Banner Bawah

Hindu Bhineka Tunggal Ika untuk Mewujudkan Perdamaian

Artaya - atnews

2021-08-11
Bagikan :
Dokumentasi dari - Hindu Bhineka Tunggal Ika untuk Mewujudkan Perdamaian
Slider 1

Denpasar (Atnews) - Alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Cornell University Putu Suasta menilai Hindu penuh keberagamaan yang berpedoman pustaka suci Veda bersifat universal.
Dengan mengendepankan kebudayaan dan kearifan lokal yang berkembang di tengah masyarakat untuk mewujudkan perdamaian secara jasmani dan rohani.
Penganut Hindu telah tersebar ke seluruh pelosok dunia dengan beragam corak dan karakter masing - masing dalam memajukan peradaban umat manusia. 
Hindu pun berkembang di berbagai daerah di Nusantara (Indonesia),  justru lebih banyak penganut di luar Pulau Bali.
"Setiap daerah punya keunikan masing-masing dalam mewujudkan rasa bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa)," kata Suasta yang juga Anggota Hindu Center dan Forum Penyadaran Hindu di Denpasar, Rabu (11/8).
Menurutnya, Hindu itu beragam, Bhineka Tunggal Ika yang patut dijaga sebagai kekayaan dan kebangaan Indonesia yang patut dilestarikan oleh generasi muda. 
Apalagi Bhineka Tunggal Ika merupakan moto atau semboyan bangsa Indonesia yang tertulis pada lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno yang artinya adalah “Berbeda-beda tetapi tetap satu".
Komunitas-komunitas Hindu yang relatif besar bertempat tinggal di Bali, Kalimantan, Sulawesi, Lombok,  Jawa, dan Sumatra (ada kantong-kantong desa-desa Hindu yang bisa ditemukan di Jawa Timur).
Agama Hindu menjadi bercampur dengan kepercayaan-kepercayaan animisme yang sudah ada di nusantara dan karena itu kita masih tetap bisa menemukan keanekaragaman kepercayaan Hindu sekarang. 
Bahkan, di pulau kecil seperti Bali pun, ada tingkat perbedaan yang menarik antar wilayah di Bali pada masing - masing desa adat dan banjar. 
Perjalanan Hindu di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dari sebelum masehi,  bahkan sempat Hindu mengalami kejayaan pada abad ke-4, Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, Tarumanagara di Jawa Barat, dan Kalingga di Jawa Tengah, termasuk di antara Kerajaan Hindu awal yang didirikan di wilayah Nusantara. 
Beberapa kerajaan Hindu kuno Nusantara yang menonjol adalah Mataram, yang terkenal karena membangun Candi Prambanan yang megah, diikuti oleh Kerajaan Kediri dan Singhasari. 
Sejak itu Agama Hindu bersama dengan Buddhisme menyebar di seluruh nusantara dan mencapai puncak pengaruhnya pada abad ke-14. Kerajaan yang terakhir dan terbesar di antara kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha Jawa, Majapahit, menyebarkan pengaruhnya di seluruh kepulauan Nusantara.
Di antara kerajaan-kerajaan Hindu Jawa, yang paling dianggap penting adalah Majapahit merupakan kerajaan terbesar dan kerajaan Hindu terakhir yang signifikan dalam sejarah Indonesia. 
Majapahit berpusat di Jawa Timur, memerintah sebagian besar dari apa yang sekarang merupakan Indonesia modern dari sana. Sisa-sisa kerajaan Majapahit bergeser ke Bali pada abad ke-16 setelah tergeser oleh kerajaan Islam di wilayah pesisir Jawa.
Hindu di Jawa telah memiliki dampak yang signifikan dan meninggalkan jejak yang jelas dalam seni dan budaya suku Jawa. 
