Oleh : I Gde Sudibya
Hari ini Rabu, 26 Mei 2021, nemu Buda Krulut, sasih Sada Icaka 1943, rainan Purnama Sadha, bertepatan dengan hari raya Waisak bagi umat Buddha. Bulan penuh sasih Sadha ( bulan ke 12 dalam kalender Bali ), berbarengan dengan Gerhana Bulan Total.
Melakukan puja bhakti di rainan purnana Sadha hari ini, di tengah masa pandemi Covid-19 yang sedang mewabah, kalau tidak diwaspadai oleh krama Bali, Bali bisa memasuki gelombang kedua pandemi, yang bisa lebih dashyat dari gelombang pertama.
Tidak saja dalam: tingginya angka penularan, tetapi juga risikonya akibat menyebarnya sejumlah varian baru virus berbarengan dengan kombinasi dari kejenuhan sebagian masyarakat menjalankan protokol kesehatan dan tekanan ekonomi kehidupan, yang memaksa sebagian masyarakat harus " berjibaku " dalam menghadapi risiko pandemi untuk bisa membuat " dapurnya terus berasap ". Empat belas bulan masa masa pandemi, telah membuat ekonomi Bali begitu terpuruk, secara statistik tahun lalu tumbuh negatif pada pusaran 9 persen, triwulan pertama tahun ini juga tumbuh negatif sekitar 9 persen. Kontraksi ekonomi terbesar dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di 33 provinsi lainnya, termasuk dengan pertumbuhan ekonomi di dua provinsi lainnya: DKI Jaya dan DI Jogyakarta yang memiliki memiliki kemiripan katateristik : perekomian yang sangat tergantung pada industri jasa.
Penurunan tajam pertumbuhan ekonomi yang nyaris datang secara tiba-tiba akibat wabah virus yang ukurannya beberapa mikron, dan tidak kasat mata, dan tidak pernah dibayangkan sebelumnya, dan masyarakat tidak punya pengalaman dalam menangani dan mengelolanya, kalau tidak diwaspadai bisa melahirkan krisis multi dimensi buat masyarakatnya.
Krisis multi dimensi yang dimaksud berasal dari usaha wisata yang menciut tajam, dan dampaknya ke ekonomi Bali secara umum, pengangguran yang merambah luas, ketidak-pastian kapan ekonomi akan pulih, aspirasi, harapan masa lalu yang tidak akan menjadi kenyataan, yang ke semuanya ini, jika tidak diwaspadai bisa menjadi pemicu stres berkepanjangan, dengan seluruh konsekuensi yang menyertainya. Akibatnya modal sosial, social capital yang berupa rasa saling percaya sesama anggota masyarakat, social trust, bisa berubah menjadi ketidak saling percayaan, social distrust, sesama warga dan juga kepada lembaga pemegang amanah publik.
Kalau boleh ditamsilkan, realitas ini dan kecendurungannya, merupakan penggambaran dari: potensi " kabut gelap " menyelimuti ruang akasa Pulau Dewata.
Dalam suasana dan nuansa puja bhakti rainan Purnama Sadha hari ini, diupayakan tetap menjaga ketenangan pikiran dan suasana hati dalam ngewangun yasa kerthi kehidupan, ada beberapa "serpihan" sastra kehidupan yang rasanya bisa diselipkan dalam puja bhakti kita di rainan purnama hari ini.
Pertama, pengakuan akan "hukum besi" waktu kehidupan, the law of kalpa, bahwa Rwa Bhineda kehidupan, suka-duka kehidupan adalan bagian melekat, inhaerent, dari kehidupan di dunia maya ini. Diperlukan viveka, kecerdasan dalam melakukan pilihan-pilihan dalam " berselancar " di tengah-tengah " gelombang " lautan kedualistikan kehidupan yang dimaksud
Kedua, kemampuan kita untuk terus menerus mengasah kepribadian, memperkuatnya, menjadi pribadi mantap, Stitha Prajna, dengan ciri ke seharian prilaku: semakin mampu mengendalikan diri (self control), semakin mandiri melakoni kehidupan (self help), dan semakin bersahaja dalam menit-menit mengisi kehidupan (self sufficiency).
Ketiga, ungkapan dari tetua Bali yang terkenal tangguh dalam membangun ethos kerja pertanian, di masa lalu , " pekebeh mraga guru ". Tafsirnya dalam konteks ke kinian: tekanan, tantangan dan bahkan krisis kehidupan adalah " guru " kehidupan dalam artian sebenarnya untuk kita bisa bangkit. Kebangkitan diri, self awakening, jagra, dalam sastra Bali yang dijiwai agama Hindu, baca Sanatana Dharma, untuk merubah Sad Ripu menjadi Sad Guna bahkan menjadi Sad Dharsana ( 6 filsafat rohani kehidupan ) yang mampu "menghancurkan ": Sapta Timira ( 7 kegelapan di dunia), Dasa Muka., 10 dasa muka keangkuhan kekuasaan, yang membuat insan-insan manusia menjadi budak keinginan tanpa batas, yang " memenjarakan " jiwa. Jiwa yang semestinya terbebas dan dibebaskan dari kekuatan keterikatan dunia maya.
*) I Gde Sudibya, Ketua Pusat Kajian Hindu ( The Hindu Centre ) dan Ketua FPD.( Forum Penyadaran Dharma )