Banner Bawah

Bali Belum Fokus Budidaya Bambu, Tanaman Multiguna Hidup di Lingkungan Kritis 

Artaya - atnews

2021-04-29
Bagikan :
Dokumentasi dari - Bali Belum Fokus Budidaya Bambu, Tanaman Multiguna Hidup di Lingkungan Kritis 
Slider 1

Gianyar (Atnews) - Pakar Bambu Dr Pande Ketut Diah Kencana yang juga Dosen Universitas Udayana Bali  meraih penghargaan Kehati Award 2020 kategori akademisi.
Ia merupakan peneliti perempuan bambu Tabah, salah satu jenis bambu langka di Bali mengharapkan pengembangan industri bambu mampu sejahterakan petani maupun misi penyelamatan lingkungan kritis. .
Diah tertarik meneliti bambu sejak kuliah S2 tahun 1990 di IPB dengan pembimbing Prof. Elizabeth Anita Widjaja, peneliti senior di Pusat Penelitian Biologi LIPI, satu-satunya ahli taksonomi bambu di Indonesia. Ada sekitar 160 jenis bambu atau 10 persen di Indonesia dari total 1.600 jenis bambu di seluruh dunia.
Selain itu, pihaknya, penerima penghargaan penyelamat plasma nutfah pada 2018 dari Kementerian Pertanian ini bekerja dari hulu ke hilir dengan telah menghasilkan 20 produk turunan bambu Tabah mulai dari batang, daun, dan rebungnya, serta memberdayakan kelompok pengolah bambu melalui koperasi.
"Bambu merupakan tanaman multiguna. Semua bagian bambu digunakan mulai batang, daun, akar, dan daun, termasuk penggunaannya sebagai bagian ritual adat Bali," kata Diah Kencana di Gianyar, Rabu (28/4).
Hal itu disampaikan kepada Anggota DPD Dr. Mangku Pastika saat reses yang berlangsung melalui vidcon dari Balinese Farm Cooking & Organic Farm Desa Taro.
Reses tersebut mengangkat tema “Budidaya Bambu dan Energi Arang Bambu” yang dipandu Tim Ahli Nyoman Baskara didampingi Ketut Ngastawa.
Dari sisi konservasi, bambu berfungsi sebagai tanaman di lahan kritis dan penyimpan air 
Namun masyarakat Bali belum fokus mempertahankan budidaya bambu. Padahal banyak daerah luar Bali yang tertarik mengembangkan bambu.
”Yang sekarang dinikmati adalah bambu yang ditanam para pendahulu. Dengan kondisi itu, industri mulai kekurangan bahan baku bambu,” jelasnya.
Padahal umur bambu bisa mencapai ratusan tahun, pemeliharaan tanaman tersebut cukup mudah. Kondisi itu diyakini menjadi tanaman yang bisa diwariskan. 
Saat ini bambu juga dikembangkan menjadi arang untuk energi baru terbarukan. Dikatakan Diah, bambu di Bali bernilai ekonomis tinggi, di antaranya bambu petung, bambu tabah untuk pangan (rebung) dan jenis lainnya seperti untuk gedek, dll.
Ditambahkan, bambu dapat tumbuh di lahan kritis dan bertahan sampai ratusan tahun. Bambu juga berfungsi penahan air dan dikelola menjadi kawasan wisata. 
Sementara itu, Pengelola Balinese Farm Cooking Wayan Mudin dan chef sekaligus guide Wayan Mudika menambahkan, wisatawan yang belajar sangat tertarik dengan lingkungan serta olahan pangan bambu (rebung). 
“Rebung kami sebagai makanan spesial, olah jadi pepes, kare, lumpia (spring roll) dan pengganti kulit babi (ramas). Dan tamu sangat surprise karena bisa langsung terlibat dari pencarian rebung hingga pengolahannya,” tambah Mudika.
Makanan jenis ini, menjadi hal baru bagi wisatawan, karena mereka belum banyak mengetahui makanan jenis tersebut.
Tempat tersebut merupakan hasil pembinaan Pakar Bambu Dr Pande Ketut Diah Kencana untuk memperkenalkan makanan bambu Rebung.
Namun diakui karena pandemi, aktivitas di farm seluas setengah hektar itu kini terhenti. Dalam kondisi normal rata-rata tiap hari ada sekitar 40 turis yang belajar dalam dua sesi.
Untuk itu, Mangku Pastika mengharapkan  bambu memiliki banyak varietas dapat  bermanfaat baik dari sisi ekonomi dan lingkungan.
“Selain untuk kerajinan dan melindungi lahan kritis, bambu bisa menjadi pendukung bahan pangan. Rebungnya bahkan diekspor,” ujar  Mangku Pastika.
Menurutnya, bambu sangat penting bagi lingkungan selain memiliki nilai ekonomi tinggi. 
Bambu dapat dibudidayakan di lahan kritis serta mampu menyimpan air. Manfaatnya juga semakin banyak untuk industri, energi baru terbarukan serta pangan. 
“Bambu tidak perlu pupuk dan pestisida. Ini adalah tanaman penyelamat lingkungan,” ujar mantan Gubernur Bali dua periode ini.
Hal itu yang perlu digaungkan oleh masyarakat sehingga ada kelompok masyarakat yang serius mengembangkan pertanian bambu.
Budidaya komoditi pertanian tambah Mangku Pastika juga bisa menjadi daya tarik wisatawan. 
Maka dari itu, model pengembangan wisatawan dengan melibatkan mereka langsung (cooking class) akan memberikan kesan yang mendalam.
Dicontohkan pula, di Sanur turis diajak tanam terumbu karang, lalu setelah panen disuruh datang lagi untuk panen. Di beberapa tempat turis terlibat tanam padi lalu ikut saat panen. Jadi ini bisa jadi kegiatan wisata. 
Pada akhir reses, Mangku Pastika diwakili Ketut Ngastawa menyerahkan bantuan kepada sejumlah perajin. (ART/001) 


Baca Artikel Menarik Lainnya : Wagub Cok Ace Apresiasi Prestasi FOKBI Bali

Terpopuler

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

Nuanu Menetapkan Pura Beji Dalem Segara sebagai Pura Kawasan, Pelestarian Budaya Bali

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

545 Personel Gabungan Amankan IBTK 2026, Didukung CCTV dan Sistem Informasi Terpadu

Sewa Pertokoan di Dalung

Sewa Pertokoan di Dalung

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

KPU Kota Denpasar Pastikan Tak Ada Pemilih Terlewat dalam Pleno PDPB Triwulan I Tahun 2026

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Putri Koster Yakin 85% Program Desa Terwujud dengan Kinerja Kader yang Serius

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng

Lestarikan Seni Budaya Bali, Gubernur Koster Hadiah Rp 50 Juta untuk Dua Sanggar Seni Tari dan Tabuh di Buleleng