Oleh Jro Gde Sudibya
Hari ini Rabu, 11 Agustus 2021, rainan Buda Wage Klawu, rainan pemujaan simbolik Tuhan sebagai Devi: Rambut Sadhana, Laksmi Devi dan simbol-simbol lainnya, yang maknanya: Tuhan sebagai sumber pemberi rezeki, kekayaan atau lebih tepatnya guna kaya, bagi insan-insan manusia dalam menjalankan guna karmanya.
Timbul pertanyaan, bagaimana memaknai rainan Buda Wage Klawu hari ini, di tengah- tengah industri pariwisata mati suri selama 17 bulan, dengan dampak sosial ekonomi yang dibawakannya?.
Dalam tradisi keagamaan yang mengajarkan kita untuk tulus mebhakti, nuking tuwas, rainan Buda Wage Klawu hari ini, di tengah-tengah keterbatasan yang ada, bisa dijadikan momentum untuk mempertahan daya tahan ekonomi, pada situasi masa depan yang belum bisa dipetakan.
Pengembangan daya tahan ekonomi, dengan merujuk karya sastra Hindu, menyebut beberapa di antaranya, pertama, nasehat Rsi Narada (simbolik Tuhan Wisnu), dalam Itihasa Maha Baratha, setelah gugurnya Abimanyu, dan para kesatria Panca Pandawa nyaris putus-asa, dan berkehendak menghentikan perang di Padang Kuru Setra: suka dan duka datang silih berganti dan ada batasnya, mesti diwaspadai, jangankan suka dan duka, kelahiran dan kematianpun akan datang. Pesan moral untuk kita tabah dan teguh menghadapi badai gelombang kehidupan. Kedua, tetua kita mengajarkan tentang kebersahajaan kehidupan, keterikatan rendah terhadap dunia serba materi, tetapi tidak pernah berhenti untuk merawat dan mengolah alam. Keteladanan tentang sikap hidup sederhana, tanpa pernah berhenti berkarya, karena karya kehidupan adalah pemaknaan kepada waktu dan kehidupan itu sendiri. Ketiga, Doktrin Karma akan terus bekerja, sebagaimana ungkapan dalam tradisi keagamaan masyarakat petani: "Jagung kita tanam, jagung pula yang akan kita petik". Pesan moral untuk kita tidak pernah berhenti belajar dan berusaha, adaptif terhadap perubahan, cerdas dalam mengelolanya, sehingga jauh dari sikap merasa jadi korban keadaan (victimism), menyalahkan orang lain, apalagi munculnya benih rasa putus-asa.
Keheningan dan kebeningan nurani dalam puja bhakti rainan Buda Wage Klawu hari ini, diharapkan memberikan kita spirit baru untuk menjawab tantangan perubahan.
*) Jro Gde Sudibya, penulis buku: Hindu Menjawab Dinamika Zaman, Agama Hindu & Budaya Bali ( Bunga Rampai Pemikiran ).