Pertunjukan wayang serta tarian Wayang Wong dan tarian klasik Jawa lainnya yang berasal dari itihasa Hindu Ramayana dan Mahabharata. 
Meskipun mayoritas orang Jawa sekarang mengidentifikasikan diri sebagai Muslim, bentuk seni Hindu Jawa tersebut masih bertahan. 
Hindu Jawa telah bertahan dalam berbagai tingkat dan bentuk di Jawa; dalam beberapa tahun terakhir, konversi ke agama Hindu telah meningkat, terutama di daerah yang mengelilingi sebuah situs besar agama Hindu Jawa, seperti wilayah Klaten di dekat Candi Prambanan. Kelompok etnis suku adat tertentu, seperti suku Tengger dan suku Osing, juga terkait dengan tradisi keagamaan Hindu Jawa.
Dikatakan juga, Agama Hindu sebagai agama penerus Sanatana Dharma, memiliki nilai-nilai luhur (values) antara lain Ahimsa (tanpa kekerasan/tidak melakukan penyiksaan), Vasudeva Kutumbhakam (semua ciptaan-Nya bersaudara), Tat Twam Asi (Engkau adalah Aku), Tri Kaya Parisudha (Berpikir, Berkata, dan Berbuat yang baik dan benar), Tri Hita Karana (Keselarasan antara Tuhan, Sesama manusia, dan Lingkungan), Satyam Siwam Sundaram (Kebenaran, Kebajikan, dan Keharmonisan), sarwa prani hitangkarah (semoga semua makhluk berbahagia), loka samasta sukhino bhawantu (semoga yang disini dan di seluruh alam semesta dalam keadaan bahagia), Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (berbeda-beda tetapi tetap satu), dan sebagainya.
"Hindu juga bukan sekterarian, apabila sekterarian tentu menjadi sebuah masalah," ujarnya.
Menurutnya, ajaran Hindu mampu beradaptasi dengan daerah maupun dengan perkembangan zaman (desa, kala dan patra). 
Untuk itu, ajaran Hindu mampu bertahan lebih dari 5000 tahun dan diterima di seluruh dunia. 
Begitu juga Hindu mengajarkan spiritual bukan sebatas agama, apalagi Hindu di Nusantara penuh warna termasuk di Palau Dewata. 
Demikian juga disampaikan Teolog, Filosof dan Ahli Paleontologi Perancis Dr. Teilhard de Chardin  yang membangun visi terpadu sience dan mistisisme dengan pemikirannya; dari evolusi semangat dan pemikiran.
Berpendapat bahwa agama bukan hanya satu, tetapi ada ratusan. 
Sedangkan spiritualitas adalah satu diperuntukkan bagi mereka yang sudah bangun atau sadar ingin mengetahui jati diri. 
Spiritualitas adalah untuk mereka yang sudah dapat  memperhatikan suara hati mereka, memberi kedamaian batin. Dengan mengajarkan bagaimana harus belajar dari kesalahan.
Untuk itu,  Suasta menegaskan spiritualitas melampaui segala hal dan membawa lebih dekat dengan kebenaran, kedamaian dan kebahagiaan (shanti dan jagadhita). 
Selain itu, Hindu betul-betul memberikan penghormatan kepada alam, termasuk manusia dan kebudayaanya. 
Hal itu sebagai bentuk implementasi Tri Hita Karana yang sudah berlangsung secara turun - temurun. 
Upaya itu dalam menjaga keharmonisan hubungan baik antara manusia kepada alam, manusia terhadap sesama dan manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. (ART/GAB/001)

Baca Artikel Menarik Lainnya : Siswa Harus Berani Memulai Menulis Buku

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Ayo Jaga Bali agar Tidak “Leteh” oleh Sampah: Penanganan Sampah Berkelanjutan di Banjar/Desa

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

Dampingi Presiden Kelima RI, Gubernur Koster Kawal Lompatan HKI Bali, Dorong Perlindungan Karya dan Martabat Budaya Pulau Dewata

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius