Jakarta (Atnews) - Bulan Trisna Djelantik, keturunan raja terakhir Karangasem yang juga dikenal sebagai maestro Tari Legong meninggal dunia, Rabu (24/2) dini hari.
Kepulangan penari senior itu pun mengejutkan sejumlah tokoh publik. Maestro Tari Legong yang juga dokter spesialis THT, Bulan Trisna Djelantik .
Ungkapan duka itu antara lain diungkapkan Juru Bicara Presiden RI Fadjroel Rachman, dalam akun Twitter resminya, @fadjroeL, pada Rabu (24/1) pukul 11.35 WIB. Aktivis dan penulis ini mengatakan bahwa sosok Bulantrisna akan selalu dikenang sebagai tokoh yang melestarikan kebudayaan nasional. "Innalillahi w.r. berpulang ke hadirat Allah SWT Ibu Dr. Bulantrisna Djelantik, pada Rabu, 24 Februari 2021. Beliau maestro tari & kebudayaan Indonesia. Selamat jalan, kami mengenangmu sebagai pelestari kebudayaan Indonesia dan pejuang kebhinnekaan. Senang bisa mengenal Ibu ~ FR," tulisnya di akun Twitter tersebut.
Bulan Trisna Djelantik menggeluti dunia tari pertama kali di puri sang kakek. Kakek dari Bulantrisna bernama Anak Agung Anglurah Djelantik yang merupakan raja terakhir dari Kerajaan Karangasem, Bali.
Ia yang mencari dan memanggil guru tari untuk Bulantrisna. Guru yang dipanggil oleh sang kakek antara lain Bagus Bongkasa dan Gusti Biang Sengog.
Bulantrisna kecil mengenal tari tradisional Bali ketika usia 7 tahun dan pada saat usianya menginjak 10 tahun Bulantrisna diundang oleh Presiden Soekarno ke Istana Presiden di Tampaksiring, Gianyar, Bali untuk menghibur para tamu Istana.Mentor utamanya adalah Anak Agung Mandera dan Gusti Made Sengog, penari Legong generasi pertama.
Di usia 11 tahun, Bulantrisna menari oleg di Jakarta untuk pertama kalinya.
Menurutnya menari merupakan pelepasan emosi, kreativitas, kegembiraan, bergerak dengan penuh penjiwaan, dan sebagai sarana berdoa.
Kecintaan Ayu Bulantrisna Djelantik pada tari tak hanya sebatas gerak saja, tetapi ia juga mendirikan bengkel tari yang diberi nama "Ayu Bulan" pada tahun 1994. Salah satu kreasi tari ciptaan yang telah dibuatnya ialah tari Legong Asmarandana.
Tahun 1971 Bulantrisna memutuskan untuk menikah dan berhenti menari. Pada akhirnya setelah menikah Bulantrisna tetap menari ketika melanjutkan studi di Jerman, Belanda dan Belgia.
Sampai saat inipun Bulantrisna tetap aktif menekuni dunia tari bahkan setelah pensiun sebagai pegawai negeri dan staff pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. (z/001)