Oleh I Gde Sudibya
Sekadar catatan untuk berefleksi, jumlah kematian untuk Bali, 1 Agustus 33 orang, jumlah yang sama dengan angka kematian beberapa hari lalu, setelah kasus positif mencapai 1.111 kasus.
Angka 33, bermakna teologis dan filosofis yang sangat tinggi bagi sebagian besar masyarakat di sini.
"Semoga pikiran baik, datang dari segala penjuru", dan Bali diberkati perlindungan Nya.
Bisa ditafsirkan sebagai matinya akal sehat dan lumpuhnya spiritualitas pada sebagian masyarakat (yang tidak mewaspadainya).
Pada tataran teologis, di zaman Kali, Kali Yuga, dimana kesadaran murni manusia tinggal 30 persen (kesadaran murni yang berorientasi ke atas: Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa), sedangkan sisanya 70 persen dikuasai oleh Rajas dan Tamas yang dapat memerosotkan kualitas manusia. Dalam pemahaman sastra ini, "matinya akal sehat dan lumpuhnya spritualitas", dari pemikiran reflektif di atas, menemukan relevansinya.
Dalam pandangan antropologi, terlebih-lebih antropologi agama, makna simbol dan simbol makna, semestinya dipergunakan oleh masyarakat yang menggunakan simbol ydm. dalam merajut makna, untuk segera berbenah diri dan koreksi diri. Koreksi sosial akan menjadi lebih efektif, jika diinisiatifi oleh para pemimpin yang semestinya menjadi panutan, role model, dalam masyarakat dengan tradisi paternalistik yang orientasinya vertikal.
Berangkat dari nilai yang ada dalam ungkapan bahasa Bali: "pekebeh mraga guru", krisis kehidupan merupakan wahana untuk berbenah diri, simbol "keras" angka kematian (akibat pandemi), dengan jumlah 33 orang, kemarin 1 Agustus 2021, yang merupakan "lanjutan" kasus yang sama beberapa hari sebelumnya, semestinya membuat masyarakat, metaki-taki (bahasa Bali), berbenah diri, untuk mempersiapkan diri menatap dan menciptakan masa depan yang paragdimanya mungkin berbeda dengan masa lalu.
*) Jro Gde Sudibya, Ketua FPD ( Forum Penyadaran Dharma ), Denpasar, Bali.