pidato perdananya sebagai Ketua DPR RI periode 2019-2024, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa, 1 Oktober 2019.
Pesan serupa juga pernah disampaikan Megawati, saat membuka Kongres III PDI Perjuangan di Bali, tahun 2010 silam. Saat itu Megawati menjelaskan bahwa kalimat tersebut merupakan tulisan Bung Karno dikutip dari Bhagavadgita.
Kutipan-kutipan sloka Bhagavadgita telah dimasukkan sebagai bahan pidato yang dibacakan di podium-podium sejak Mahatma Gandi, Nehru, Soekarno, Megawati dan banyak lagi pemimpin dunia.
Kegaguman Presiden Pertama Sukarno terhadap Bhagavad Gita pun disampikan pada Kongres Kebatinan Indonesia di Gedung Pemuda, Jakarta tanggal 17 Juni 1958.
Betapa seorang pimpinan sepatutnya-seharusnya menjadi panutan dalam melaksanakan tugas dengan ketulusan.
Seorang Albert Einstein-pun berujar:
"Ketika saya membaca Bhagavadgita lalu merenungkan tentang bagaimana Tuhan menciptakan alam semesta, segala hal lain terasa begitu tidak bermakna".
Para tokoh dunia lainnya yang membaca Bhagavad-gita di antaranya Albert Einstein, J. Robert Oppenheimer, Mahatma Gandhi, Henry David Thoreau, Albert Schweitzer, Hermann Hesse, Swami Vivekananda, serta masih banyak tokoh besar lainnya.
Tidak kalah menarik, Presiden Jokowi juga Krishna sebagai superhero karena sakti, kuat, memiliki senjata ampuh Cakra serta bijaksana.
Presiden Jokowi pun pernah dihadiahi Wayang Krishna oleh Ki Manteb Soedharsono yang ditunjuk sebagai dalang dalam pertunjukan wayang kulit di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (2/8/2019).
Pergelaran wayang kulit ini merupakan serangkaian acara menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia. Adapun gelaran wayang kulit ini mengambil Lakon Kresno Jumeneng Ratu atau Kresna Menjadi Raja.
MPB dapat ikut berperan menjaga kebhinekaan Indonesia yang unik dan penuh keragaman, bahwa Indonesia adalah negara besar, 17.000 Pulau, 714 suku, 1.100 lebih dialek bahasa lokal, dan 516 kabupaten/kota, dengan penduduk hampir 260 juta, untuk terbang dari Aceh sampai Wamena (Papua) dibutuhkan waktu 9 jam 15 menit.
Itu kalau diukur dari London di Inggris, itu sampai ke Istanbul di Turki. Melewati berapa negara? Mungkin 5 – 6 negara.
Secara keseluruhan, posisi geografis Indonesia dipengaruhi oleh letak astronomis, letak geografis, letak geologis, letak maritim, letak ekonomis, dan letak kultur historis.
Berdasarkan letak geografisnya, Indonesia terletak di antara dua samudra yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta dua benua yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Posisi tersebut berpengaruh pada berbagai hal.
Indonesia berada pada posisi silang lalu lintas perdagangan dan pelayaran dunia. Hal ini dilihat dari posisi Indonesia yang diapit oleh dua benua dan dua samudra yang menjadi jalur perdagangan internasional.
Indonesia mengalami iklim muson yang dipengaruhi daratan Benua Asia dan Benua Australia yang dipisahkan oleh khatulistiwa.
Sedangkan Indonesia mendapat pengaruh berbagai kebudayaan dan peradaban dari negara luar. Adanya lalu lintas jalur laut mengakibatkan banyak kapal asing yang berlabuh ke Indonesia. Hal ini menyebabkan terjadinya proses percampuran suku bangsa dan budaya.
Berdasarkan batas negara, posisi Indonesia berbatasan dengan berbagai negara, laut, dan samudra. Sebelah utara berbatasan dengan Malaysia, Singapura, Filipina, Selat Malaka, Selat Singapura, Laut Cina Selatan, Laut Sulawesi, dan Samudra Pasifik di sebelah utara.
Sebelah selatan berbatasan dengan negara Australia, Timor Leste, Samudra Hindia, Laut Timor, dan Laut Arafuru. Sebelah barat berbatasan dengan Samudra Hindia. Sebelah timur berbatasan dengan Papua Nugini dan Samudra Pasifik.
*) Penulis adalah Wartawan Atnews